BACAMALANG.COM – Musisi sekaligus penulis lagu asal Indonesia, Dimas Sufi, kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk “Lihat Langit Itu” yang resmi dirilis pada 16 Juni 2026 di berbagai platform musik digital.
Mengusung warna musik alternative rock, lagu ini lahir dari pengalaman pribadi Dimas dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh tantangan. Saat langkah terasa berat dan jalan keluar seolah tak terlihat, ia menemukan sebuah pesan sederhana yang kemudian menjadi inspirasi utama lagu tersebut.
Pesan itu berasal dari sang ayah. Ketika menghadapi kebingungan atau kesulitan, Dimas selalu diingatkan untuk melihat langit dan cakrawala. Bukan karena langit mampu menyelesaikan masalah, melainkan karena luasnya cakrawala dapat membantu seseorang memperluas cara pandang dan tidak terjebak pada persoalan yang sedang dihadapi.
“Dulu ayah saya pernah bilang, kalau sedang mentok atau sulit menemukan jalan keluar, coba lihat langit dan cakrawala. Biar cara pandang kita ikut meluas. Kadang jalan keluarnya bukan tidak ada, tetapi kita sedang melihat semuanya dari ruang yang terlalu sempit,” ungkap Dimas Sufi.
Melalui “Lihat Langit Itu”, Dimas mengajak pendengar untuk tetap tenang, memperluas perspektif, dan menjaga semangat agar tidak padam. Lagu ini tidak menawarkan solusi instan, melainkan menjadi pengingat bahwa terkadang seseorang hanya perlu berhenti sejenak, mengambil napas, lalu kembali melanjutkan perjalanan hidup.
Dari sisi musikal, lagu ini diproduseri oleh Reney Karamoy, personel band SCALLER, sementara Dimas sendiri bertindak sebagai vokalis, penulis lagu, sekaligus executive producer.
“Lihat Langit Itu” kini sudah dapat dinikmati melalui Spotify, Apple Music, YouTube Music, serta berbagai layanan streaming musik digital lainnya.
Dimas Sufi dikenal sebagai penyanyi solo dan penulis lagu yang menggunakan nama panggung tersebut sejak 2016. Karya-karyanya banyak terinspirasi dari pengalaman pribadi, kegelisahan sosial, hingga perjalanan hidup yang membekas.
Sebelumnya, ia telah merilis sejumlah lagu seperti “Intimidasi Dunia Maya”, “Berita Imitasi”, “Tenggelam”, “Dia”, “Jangan Menyerah! Sebuah Pesan Abah”, dan “Seandainya”.
Selain bermusik, Dimas juga aktif sebagai produser di industri kreatif melalui production house dan agency. Meski kesibukan tersebut sempat membuat perjalanan musiknya berjalan tidak selalu konsisten, ia tetap menjadikan musik sebagai ruang untuk menyimpan cerita, pengalaman, dan pesan-pesan personal yang ingin terus dibagikan kepada para pendengarnya.
Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































