BACAMALANG.COM – Upaya mendorong praktik pertanian yang ramah lingkungan terus dilakukan kalangan akademisi. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan insektisida alami yang digelar Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya di Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan ini diprakarsai dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan FBiPK Universitas Brawijaya, Silvi Ikawati, sekaligus menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang disinergikan dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa di bawah bimbingannya.
Pelatihan menyasar Kelompok Tani Desa Ngenep sebagai mitra utama. Menurut Silvi, kelompok tani memiliki peran strategis dalam pengembangan sektor pertanian di tingkat desa sehingga perlu dibekali pengetahuan mengenai teknologi pertanian yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan.
“Kegiatan ini merupakan bentuk diseminasi ilmu yang telah dikembangkan melalui proses pendidikan dan penelitian di kampus agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Silvi menjelaskan, pelatihan tersebut juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger/Tanpa Kelaparan), SDG 12 (Responsible Consumption and Production/Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 15 (Life on Land/Menjaga Ekosistem Daratan).
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan berbagai bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai insektisida, termasuk bahan yang selama ini dianggap limbah. Berbagai tanaman di sekitar lingkungan, seperti rempah-rempah, gulma, hingga limbah jamu, serbuk cangkang telur, dan puntung rokok, diketahui memiliki potensi sebagai bahan pengendali hama maupun penyakit tanaman.
Sebagai praktik langsung, peserta diajarkan membuat insektisida alami berbahan dasar ekstrak daun kemangi. Proses pembuatannya tergolong sederhana, yakni melalui penyulingan daun kemangi untuk menghasilkan minyak atsiri yang kemudian dimanfaatkan sebagai atraktan hama, seperti lalat buah.
Melalui kegiatan ini, Silvi berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menerapkan sistem pertanian berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan terhadap insektisida berbahan kimia.
Ia juga berharap program pengabdian di Desa Ngenep tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat terus berlanjut melalui kolaborasi dan pendampingan pada program-program berikutnya sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkesinambungan oleh masyarakat.
Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































