BACAMALANG.COM – Amadanom Coffee & Culture Festival (AMKOFEST) 2026 tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni dan kegiatan budaya. Festival yang digelar di kawasan BUMDesa Amanah Amadanom, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Sabtu (8/8/2026), tersebut menempatkan produksi kopi sebagai potensi utama Desa Amadanom, mulai dari kebun, proses panen dan pascapanen, hingga pengolahan dan penyajiannya.
Amadanom merupakan salah satu desa penghasil kopi di Kecamatan Dampit. Tradisi bertani kopi telah berkembang secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat. Kebun kopi tidak hanya menjadi ruang produksi, tetapi juga bagian dari lanskap dan keseharian warga Amadanom.
Festival ini mengangkat kopi robusta dan budaya lokal tersebut. Festival digelar untuk mengundang kehadiran pengunjung untuk menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Amadanom sebagai desa penghasil kopi sekaligus membuka ruang interaksi langsung antara masyarakat, petani, pelaku UMKM, komunitas kopi, maupun generasi muda
Ketua AMKOFEST adalah Havidz Ageng Prakoso, yang memimpin tim independen dengan dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang disalurkan melalui LPDP.
“Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan potensi kopi Amadanom melalui festival yang memadukan budaya, edukasi, ekonomi kreatif, dan pariwisata,” ungkapnya di sela kegiatan.
Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengatakan, sejumlah agenda yang digelar meliputi pameran dan bazar kopi serta UMKM lokal, literasi kopi dari hulu ke hilir, pengenalan kebun dan proses produksi kopi masyarakat, pelatihan barista, demo brewing, hingga pertunjukan seni budaya. Dimana rangkaian tersebut memperlihatkan perjalanan kopi Amadanom dari komoditas yang diproduksi petani hingga menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan budaya.
Berdasarkan data penyelenggara, produktivitas kebun kopi di kawasan Amadanom mencapai sekurangnya 800 kilogram per hektare setiap tahun. Pada puncak musim panen, produksinya dapat meningkat hingga sekitar 1.200 kilogram biji kopi kering per hektare.

Ketua AMKOFEST Havidz Ageng Prakoso saat memberi sambutan. (ist)
“Oleh karena itu, potensi tersebut menempatkan produksi kopi sebagai salah satu kekuatan ekonomi desa. Setiap tahapan, mulai dari budidaya tanaman, pemetikan buah kopi, pengolahan pascapanen, hingga menghasilkan biji kopi kering, melibatkan pengetahuan dan aktivitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi,” paparnya.
Amadanom juga berada dalam kawasan kopi AMSTIRDAM, akronim dari Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit. Dalam dokumen AMKOFEST, kopi dari kawasan tersebut disebut telah menjangkau pasar internasional hingga 45 negara.
Sekretaris Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UMM ini menjelaskan, kekuatan kopi Amadanom juga diterjemahkan ke dalam rangkaian budaya melalui Tari Kopi. Pertunjukan tersebut menjadi persembahan untuk menandai berakhirnya masa panen kopi di Amadanom sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat setelah melewati musim panen tahun ini.
Sementara sktivitas masyarakat dalam bertani kopi diangkat menjadi seni pertunjukan. Mulai dari kehidupan di kebun, proses panen, hingga hasil produksi kopi diterjemahkan melalui gerak tari sebagai representasi hubungan masyarakat dengan komoditas yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
“Tari Kopi ini sekaligus menunjukkan bahwa kopi di Amadanom tidak berhenti sebagai komoditas pertanian. Di balik produksi kopi terdapat tradisi, pengetahuan lokal, interaksi sosial, serta kebudayaan yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat desa,” terang Havidz.
Menariknya, pengunjung juga diajak mengenal perjalanan kopi dari hulu hingga hilir. Festival mempertemukan aspek budidaya, panen, pascapanen, pengolahan, penyajian, hingga pemasaran kopi dalam satu ruang kegiatan.
Sebagai bagian dari festival, penyelenggara membagikan 500 cup kopi robusta Amadanom secara gratis kepada pengunjung. Kopi tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mencicipi langsung hasil produksi kopi yang berasal dari kawasan Amadanom. Pembagian kopi gratis sekaligus menjadi bentuk promosi produk unggulan desa. Pengunjung tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga mendapatkan pengalaman mencicipi produk di wilayah tempat kopi tersebut ditanam, dipanen, dan diproduksi oleh masyarakat setempat.
Sedangkan bazar yang digelar selama festival turut memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk lokal. Ada pula pelatihan barista dan demo brewing yang turut mengenalkan keterampilan pengolahan serta penyajian kopi, terutama kepada generasi muda.
REspon masyarakat terhdap penyelenggaraan AMKOFEST 2026 ini ternyata cukup baik, dengan kehadiran hampir 800 pengunjung. Mereka berasal dari Amadanom maupun luar desa yang datang untuk mengikuti berbagai rangkaian kegiatan.
“Jumlah pengunjung tersebut menjadi salah satu capaian dalam upaya memperkenalkan potensi produksi kopi Amadanom kepada khalayak lebih luas,” imbuhnya.
Ia menegaskan, festival ini setidaknya membuka kesempatan bagi pengunjung untuk melihat secara lebih dekat hubungan antara petani, kebun, hasil produksi, pelaku UMKM, komunitas kopi, dan konsumen.
Havidz juga menekankan, AMKOFEST dikembangkan dengan pendekatan partisipatif dan kolaboratif. Penyelenggara melibatkan petani kopi, Karang Taruna, pelaku UMKM, perangkat desa, komunitas kopi, pelaku kreatif, media, serta akademisi dalam berbagai tahapan kegiatan.

Kekuatan kopi Amadanom juga diterjemahkan ke dalam rangkaian budaya melalui Tari Kopi. (ist)
Hal ini dibwujudkan dengan keterlibatan UMM sebagai mitra akademik dalam pendampingan kegiatan, penguatan kapasitas, dan dokumentasi. Kolaborasi ini juga melibatkan Pemerintah Desa Amadanom, kelompok tani, komunitas kopi, pelaku usaha, serta komunitas seni dan kreatif.
Havidz mengatakan, AMKOFEST diarahkan untuk memperkuat pengenalan Amadanom sebagai desa berbasis produksi kopi dan budaya. Menurutnya, potensi produksi kopi menjadi modal penting untuk mengembangkan identitas Amadanom. Ia menilai, produktivitas kebun yang mencapai ratusan kilogram biji kopi kering per hektare, komoditas tersebut memiliki peluang untuk terus dikembangkan melalui penguatan kualitas produk, pengolahan, pemasaran, serta pengembangan wisata berbasis kopi.
“Kolaborasi yang terjalin juga menjadi ruang untuk memperluas jejaring antara desa, petani, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, pemerintah, dan perguruan tinggi, dengan harapan dapat mendorong pengembangan potensi kopi secara lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat.
“Ke depan, AMKOFEST diharapkan dapat memperkuat citra Amadanom sebagai destinasi wisata berbasis kopi dan budaya. Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui wisata minat khusus, seperti kunjungan kebun kopi, pengenalan proses produksi, pengalaman pengolahan dan penyeduhan kopi, hingga pengembangan produk UMKM berbasis komoditas lokal,” pungkas Havidz.
Dengan demikian, kopi Amadanom tidak hanya dikenal sebagai hasil panen, tetapi sebagai produk yang membawa cerita tentang kebun, petani, proses produksi, tradisi, dan budaya masyarakatnya.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































