BACAMALANG.COM — Pemerintah Kabupaten Malang memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di tengah kondisi kemarau yang meningkatkan risiko.
Hal ini dibahas dalam Rapat Koordinasi Penetapan Status Keadaan Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Malang Tahun 2026 yang digelar BPBD Kabupaten Malang pada Kamis, (13/8/2026).
Berdasarkan pemetaan BPBD, risiko Karhutla di Kabupaten Malang mencapai luas 1.043,31 km² atau 35,05% dari wilayah Kabupaten Malang. Estimasi penduduk yang terpapar sebanyak 692.739 jiwa dengan tingkat risiko rendah sampai tinggi.
Sementara risiko kekeringan mencakup luas 1.609,80 km² atau 54,07% dengan estimasi penduduk terpapar 532.762 jiwa. Tingkat risikonya berada pada kategori rendah sampai sedang.
Ada 3 kawasan prioritas pengawasan Karhutla yaitu Kompleks Bromo-Tengger-Semeru, Gunung Kawi, dan lereng Gunung Arjuno. Ketiganya secara historis kerap mengalami kebakaran vegetasi saat kemarau.
Kabupaten Malang memiliki luas 3.531 km² yang meliputi 33 kecamatan. Potensi ancaman Karhutla terdapat di 26 kecamatan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Malang, Purwoto, S.Sos., M.Si mengatakan, tiga wilayah itu menjadi fokus antisipasi setiap tahun. “Secara umum, Kabupaten Malang memiliki tiga titik utama potensi kebakaran hutan, yaitu kawasan Bromo-Tengger-Semeru, kawasan Gunung Kawi, serta lereng Gunung Arjuno. Tiga wilayah ini yang dari tahun ke tahun terus kami antisipasi kesiapsiagaannya,” ujarnya, Kamis (13/8/2026).
Untuk distribusi air bersih, pada tahun 2023 BPBD menyalurkan 10.009.900 liter dengan 15 unit truk tangki. Sedangkan tahun 2024 sebanyak 5.725.650 liter dengan 11 unit truk tangki.
Data kebakaran lahan mencatat pada tahun 2023 terjadi 103 kejadian. Tahun 2024 tercatat 18 kejadian Karhutla. Total kejadian kebakaran lahan mencapai 92 kejadian.
Untuk penanganan kekeringan, BPBD menyiapkan skema distribusi air bersih dengan jadwal dan rute prioritas ke pemukiman, fasilitas kesehatan, dan sekolah.
Selanjutnya koordinasi sumber daya air bersama PDAM, Dinas PUPR/BBWS untuk titik suplai air dan pemanfaatan sumur dalam/artesis.
BPBD juga menyiapkan bantuan agroklimat dengan berkolaborasi bersama Dinas Pertanian untuk inventarisasi pompa air irigasi guna mengamankan lahan pertanian yang terancam puso.
Untuk penanganan Karhutla, dilakukan patroli terpadu berkala di kawasan rawan bersama TNI, Polri, Manggala Agni, dan Dinas Kehutanan. BPBD juga menyiapkan kesiapan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)/hujan buatan melalui koordinasi ke BNPB dan BRIN jika situasi memburuk.
Selain itu mempersiapkan dukungan water bombing dan helikopter patroli dari tingkat provinsi/pusat.
Rakor dihadiri Perhutani, Tahura, TNI, Polri, PDAM, Balai Besar TNBTS, dinas pemadam kebakaran, jajaran kecamatan, lembaga pendidikan, lembaga penyiaran publik, hingga relawan tingkat lokal.
Sebagai contoh keberhasilan, penanganan kebakaran di sektor Bromo wilayah Kabupaten Malang. “Keberhasilan penanganan di sektor Malang tidak lepas dari kesiapsiagaan bersama, termasuk pengerahan potensi relawan desa, paguyuban kendaraan wisata, dan unsur Satpol PP. Hal ini berhasil memutus perambatan api agar tidak menyeberang ke kawasan permukiman maupun hutan lindung yang lebih dalam,” jelas Purwoto.
Dalam penanganan kekeringan, kendala yang dihadapi antara lain keterbatasan jumlah armada truk tangki, keterbatasan petugas distribusi dibanding cakupan wilayah, keterbatasan tandon air, selang spiral, dan alkon, serta jarak sumber mata air terdekat yang cukup jauh dari lokasi terdampak.
Untuk Karhutla, kendalanya adalah lokasi kebakaran di lereng hutan yang sulit dijangkau kendaraan darat, tingginya risiko kecelakaan kerja saat pemadaman di titik ekstrem, keterbatasan personel berkualifikasi, serta tantangan koordinasi multipihak dan pemantauan di wilayah luas.
Kendala teknis di lapangan juga menjadi perhatian. Medan terjal membuat kendaraan pemadam tidak selalu menjangkau titik api. Sumber air alami di pegunungan berkurang saat kemarau.
Pemadaman udara via helikopter bergantung pada jarak pandang dan kondisi awan saat pengambilan air. “Kendala fisik di lapangan dan faktor cuaca memang menuntut kita untuk bergerak lebih cepat sejak potensi titik api pertama kali terdeteksi,” terangnya.
BPBD mengajak masyarakat di sekitar lereng gunung untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga lingkungan, dan tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu Karhutla. “Kami terus mengimbau masyarakat sekitar kawasan lereng gunung untuk ikut menjaga lingkungan serta tidak melakukan aktivitas pembakaran apa pun yang memicu karhutla,” tandasnya.
Dengan penguatan koordinasi dan kesiapsiagaan lintas sektor, BPBD Kabupaten Malang berharap potensi bencana selama musim kemarau dapat diantisipasi lebih dini sehingga dampaknya terhadap masyarakat, kawasan hutan, maupun lingkungan dapat ditekan.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































