Oleh: Muhammad Umar
Fenomena sound horeg terus meramaikan sudut-sudut desa hingga kota di Jawa Timur. Dengan dentuman musik yang menggelegar dan panggung hiburan yang meriah, sound horeg telah menjelma menjadi hiburan rakyat yang digemari berbagai kalangan. Tidak sedikit yang menyambutnya sebagai ruang ekspresi komunitas lokal.
Namun, di balik semaraknya hiburan ini, muncul kontroversi yang mengundang perhatian publik, terutama soal dampaknya terhadap kenyamanan masyarakat. Saya sangat mendukung sound horeg sebagai ekspresi budaya rakyat, tapi tetap harus diatur supaya tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan warga.
Saya menilai kehadiran sound horeg membawa manfaat ekonomi yang nyata. Banyak warga mendapatkan penghasilan dari sewa alat, operator, hingga penjual makanan di sekitar lokasi acara. Permintaan terhadap sound horeg terus meningkat, dan harga sewanya bisa mencapai puluhan juta rupiah per acara. Di beberapa tempat, pertunjukan berlangsung lebih dari 12 jam.
Namun, di balik semaraknya hiburan rakyat ini, kontroversi muncul akibat kebisingan berlebihan dan konten yang dianggap tidak sopan. Suaranya sangat keras, kadang berlangsung hingga malam hari, dan isi acaranya dinilai tidak sesuai norma. Hal ini sangat mengganggu kenyamanan warga, terutama mereka yang sedang sakit atau ingin beribadah. Tingkat kebisingan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gangguan tidur, stres, dan suasana lingkungan yang tidak kondusif.
Beberapa daerah telah menerapkan aturan penggunaan sound horeg, namun pelaksanaannya belum maksimal. Bahkan, ada wacana menjadikan sound horeg sebagai ikon khas Malang. Sanksi bagi pelanggaran meliputi teguran, denda, hingga pembubaran acara jika dinilai meresahkan.
Saya menyarankan pengaturan waktu, volume, dan lokasi pertunjukan agar hiburan tetap bisa dinikmati tanpa mengganggu masyarakat. Meski kontroversial, sound horeg menyimpan potensi budaya. Jika dimanfaatkan untuk acara seni, sholawatan, atau musik tradisional, ia bisa menjadi sarana pelestarian budaya lokal dan mendukung pariwisata desa.
Solusi terbaik adalah edukasi bagi pelaku, kesadaran bersama, dan regulasi yang dimulai dari tingkat desa. Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam memberi edukasi, bukan sekadar menyoroti sisi negatif.
*) Penulis: Muhammad Umar, aktivis pemuda, Founder Kampung Digipreneur AI, dan konten kreator edukasi Islam di media sosial.
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.





















































