BACAMALANG.COM – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan Certified Wound Clinician Care Associate (CWCCA), program dasar perawatan luka modern yang telah terakreditasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas penanganan luka kronis dan kompleks, sekaligus menekan angka amputasi yang masih menjadi tantangan di Indonesia.
Dosen Departemen Keperawatan FIKES UB sekaligus pakar dan konsultan perawatan luka, Ns. Ahmad Hasyim Wibisono, M.Kep., M.Ng., Sp.Kep.MB., menjelaskan bahwa pelatihan tersebut membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam menangani berbagai jenis luka yang sulit sembuh, mulai dari luka diabetes, luka kanker, luka tekan pada pasien stroke, hingga luka bakar.
Menurutnya, penanganan luka kronis tidak cukup dilakukan dengan metode konvensional. Dibutuhkan teknik khusus, didukung alat serta balutan modern agar proses penyembuhan berjalan optimal.
“Di Indonesia, penanganan luka kronis masih menghadapi berbagai kendala. Di banyak fasilitas pelayanan kesehatan, metode yang digunakan masih bersifat konvensional. Akibatnya, tidak sedikit pasien, terutama penderita luka diabetes, yang akhirnya harus menjalani amputasi karena luka tidak kunjung sembuh dan mengalami infeksi,” ujar Ahmad Hasyim.
Ia menegaskan bahwa amputasi bukanlah satu-satunya jalan keluar bagi penderita luka kronis. Dengan pendekatan perawatan luka modern, banyak kasus yang sebelumnya direkomendasikan untuk amputasi masih dapat diselamatkan.
Perawatan luka modern, lanjutnya, tidak hanya sebatas membersihkan atau mengganti balutan. Penanganan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari debridement atau pembuangan jaringan mati, pengendalian infeksi, menjaga kelembapan luka, merangsang pertumbuhan jaringan sehat, hingga membantu pembentukan kulit baru.
“Perawatan luka modern memiliki strategi yang komprehensif. Bahkan pada beberapa kasus luka yang sudah sangat berat, selama kondisi pasien masih memungkinkan, anggota tubuh tetap dapat dipertahankan sehingga amputasi dapat dihindari,” katanya.
Ahmad Hasyim mengungkapkan, metode tersebut telah diterapkan oleh PedisCare sejak 2015. Selama lebih dari satu dekade, banyak pasien yang sebelumnya dirujuk untuk amputasi berhasil diselamatkan melalui pendekatan perawatan luka modern.
Ia menilai, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa luka kronis pasti berujung amputasi. Padahal, persepsi itu muncul akibat minimnya informasi serta belum meratanya kompetensi tenaga kesehatan dalam menerapkan teknik perawatan luka modern.
Selain itu, keterbatasan pembiayaan juga menjadi tantangan. Sejumlah alat dan bahan perawatan luka modern belum sepenuhnya terakomodasi dalam sistem pembiayaan kesehatan sehingga penggunaannya masih terbatas di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
“Berdasarkan berbagai penelitian, metode perawatan luka modern justru lebih efektif. Meski biaya per tindakan lebih tinggi, proses penyembuhan lebih cepat, frekuensi perawatan berkurang, dan yang paling penting mampu mencegah amputasi. Dalam jangka panjang, metode ini lebih efisien,” jelasnya.
Menurutnya, keberhasilan mencegah amputasi bukan hanya menyelamatkan anggota tubuh pasien, tetapi juga menjaga kualitas hidup mereka.
“Ketika seseorang kehilangan kaki akibat amputasi, dampaknya bukan hanya pada kesehatan, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi. Mereka bisa kehilangan pekerjaan dan kesulitan menafkahi keluarga. Karena itu, pencegahan amputasi menjadi hal yang sangat penting,” tambahnya.
Pada hari pertama pelatihan, peserta mendapatkan materi dasar meliputi etika dan aspek legal praktik perawatan luka, anatomi serta fisiologi penyembuhan luka, asesmen luka, hingga wound bed preparation sebagai fondasi penanganan luka modern.
Melalui pelatihan ini, FIKES UB menargetkan para peserta mampu melakukan penanganan luka kompleks sesuai standar, sekaligus menjadi agen edukasi bagi tenaga kesehatan lainnya maupun masyarakat terkait pencegahan luka dan pentingnya penanganan yang tepat untuk menghindari amputasi.
Peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Malang, Sidoarjo, Kediri, Surabaya, Gresik, Lamongan, Tarakan, hingga Nabire, Papua Tengah.
Salah satu peserta, Nurdiyah, perawat BLUD RSUD Nabire, Papua Tengah, mengaku mengikuti pelatihan tersebut untuk memperbarui pengetahuan mengenai perawatan luka modern.
Selama ini, kata dia, penanganan luka di rumah sakit tempatnya bertugas masih menggunakan metode konvensional, seperti pembersihan dengan larutan NaCl dan balutan standar.
“Kami ingin meningkatkan kompetensi agar setelah kembali ke Nabire dapat menerapkan metode perawatan luka modern kepada pasien sekaligus membagikan ilmu ini kepada rekan-rekan tenaga kesehatan di rumah sakit,” ujarnya.
Nurdiyah berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pelayanan di RSUD Nabire, termasuk mendorong pengadaan alat dan bahan perawatan luka modern.
“Dengan metode yang lebih modern, kami berharap proses penyembuhan pasien menjadi lebih cepat, lebih nyaman, dan angka komplikasi maupun amputasi dapat ditekan,” pungkasnya.
Pewarta: Slamet Mulyono
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































