BACAMALANG.COM – Pesatnya perkembangan Generative Artificial Intelligence (AI) mendorong dunia pendidikan untuk melakukan rekonstruksi kompetensi guru agar mampu beradaptasi dengan ekosistem pembelajaran digital. Isu ini menjadi perhatian kalangan akademisi yang menilai transformasi teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas tenaga pendidik.
Di era digital, peran guru tidak lagi sebatas menyampaikan materi pelajaran. Guru dituntut memiliki literasi digital yang baik, mampu merancang pembelajaran berbasis AI, serta memahami etika pemanfaatan teknologi agar proses belajar mengajar tetap humanis, kreatif, dan bermakna.
Sejumlah tantangan masih dihadapi, mulai dari minimnya pemahaman guru terhadap teknologi AI, potensi ketergantungan pada sistem kecerdasan buatan, hingga persoalan etika dan orisinalitas dalam penyusunan materi pembelajaran.
Untuk menjawab tantangan tersebut, berbagai strategi dinilai perlu diterapkan, seperti pelatihan berkelanjutan, pendampingan melalui komunitas guru, serta pemanfaatan AI sebagai alat bantu yang mendukung proses mengajar, bukan menggantikan peran pendidik.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran diharapkan menjadi lebih adaptif, personal, dan inovatif. Generative AI dapat dimanfaatkan guru untuk menyusun bahan ajar, membuat instrumen asesmen, hingga menghadirkan simulasi pembelajaran yang lebih kontekstual sesuai kebutuhan siswa.
Penelitian mengenai rekonstruksi kompetensi guru di era digital berbasis Generative Artificial Intelligence pun dinilai semakin relevan untuk mendukung transformasi pendidikan di Indonesia.
Bakhrul Huda, mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, menegaskan bahwa perubahan ini tidak bisa lagi ditunda.
“Guru di era digital tidak boleh gagap teknologi. Generative AI harus kita tempatkan sebagai mitra mengajar, bukan pesaing. Dengan begitu pembelajaran akan lebih hidup dan relevan dengan kebutuhan siswa,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan kebijakan dari sekolah maupun pemerintah daerah. Menurutnya, penyediaan infrastruktur, akses pelatihan, serta regulasi yang jelas mengenai penggunaan AI di lingkungan pendidikan menjadi faktor penting agar kompetensi guru dapat berkembang secara optimal.
Selain itu, peran orang tua dan masyarakat juga dinilai tidak kalah penting dalam mendukung pemanfaatan AI di dunia pendidikan. Kolaborasi seluruh pihak diharapkan mampu memastikan transformasi digital tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.
Melalui rekonstruksi kompetensi tersebut, guru Indonesia diharapkan mampu menjadi penggerak utama transformasi pendidikan sekaligus memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijak demi menciptakan proses belajar yang lebih efektif, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































