BACAMALANG.COM – Perayaan Dies Natalis ke-19 Universitas Ma Chung pada 7 Juli 2026 tidak hanya mengusung tema “Fostering Transformative Convergence”, tetapi juga menghadirkan identitas visual yang sarat makna. Logo peringatan tersebut merupakan karya dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Ma Chung, Amar Ma’ruf Stya Bakti, S.Pd., M.Pd, yang menerjemahkan semangat kolaborasi dan transformasi ke dalam sebuah desain sederhana namun penuh filosofi.
Seperti disampaikan Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, M.S., M.Sc., tema “Fostering Transformative Convergence” menjadi semangat kampus dalam memperkuat kolaborasi lintas bidang sekaligus mendorong transformasi menuju perguruan tinggi yang semakin berdampak bagi masyarakat.
Semangat tersebut kemudian divisualisasikan Amar melalui logo berbentuk angka 1 dan 9 berwarna biru dan oranye yang dirangkai dengan garis-garis fleksibel dan mengalir.
“Maknanya melambangkan keberlanjutan, kolaborasi, serta perkembangan yang dinamis di tengah perubahan zaman. Bentuk yang saling terhubung mencerminkan konsep transformative convergence, yaitu pertemuan berbagai disiplin ilmu, gagasan, dan para pemangku kepentingan (stakeholders),” jelas Amar kepada BACAMALANG.COM, Sabtu (4/7/2026).
Ia menjelaskan, pemilihan warna juga memiliki filosofi tersendiri. Warna biru melambangkan ilmu pengetahuan, profesionalisme, kepercayaan, dan stabilitas, sedangkan warna oranye merepresentasikan semangat, kreativitas, optimisme, serta energi untuk terus berkarya.

Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Ma Chung, Amar Ma’ruf Stya Bakti, S.Pd., M.Pd, saat menerima penghargaan dari Bupati Malang Sanusi, sebagai juara pertama dalam kompetisi yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Malang pada tahun 2025 lalu. (ist)
Menurut Amar, ide penciptaan logo berangkat dari tema yang diusung Universitas Ma Chung. Kata fostering dimaknai sebagai proses bertumbuh, transformative menggambarkan perubahan dari skala kecil menuju lebih besar yang divisualisasikan melalui bentuk angka satu, sedangkan convergence dimaknai sebagai pertemuan dan keterhubungan berbagai elemen.
“Memang membuat logo sudah menjadi hobi saya. Selama lebih dari 10 tahun terakhir saya menekuni desain grafis, khususnya desain logo, baik untuk kompetisi tingkat nasional maupun internasional, secara individu maupun bersama tim,” ujarnya.
Pria asal Karangploso, Kabupaten Malang itu juga memasukkan unsur budaya dalam desainnya. Pada ujung lengkungan angka satu, ia membentuk siluet kepala kuda sebagai representasi Tahun Kuda dalam budaya Tionghoa yang menjadi salah satu identitas Universitas Ma Chung.
“Tahun ini adalah Tahun Kuda, sehingga unsur tersebut menambah karakter budaya Mandarin yang selama ini menjadi bagian dari identitas Ma Chung,” terangnya.
Amar yang juga merupakan pendiri Jukok Studio tersebut menegaskan, bahwa sebuah logo bukan sekadar tampilan visual yang menarik, melainkan harus memiliki konsep dan filosofi yang kuat agar mampu merepresentasikan identitas institusi.
“Konsep menjadi bagian paling penting dalam sebuah logo. Desain harus mampu menggambarkan karakter, latar belakang, tema besar, hingga visi yang ingin disampaikan sehingga identitasnya benar-benar terasa,” ungkapnya.
Sebagai desainer grafis, Amar juga memperhatikan aspek implementasi logo pada berbagai media. Karena itu, desain yang dibuat telah disiapkan dalam berbagai konfigurasi agar tetap konsisten saat diaplikasikan pada media cetak maupun digital, seperti desain Logo Pariwisata dan Budaya Kabupaten Malang, yang mengantarnya menjadi Juara Pertama dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Malang pada tahun 2025 tersebut.
“Ada pula elemen logo yang mengatur konfigurasi penggunaannya pada berbagai media, termasuk variasi warna, tipografi, hingga pedoman penggunaan logo yang benar,” tambahnya.
Bagi Amar, dipercaya merancang logo Dies Natalis ke-19 Universitas Ma Chung menjadi kebanggaan tersendiri. Ia berharap identitas visual tersebut mampu merepresentasikan semangat kampus dalam terus bertumbuh dan bertransformasi.
“Saya berharap semoga Ma Chung menjadi universitas yang unggul,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Ma Chung, Wawan Eko Yulianto, S.S., M.A., Ph.D., mengungkapkan bahwa panitia Dies Natalis ke-19 memang secara khusus mempercayakan perancangan logo kepada Amar.
“Sebagai dosen DKV, Amar membuat beberapa alternatif desain lengkap dengan penjelasan filosofi yang mendasarinya. Berdasarkan pilihan dari pimpinan universitas dan panitia, akhirnya diputuskan logo yang saat ini digunakan,” ujarnya.
Wawan berharap Amar terus membagikan passion, pengalaman, dan motivasinya kepada para mahasiswa. Menurutnya, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Ma Chung memiliki keunggulan karena para mahasiswanya tidak hanya dibimbing oleh akademisi yang menguasai bidangnya, tetapi juga oleh praktisi yang telah teruji melalui pengalaman di dunia profesional.
“Tentu harapan kami juga nantinya Amar terus menorehkan prestasi pada masa-masa mendatang. Selain itu, ia juga dapat terus menjadi inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa, karena pengalaman nyata di lapangan akan membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan menggairahkan,” tandas dosen Program Studi Sastra Inggris tersebut.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































