BACAMALANG.COM – Seni tradisional wayang ternyata masih cukup menarik perhatian sebagian generasi Z. Setidaknya hal ini ditampilkan Diana Milasih, mahasiswi angkatan 2023 Program Studi (Prodi) Seni Rupa Murni, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) lewat karyanya.
Dara asal Pemalang ini menghadirkan tokoh-tokoh dalam epos Ramayana lewat goresan cat air sebagai bagian dari Art on Postcar(t)d Exhibition, atau pameran kartu pos di galeri SAC FIB A UB.
“Temanya terinpirasi kisah Ramayana karena saya memang senang dengan wayang,” ungkapnya saat ditemui BacaMalang.com di lokasi pameran, Selasa (10/9/2024).
Diana mengaku, dirinya senang dapat berkontribusi dalam pameran yang digelar hingga 18 September 2024 ini.
Ia menggarap tokoh Rama, Shinta maupun Rahwana dalam bentuk kartu pos berukuran A5 tersebut dalam waktu 2 minggu.
“Menyenangkan, karena bisa mengeksplorasi diri saya lewat karakter-karakter itu,” tandas perempuan berhijab ini.

Romy Setiawan (kiri), ketua pameran dan dosen Prodi Seni Rupa Murni, FIB UB di lokasi pameran Art on Postcar(t)d Exhibition di FIB UB, Selasa (10/9/2024). (Nedi Putra AW)
Lain lagi dengan Muhammad Majid. Mahasiswa angkatan 2023 ini menampilkan fotografi untuk diekspresikan ke dalam 10 kartu pos.
“Kebetulan saya senang menangkap momen, jadi saya yang hadirkan sini adalah daily activiy saya, mulai orang potong rambut hingga landscape di seputar Malang,” ujarnya.
Mahasiswa asal Jakarta ini juga mengaku senang menjadi bagian dalam pameran kali ini.
“Tentunya dapat pengalaman yang lebih jauh, serta sebagai ajang ekspresi diri mumpung medianya bebas,” ucapnya.
Diana dan Majid adalah dua dari 150 perupa yang menampilkan karya mereka dalam pameran yang digelar untuk pertama kalinya itu.
Pengunjung pameran disuguhi 1.000 kartu pos dengan beragam warna-warni visual yang seolah menjadi ekspresi pribadi masing-masing perupanya.
Ada yang lewat model manga, sketsa, fotografi hingga pop culture. Beberapa pengunjung juga menyempatkan memotret maupun berswafoto dengan latar belakang karya-karya yang dipamerkan.
“Sebenarnya pemeran ini berangkat dari ide yang berawal dari kegelisahan keseharian dengan pengalaman visual yang didominasi ukuran besar seperti baliho, banner, grafiti, mural, ataupun spanduk yang tidak terkonsep sehingga cenderung membosankan, bahkan menjadi polusi atau sampah visual,” ungkap ketua pelaksana pameran Romy Setiawan S.Pd., M.Sn.
Dikatakan Romy, pameran ini berupaya menepis anggapan bahwa sesuatu yang berukuran besar itu menjadi penting, di mana jika tidak besar maka tidak bisa dipamerkan.
Menurut dosen Prodi Seni Rupa Murni, FIB UB ini, banyak hal kecil yang justru layak untuk dipamerkan atau disajikan, entah itu karya visual ataupun obrolan-obrolan remeh-temeh di warung kopi, yang membuat orang menjadi melambatkan diri atau merenung.
“Alhasil dipilihlah kartu pos ini dengan pertimbangan meminjam ukuran atau formatnya yang kecil seperti ukuran gambar A5. Format ini muncul seperti diary atau buku harian yang kesannnya intim dan personal, sesuatu yang tak muncul jika ditampilkan dalam ukuran besar, istilahnya jadi semacam ruang privat atau ruang pribadi,” terang dosen yang telah menggelar sejumlah pameran lukisan tunggal ini.
Romy menilai, para perupa yang menampilkan karyanya pada media seukuran kartu pos ini bukan hanya potret sebagai gambaran wajah saja, tapi lebih kepada figur, ekspresi, kepribadian maupun pengalaman keseharian.
Romy juga menegaskan, bahwa pada akhirnya pameran ini juga tidak berusaha mengedepankan kartu pos sebagai wacana utamanya, akan tetapi sebagai informasi saja bahwa kartu pos adalah salah satu media komunikasi yang pernah popular pada masanya.
“Kartu pos diperkenalkan Emanuel Hermann seorang Austria pada 10 Oktober 1869, yang pada akhirnya kantor pos Austria kala itu menerbitkan “Correspondenz-Karte” yang pada nantinya di Indonesia dikenal hingga hari ini dengan istilah kartu korespondensi,” urai dia.
Misi dalam pameran perdana ini, imbuh Romy, adalah bagaimana menampilkan karya sebanyak mungkin.
“Target utama pada awalnya malah menghadirkan 2.000 karya,” tukas Romy yang juga menampilkan beberapa lukisannya yang telah dikonversikan ke format kartu pas dalam pameran ini.
Sebagai pelaksana pameran ia berharap pameran ini bisa kontinu untuk digelar secara reguler, misalnya selama 3 bulan sekali misalnya.
“Dari sisi prodi, mahasiswa dapat belajar manajemen seni, karena banyak peluang yang bisa diisi di mana tidak semua orang berkesenian harus menjadi perupanya. Ada yang namanya divisi ‘art handling’ yang menangani pengemasan karya hingga display sesuai standar. Ini peluangnya masih besar,” paparnya.
Sementara tujuan berikutnya yang diharapkan terjadi adalah kaderisasi dari setiap seksi kepanitiaan yang sangat penting untuk mengembangkan potensi masing-masing.
“Saya juga ingin ke depan nantinya pameran seperti ini dapat digelar di setiap fakultas di UB, sehingga tidak berkesan esklusif dan semakin mendekatkan seni ke publik,” pungkas dosen yang juga terlibat dalam Pameran Besar Seni Rupa tema Panji di kota Batu beberapa waktu lalu ini.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor: Aan Imam Marzuki





















































