BACAMALANG.COM – Aksi cepat nelayan di Sendang Biru, Kabupaten Malang, dalam menyelamatkan seekor hiu paus yang terjerat jaring menjadi sorotan positif dalam dunia konservasi laut. Kejadian ini tak hanya menunjukkan meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan nelayan, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan ekowisata bahari di kawasan selatan Jawa Timur.
Hiu paus tersebut terperangkap saat Moch Hadiyanto dan rekan-rekannya sedang menjaring ikan tongkol. Awalnya disangka hiu ganas karena siluet besar berwarna gelap, para nelayan akhirnya menyadari bahwa yang terjerat adalah satwa laut yang dilindungi. Dengan koordinasi antar dua perahu, hiu paus berhasil dilepaskan dalam waktu 30 menit.
“Kesadaran nelayan terhadap pelestarian ekosistem laut semakin meningkat, seiring edukasi yang dilakukan banyak pihak. Mereka kini sadar bahwa menjaga laut sama pentingnya dengan mencari ikan,” ujar Andik Syaifudin, pegiat konservasi sekaligus pendiri Sahabat Alam Indonesia (Salam).
Sendang Biru dikenal memiliki kekayaan biodiversitas laut yang luar biasa—mulai dari paus sei, paus bungkuk, orca, hingga berbagai jenis penyu dan ikan langka seperti mola-mola. Potensi ini, menurut Andik, dapat menjadi fondasi kuat bagi pengembangan ekowisata berbasis konservasi, seperti “Dolphin Trip” dan “Whale Trip”, yang mulai dirintis di kawasan Pantai Kondang Merak.
Selain memberi pemasukan alternatif bagi masyarakat pesisir, model wisata ini juga memperkuat peran nelayan sebagai penjaga ekosistem laut. “Nelayan kini tidak lagi hanya dilihat sebagai pengambil sumber daya, tetapi juga mitra dalam pelestarian,” tambah Andik.
Data dari Konservasi Indonesia mencatat, populasi hiu paus di Indonesia saat ini hanya sekitar 472 ekor, tersebar di beberapa wilayah seperti Teluk Cenderawasih dan Gorontalo. Jumlah ini menunjukkan penurunan drastis—sekitar 50 persen dalam 75 tahun terakhir.
Kejadian di Sendang Biru menjadi bukti bahwa kolaborasi antara edukasi, kearifan lokal, dan konservasi dapat menciptakan perubahan nyata. Lebih dari sekadar kisah penyelamatan, ini adalah momentum penting menuju pengembangan ekowisata bahari berkelanjutan yang menguntungkan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian laut.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga





















































