BACAMALANG.COM – Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Mata air ini yang berasal dari simpanan air Gunung Arjuno, lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua manjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo).
Sungai Brantas mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 11.800 km² atau ¼ dari luas Provinsi Jatim. Panjang sungai utama 320 km mengalir melingkari sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud.
Mengingat dari historis dan kemanfaatan bagi sumber kehidupan dan kelangsungan lingkungan, maka perlu ada peringatan melalui gelaran even agar menggiatkan kembali arti penting nilai nilai serta upaya pelestarian sungai atau sungai Brantas dari hulu sampai hilir.
Selama ini gelaran sungai Brantas kerap dilakukan di berbagai daerah namun jarang di Kota Malang.
“Padahal di kota Malang terdapat 7 Kampung Tematik yang dilintasi Sungai Brantas, sehingga setidaknya 7 Kampung tematik tersebut menjadikan sungai Brantas sebagai tempat untuk berinteraksi dan aktivitas warga,” ujar Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang, Isa Wahyudi di sela ‘Kampanye Bersih Kaliku Putih Kampungku’ di Kampung Putih, Klojen Kota Malang, Senin (25/7/2022).

Isa mengatakan, Forkom Pokdarwis Kota Malang secara serentak menggerakan 7 kampung tematik Kota Malang mengajak kampanye sungai atau kali bersih dalam bentuk Festival Kali Brantas secara bersama-sama.
“Kegiatan ini sebagai upaya perayaan, peringatan terhadap pemanfaatan Kali Brantas, sehingga dampak terhadap kerusakan bisa diminimalisasi. Selain itu juga sebagai upaya peningkatan kualitas lingkungan sungai,” imbuhnya.
Pria yang akrab disapa Ki Demang ini menguraikan, gerakan pelestarian Kali Brantas ini melibatkan warga di sekitar DAS Brantas, komunitas sungai, aktivis pegiat lingkungan, pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan dan stakeholder.
“Kegiatan yang digelar antara lain kampanye pelestarian sumber mata air Brantas, kelestarian alam dan ekosistem lingkungan di Sungai Brantas, menghelat seni pertunjukan dalam bentuk kegiatan ritual adat istiadat sebagai bagian dari pelestarian tradisi dan budaya agar tidak punah, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisata ke kampung tematik di Kota Malang,” bebernya.
Camat Klojen Drs. Heri Sunarko, M.Si, yang hadir didampingi Lurah Klojen Waluyo menuturkan, pihaknya sangat mengapresiasi festival yang digelar dengan melibatkan warga ini.
“Jangan sampai berhenti pada gebyarnya saja, namun harus berkelanjutan. Gerakan ini berjalan dari, oleh dan untuk warga, dan pemerintah siap untuk mendukungnya,” tandas Heri.
Festival Kali Brantas 2022 ini diawali dengan Larung Sesaji Labuh Kali di Kampung Keramik Dinoyo dan Petik Tirto Amerto di Kampung gerabah Penanggungan pada Minggu (24/7/2022). Sementara agenda berikutnya berturur-turut adalah Kampanye Bersih Kaliku Kampung Putih (25/7/2022), Parade Brantas Sungaiku, Arema Kampungku di Kampung Biru Arema (26/7/2022), Gugur Gunung Metri Kali Brantas di Kampung Tridi Kstarian dan Warna-Warni Nyadaran Kali Brantas di Kampung Warna-Warni Jodipan dan diakhiri Damar Kambang Suluh Kali Brantas di Kampung Lampion Jodipan pada 27 Juli 2022. (ned)




















































