BACAMALANG.COM – Limbah bukan akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari karya seni. Itulah pesan yang ingin disampaikan seniman lokal Ateng Sanjaya dalam Pameran Seni Estafet yang digelar di Gedung KNPI Kepanjen, Kabupaten Malang. Dalam ruang yang biasanya tampak biasa, Ateng menyulap sudut gedung menjadi galeri mini berisi instalasi artistik dari botol kaca bekas dan pernak-pernik tak terpakai.
Mengangkat tema daur ulang dan budaya etnik, Ateng mengolah benda-benda yang kerap dianggap sampah menjadi karya seni bernilai estetis tinggi. Karyanya tak hanya menarik secara visual, tapi juga sarat pesan lingkungan dan budaya. Inspirasi Ateng datang dari seniman nasional Nasirun, yang dikenal karena pendekatan eksploratif dan penggunaan material tak lazim dalam berkarya.
“Saya ingin menunjukkan bahwa seni bisa hadir dari hal-hal sederhana di sekitar kita,” ujar Ateng yang berdomisili di Karang Druren, Pakisaji. Ia aktif berkegiatan di komunitas seni Kepanjen, wilayah yang kini tumbuh sebagai kantong kreativitas di Kabupaten Malang.
Data Statistik Kebudayaan 2023 mencatat lebih dari 1,2 juta seniman dan pekerja kreatif di Indonesia, mencerminkan meningkatnya kesadaran dan apresiasi terhadap seni lokal. Pameran ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana semangat berkesenian tetap menyala meski dengan keterbatasan ruang dan bahan.
Melalui karyanya, Ateng tidak hanya memamerkan estetika, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat ulang nilai dari barang-barang yang dianggap tak berguna. Limbah, dalam tangannya, menjadi cermin kreativitas dan kepedulian lingkungan.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga





















































