Limbah Jadi Karya Bernilai, Pameran Seni Estafet Warnai Gedung KNPI Kepanjen - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

RAGAM · 26 Mei 2025 20:35 WIB ·

Limbah Jadi Karya Bernilai, Pameran Seni Estafet Warnai Gedung KNPI Kepanjen


 Ateng Sanjaya menghadirkan koleksi botol kaca bekas serta pernak-pernik yang dikemas dalam konsep seni instalasi. (Ateng for BacaMalang) Perbesar

Ateng Sanjaya menghadirkan koleksi botol kaca bekas serta pernak-pernik yang dikemas dalam konsep seni instalasi. (Ateng for BacaMalang)

BACAMALANG.COM – Limbah bukan akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari karya seni. Itulah pesan yang ingin disampaikan seniman lokal Ateng Sanjaya dalam Pameran Seni Estafet yang digelar di Gedung KNPI Kepanjen, Kabupaten Malang. Dalam ruang yang biasanya tampak biasa, Ateng menyulap sudut gedung menjadi galeri mini berisi instalasi artistik dari botol kaca bekas dan pernak-pernik tak terpakai.

Mengangkat tema daur ulang dan budaya etnik, Ateng mengolah benda-benda yang kerap dianggap sampah menjadi karya seni bernilai estetis tinggi. Karyanya tak hanya menarik secara visual, tapi juga sarat pesan lingkungan dan budaya. Inspirasi Ateng datang dari seniman nasional Nasirun, yang dikenal karena pendekatan eksploratif dan penggunaan material tak lazim dalam berkarya.

“Saya ingin menunjukkan bahwa seni bisa hadir dari hal-hal sederhana di sekitar kita,” ujar Ateng yang berdomisili di Karang Druren, Pakisaji. Ia aktif berkegiatan di komunitas seni Kepanjen, wilayah yang kini tumbuh sebagai kantong kreativitas di Kabupaten Malang.

Data Statistik Kebudayaan 2023 mencatat lebih dari 1,2 juta seniman dan pekerja kreatif di Indonesia, mencerminkan meningkatnya kesadaran dan apresiasi terhadap seni lokal. Pameran ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana semangat berkesenian tetap menyala meski dengan keterbatasan ruang dan bahan.

Melalui karyanya, Ateng tidak hanya memamerkan estetika, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat ulang nilai dari barang-barang yang dianggap tak berguna. Limbah, dalam tangannya, menjadi cermin kreativitas dan kepedulian lingkungan.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 80 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Misa dan Dialog Bersama Uskup Agung Ende, Warga NTT Malang Raya Bahas Inkulturasi Iman Katolik di Tengah Kehidupan Modern

14 Mei 2026 - 08:23 WIB

Prodi Teknologi Pendidikan FIP UNESA Gelar Pelatihan Susun Instrumen Evaluasi Berbasis AI Bagi Guru SMA Barunawati Surabaya

10 Mei 2026 - 16:46 WIB

“Ngleremno Ati”, Saat Kelompok Bermain Mlebu Metu Ajak Malang Menepi dari Kegaduhan

9 Mei 2026 - 11:31 WIB

Tiga Dekade Sheila On 7: Single ‘Sederhana’ Jadi Hadiah Manis untuk Sheilagank

8 Mei 2026 - 10:15 WIB

Siswi SMAN 3 Malang Raih Gold Medal ISIF 2024, Ciptakan Salep Alami untuk Penyembuhan Luka Diabetes

7 Mei 2026 - 08:28 WIB

“Ngleremno Ati” Akan Digelar, Ruang Bunyi dan Jagongan Seni ala Kelompok Bermain Mlebu Metu

5 Mei 2026 - 16:53 WIB

Trending di RAGAM

©Hak Cipta Dilindungi !