Mensyukuri Pelandaian Kurva dan Pemberian Apresiasi-Partisipasi Halau Covid

dr Umar Usman MM. (ist)

BACAMALANG.COM – Bangsa Indonesia layak bersyukur karena meski kondisi pandemi Covid di berbagai negara Eropa melonjak, namun keadaan di tanah air justru berlaku sebaliknya yakni mengalami penurunan (kurva melandai).

“Alhamdulillah meski di Eropa kurang baik, namun sikon di Indonesia Covid menurun (kurva melandai). Kita harus bersyukur dan tidak kendor dalam menghalau Covid,” tandas Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya, dr Umar Usman MM, Minggu, (28/3/2021).

Seperti diketahui, sebanyak 12 negara Eropa kembali menjalankan Lockdown untuk mengurangi dampak pandemi. Negara tersebut meliputi : Jerman, Prancis, Italia, Denmark, Yunani, Republik Ceko, Spanyol, Belgia, Portugal, Belanda, Swedia dan Irlandia.

Kondisi ini adalah karena jumlah pasien COVID-19 yang mendapat perawatan intensif semakin meningkat dan gelombang ketiga mulai terlihat. Oleh karena itu, paket tindakan (lockdown) saat ini diperpanjang. Situasinya serius, jumlah kasus meningkat secara eksponensial dan tempat tidur perawatan intensif terisi lagi.

Kondisi Eropa terjadinya karena adanya strain baru, yang juga sudah datang di Indonesia di Januari, dan juga adanya mobilitas yang terlalu agresif pembukaannya.

dr Umar mengatakan, solusinya adalah jangan kendor mengikuti protokol kesehatan. Testing dan tracing juga tidak boleh dilupakan meski jutaan orang sudah mendapat vaksin.

“Varian baru bisa menyebar ke manapun. Yang harus diwaspadai adalah proses penularan. Hal itu terus berjalan, karena itu proses pencegahan harus terus dilakukan,” tandas pria yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang ini.

Ia menyebut kebijakan PPKM Mikro bisa menjadi solusi untuk melawan penyebaran virus COVID-19, jika dijalankan secara ketat dan disiplin. “Kalau PPKM Mikronya berjalan efektif dan penemuan kasusnya itu juga cepat. Ini kita bisa membatasi pergerakan dari virus itu. Jadi, tantangannya adalah bagaimana kita bisa melakukan limitasi pergerakan virus,” jelas pria yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

Menurut dia, masalah dari varian baru COVID-19 ini adalah penularan yang lebih cepat. Vaksin Sinovac dianggap masih bisa efektif. “Sebaiknya dicari titik keseimbangan agar hasil yang sudah bagus terus ditingkatkan, penurunan karena program PPKM mikro dan vaksinasi,” tukas pria yang juga alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Apresiasi atas Partisipasi

Adanya statemen dukungan Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dan Menteri Kesehatan terhadap proyeksi penambahan anggaran penanganan Covid-19 layak diapresiasi. Ini menjadi wujud komitmen pemerintah memberikan dukungan yang besar kepada tenaga kesehatan (Nakes).

Selain itu juga memberi insentif kepada para nakes. “Nah, beberapa waktu lalu, Pemerintah sudah berkomitmen untuk tetap memberikan insentif 100%, tanpa ada potongan. Ini merupakan bukti dukungan pemerintah, selain juga program-program strategis yang lain,” ujar dr umar.

Lebih dari itu, pemerintah juga harus memberikan perhatian juga kepada tenaga-tenaga non nakes yang juga terlibat langsung penanganan Covid-19, tidak hanya nakes semata. Misalnya, petugas keamanan, tenaga kebersihan, driver, bagian catering, hingga penggali kubur khusus pasien Covid-19.

“Mereka juga harus mendapat perhatian, dengan dukungan, insentif dan fasilitas tes secara rutin. Mereka juga berperan besar untuk penanganan pandemi. Jadi, penanganan kita holistik. Bahwa, tenaga Kesehatan memang bertugas penting, tapi juga tenaga front-line lain juga harus diperhatikan dan mendapat dukungan yang sama. Selayaknya Menkes berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memasukkan mereka dalam juknis tentang insentif yang sedang disusun oleh Pemerintah,” imbuhnya.

dr Umar menambahkan, pemerintah juga harus mendorong riset dan mendukung inovasi-inovasi di bidang kesehatan. “Saat ini, banyak riset-riset yang sudah ada, tapi perlu mendapat dukungan serius. GeNoSe dari UGM merupakan contoh nyata betapa para peneliti Indonesia juga punya kapabilitas yang dampaknya bisa mendunia,” jelasnya.

Lansia, Ramadan, dan Vaksinasi

Vaksinasi Covid-19 saat Ramadhan tetap jalan. Ia mengungkapkan, pihaknya sudah mengetahui fatwa MUI terkait pelaksanaan vaksinasi Covid-19 selama bulan puasa. “Dari MUI sudah menjelaskan, bahwa vaksinasi Covid-19 saat Ramadan tidak membatalkan puasa,” ujarnya.

Dia mengatakan, mekanisme Vaksin Covid-19 pada bulan puasa akan dimatangkan. Bisa jadi dilakukan vaksinasi saat malam hari. “Kita lihat bagaimana nantinya,” terangnya.

Selain petugas pelayanan publik, kata dia, lansia atau lanjut usia juga menjadi atensi untuk dilakukan pemberian Vaksinasi dalam rangka meningkatkan kekebalan tubuh.

“Ada ribuan lansia yang juga divaksinasi. Karena pemberian Vaksinasi Covid-19 bagi Lansia juga menjadi atensi pemerintah pusat,’ katanya.

Dia menyebutkan, petugas vaksinator diprediksi dapat menyelesaikan proses vaksinasi Covid-19 untuk pelayanan publik atau lansia pada akhir April 2021 mendatang atau saat bulan Ramadhan.

Pihaknya terus optimistis dalam penanganan COVID-19. Tak sekedar jaminan kesehatan, upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara aktif terus digalakkan untuk menekan kasus COVID-19, juga untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

4 Indikator Grafik membaik

Sejumlah indikator (4 Indikator) penanganan COVID-19 di Kota Malang menunjukkan grafik membaik. Pertama, tingkat kesembuhan pasien COVID-19 mencapai 90,45%. Kedua, dampaknya kini tingkat keterisian ruang isolasi covid di Rumah Sakit (BOR) terkendali pada kisaran 30% saja.

Ketiga, upaya tersebut juga ditunjang oleh efektivitas Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro sampai jilid III. Dalam laporan per 11 – 22 Maret 2021, tercatat ada 74 kasus saja selama 2 minggu periode tersebut.

Dan indikator keempat, termasuk kian bertambahnya jumlah RT Kategori Hijau menjadi 4.171 RT pada akhir periode PPKM Mikro jilid III. Dengan demikian hanya tersisa 102 RT zona kuning dan ada zona merah maupun oranye.

Dalam menyambut HUT ke-107 pada 1 April, pihaknya tetap mengimbau agar masyarakat menguatkan protokol kesehatan dengan skema 6M. Yakni, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas, menjauhi kerumunan, dan menjaga imun.

“Jangan lengah, tetap disiplin protokol kesehatan, bukan hanya untuk mengurangi resiko terpapar, tapi juga memastikan bahwa pemulihan ekonomi lebih cepat berjalan, ” pungkasnya. (had)