Wayang Kulit Kontemporer "Mutiara Kerang Kencana" UB, Tiga Dalang, Cahaya, Kisah Bima dan Laut, serta Karakter Brawijayan - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EVENT & ACARA · 4 Okt 2026 09:00 WIB ·

Wayang Kulit Kontemporer “Mutiara Kerang Kencana” UB, Tiga Dalang, Cahaya, Kisah Bima dan Laut, serta Karakter Brawijayan


 Aksi dinamis tiga dalang saat membawakan Wayang Kulit Kontemporer Karakter Brawijayan 2026 dengan lakon Perbesar

Aksi dinamis tiga dalang saat membawakan Wayang Kulit Kontemporer Karakter Brawijayan 2026 dengan lakon "Mutiara Kerang Kencana" di Gedung Samantha Krida, Universitas Brawijaya (UB), Sabtu malam, (3/10/2026). (Nedi Putra AW).

BACAMALANG.COM-Universitas Brawijaya (UB) melalui kolaborasi Karakter Brawijayan dan Globalizing Universitas Brawijaya (GUB) serta Sanggar Seni Gumelaring Sasangka Aji, kembali menghadirkan Pagelaran Wayang Kulit Kontemporer Karakter Brawijayan 2026, dengan mengusung lakon Mutiara Kerang Kencana di Gedung Samantha Krida UB, Sabtu (3/10/2026).

Format Wayang Kontemporer ini ditampilkan dengan gaya yang kekinian dengan tetap merujuk pada keselarasan unsur estetika seni, penggunaan cahaya dan bayangan, serta nilai filosofis sang dalang.

Jika dari wayang tradisional yang umumnya menampilkan bayangan dari belakang kelir atau memfokuskan satu dalang di depan, maka pertunjukan ini dimainkan oleh lebih dari satu dalang dengan kolaborasi antara para dalang itu sendiri dengan seni tata cahaya, musik, lagu (tembang), serta narasi.

Lakon “Mutiara Kerang Kencana” membawa penonton, yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK UB), mengikuti perjalanan Bima dalam pencarian jiwa suci, kebajikan, keberagaman. Lakon ini juga menonjolkan unsur-unsur kelautan dan air, yang relevan dengan kisahnya yang mengusung tanggung jawab menjaga kehidupan dan alam.

Penonton menyaksikan siluet atau bayangan hitam, yang bergerak dinamis saat wayang dimainkan para dalang, baik itu saat bercakap-cakap, berjalan, bertarung, atau menari, bahkan ikan-ikan yang sedang berenang di lautan. Sementara di belakang kelir, 3 (tiga) orang dalang dengan tangkas, cepat dan ketrampilan tinggi serta sangat dinamis yang menguras energi, memainkan wayang-wayang tersebut.

Sebuah sudut pandang yang berbeda, jika menyaksikan pentas wayang kulit dengan keanggunan aksi dalang di depan kelir.

Pementasan ini merupakan upaya membawa seni pewayangan sebagai medium pendidikan karakter. Seperti disampaikan Prof. Iwan Triyuwono, S.E., Ak., C.A., M.Ec., Ph.D, salah satu penggagas sekaligus perumus karakter atau Brawijaya Value tersebut.

Salah satu adegan yang menampilkan unsur-unsur ikan, kelautan dan air dalam Pagelaran Wayang Kulit Kontemporer Karakter Brawijayan 2026 dengan lakon “Mutiara Kerang Kencana” di Gedung Samantha Krida, Universitas Brawijaya (UB), Sabtu malam, (3/10/2026). (Nedi Putra AW).

“Secara etimologis, Brawijayan berasal dari kata Brawijaya yang mendapat akhiran “-an”, yang dimaknai sebagai model atau karakter Brawijaya. Sementara Brawijaya dimaknai terdiri dari dua unsur kata, yakni “Bra” yang merujuk pada Batara dan dimaknai sebagai jiwa yang suci, serta “Wijaya” yang berarti kemenangan,” jelasnya sebelum kegiatan pementasan dimulai.

Dari filosofi tersebut, lanjut Prof. Iwan, konsep Brawijayan menempatkan upaya membina diri dan mencapai kesucian jiwa sebagai salah satu landasan utama. Kesucian jiwa diharapkan menjadi proses yang terus dijalani seluruh civitas akademika UB, baik mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan maupun pimpinan.

“Dalam konsep tersebut, jiwa yang suci diyakini akan membawa manusia semakin dekat dengan “diri sejati”. Konsep ini memiliki padanan dalam berbagai tradisi dan istilah spiritual, seperti Dewa Ruci, Nur Muhammad, Roh Kudus, Atman maupun Insan Sejati,” bebernya.

Dari kesucian jiwa tersebut kemudian diharapkan tumbuh cinta yang mampu menghidupkan kehidupan sekaligus menjadi dasar dalam membangun hubungan dengan sesama.

Professor Akuntansi Syaria pertama di Indonesia ini menyebutkan, nilai Brawijayan bertumpu pada tiga nilai utama, yakni Suci, Ilahi, dan Cinta. Ketiga nilai tersebut kemudian dikembangkan menjadi karakter kepemimpinan yang diharapkan tercermin dalam diri warga Universitas Brawijaya.

“Karakter tersebut meliputi Suci, Ilahi, Cinta, Tangguh, Taktis, Visioner, Wira Cipta atau inovatif, Loyal, Berwibawa, dan Toleran, dimana nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjadi mindset yang diterapkan dalam kehidupan akademik maupun kehidupan sehari-hari di lingkungan UB,” tegasnya.

Melalui penanaman nilai-nilai tersebut, UB diharapkan dapat melahirkan dua sosok utama, yakni Pandita Brawijayan dan Ksatria Brawijayan.

Prof. Iwan Triyuwono, S.E., Ak., C.A., M.Ec., Ph.D, (dua dari kanan), salah satu penggagas sekaligus perumus karakter atau Brawijaya Value. (Nedi Putra AW)

Pandita Brawijayan digambarkan sebagai sosok yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kecerdasan intelektual. Sosok ini diharapkan mampu memberikan arahan, nasihat dan pandangan bagi masyarakat. Sementara itu, Ksatria Brawijayaan merupakan sosok yang memiliki landasan spiritual dan intelektual, sekaligus mampu menerjemahkan nilai tersebut ke dalam tindakan nyata. Ia diharapkan menjadi pemimpin sekaligus eksekutor yang mampu membawa perubahan.

Pada akhirnya, tambah Prof. Iwan, nilai Brawijayan diarahkan untuk membentuk pribadi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kesadaran spiritual. Nilai tersebut diharapkan menjadi landasan bagi warga UB dalam berkontribusi membangun kehidupan masyarakat yang penuh cinta.

“Dalam filosofi Jawa, cita-cita tersebut tergambar melalui kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, toto tenteram kerto raharjo, sebuah gambaran kehidupan yang sejahtera, tertata, tenteram dan harmonis,” pungkas alumnus Fakultas Ekonomi dan Binsis UB ini.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Kekeringan Melanda Pagak, Pemprov Jatim Kirim 10 Ribu Liter Air Bersih

4 Oktober 2026 - 08:54 WIB

Dari Wayang ke Generasi Z, UB Hidupkan Nilai Karakter Brawijayan lewat “Mutiara Kerang Kencana”

4 Oktober 2026 - 07:41 WIB

Ngaku Teman Kakak, Pria Bawa Kabur Motor Warga Bedali Lawang

3 Oktober 2026 - 21:41 WIB

Berpura-pura Cari Kontrakan, Pria Ini Diduga Curi HP Warga Karangploso

3 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Terekam CCTV, Dua Orang Diduga Curi Motor dari Teras Rumah Warga Wagir

3 Oktober 2026 - 21:25 WIB

Polisi Masuk Sekolah, Siswa MAN 2 Turen Dibekali Pemahaman Bahaya Bullying dan Cyberbullying

3 Oktober 2026 - 21:21 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !