BACAMALANG.COM — Gelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2026 tak sekadar menjadi panggung perebutan prestasi. Ajang olahraga tingkat provinsi tersebut juga menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana pembinaan atlet dilakukan sejak usia dini.
Hal itu menjadi perhatian Ketua Anak Muda Sawunggaling (AMS) Kepanjen, Cak To AMS. Menurutnya, potensi pesepak bola muda di wilayah Kepanjen dan sekitarnya cukup besar. Namun, potensi tersebut membutuhkan pembinaan yang konsisten, fasilitas memadai, serta dukungan dari berbagai pihak.
Cak To mengaku kerap melihat anak-anak berlatih sepak bola di lapangan pada sore hari. Semangat mereka dinilai tinggi, tetapi belum sepenuhnya ditopang sistem pembinaan yang berkelanjutan.
“Tantangan besar saat ini adalah minimnya lapangan layak pakai dan pelatih yang memiliki kapasitas untuk melatih usia dini. Program pembinaan juga masih bersifat musiman. Ramai ketika mendekati Porprov, lalu sepi setelahnya,” ujarnya kepada BACAMALANG, Sabtu (15/8/2026).
Ia menambahkan, persoalan biaya juga masih menjadi kendala. Kebutuhan seperti seragam, bola, hingga transportasi mengikuti turnamen masih banyak ditanggung orang tua dan melalui swadaya masyarakat.
Padahal, menurut Cak To, potensi sepak bola di wilayah Malang Selatan tidak bisa dipandang sebelah mata. Kepanjen, Dampit, hingga Turen memiliki banyak anak yang dinilai memiliki fisik, kemampuan teknik, serta mental bertanding yang baik.
Tingginya antusiasme masyarakat juga terlihat dari ramainya turnamen sepak bola antarkampung atau tarkam yang digelar di sejumlah wilayah.
Melihat kondisi tersebut, AMS Kepanjen bersama warga berupaya ikut mengambil peran. Sejumlah festival dan fun football usia dini telah digelar sebagai sarana mencari bibit sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak untuk menyalurkan energi ke kegiatan yang positif.
Bagi Cak To, pembinaan tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Pemerintah daerah melalui dinas terkait dinilai perlu memberikan perhatian lebih, antara lain melalui pelatihan bagi pelatih sepak bola usia dini serta peningkatan kualitas lapangan di tingkat desa dan kelurahan.
Sekolah juga diharapkan kembali menghidupkan ekstrakurikuler sepak bola secara serius. Di sisi lain, lingkungan RT, komunitas, hingga pelaku usaha lokal dapat berperan sebagai penggerak sekaligus membuka peluang dukungan sponsorship.
“Yang dibutuhkan adalah sinergi. Kalau semua bergerak bersama, pembinaan anak-anak bisa berjalan lebih terarah dan tidak hanya muncul ketika ada event besar,” katanya.
Ia juga mendorong adanya kompetisi sepak bola usia dini yang digelar secara rutin dan berjenjang di tingkat kecamatan. Liga antarkelurahan yang digelar secara berkala, misalnya setiap beberapa bulan, dinilai dapat memberikan target sekaligus pengalaman bertanding bagi anak-anak.
Target akhirnya, kata Cak To, bukan sekadar memenangkan turnamen usia dini. Ia ingin kelak muncul pemain-pemain asal Kepanjen dan wilayah Malang Selatan yang mampu menembus tim Kabupaten Malang dan tampil di ajang Porprov.
“Jaga semangat anak-anak, jaga fasilitasnya, jaga moralnya. Kalau itu bisa kita lakukan bersama, saya yakin bibit-bibit dari Kepanjen bisa mengharumkan nama Malang,” pungkasnya.
Menurutnya, sepak bola sejak usia dini bukan hanya tentang mencetak pemain berprestasi. Lebih jauh, olahraga dapat menjadi sarana membentuk karakter, kedisiplinan, sportivitas, sekaligus membantu anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang positif.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































