BACAMALANG.COM – Fakultas Sains dan Teknologi (FAST) Universitas Brawijaya (UB) menggelar rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) FAST UB Pasupala Aruardhana 2026, Jumat (14/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Parkir Gedung 1 FAST UB tersebut diikuti 819 mahasiswa baru, terdiri atas 735 mahasiswa Program Studi Peternakan dan 84 mahasiswa Program Studi Industri Peternakan Cerdas.
Mengusung tema “Terbinanya Mahasiswa Baru sebagai Generasi Masa Depan yang Adaptif, Eksploratif, dan Berkarakter melalui Sinergi Tiga Pilar Insan Paripurna dalam Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi”, PKKMB FAST UB dirancang tidak sekadar menjadi agenda pengenalan lingkungan kampus.
Rangkaian kegiatan selama dua hari tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk mendapatkan wawasan mengenai dunia akademik, industri, kewirausahaan, serta tantangan profesi peternakan dari para praktisi dan alumni.
Hadir sebagai narasumber, Direktur PT Karunia Alam Sentosa Abadi (KASA) Ir. Didiek Purwanto, IPU, serta Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Indiyah Ariyani, MM. PT KASA sendiri merupakan perusahaan penggemukan sapi atau feedlot yang berlokasi di Lampung.
Di hadapan ratusan mahasiswa baru, Didiek Purwanto yang juga merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), mengingatkan pentingnya mahasiswa memahami tujuan memilih bidang peternakan.
Menurutnya, profesi peternakan memiliki posisi strategis dalam mendukung kedaulatan pangan nasional, khususnya pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat.
“Saya bangga jadi alumni Fakultas Peternakan, yang merupakan tulang punggung kedaulatan pangan untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani di Indonesia,” ujar Didik.
Ia menegaskan mahasiswa tidak boleh hanya berkutat pada teori selama menjalani perkuliahan. Mahasiswa perlu lebih agresif mengenal dunia industri dan kondisi nyata di lapangan.

Narasumber PKKMB FAST UB Pasupala Aruardhana 2026 Ir. Didiek Purwanto dan Dekan FAST UB Prof. Dr. Ir. M. Halim Natsir, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng. (Nedi Putra AW)
“Kita harus siap masuk dunia persaingan terbuka, maka mahasiswa FAST harus siap beradaptasi masuk dunia nyata,” tegasnya.
Menurut Didiek, keberadaan sarjana peternakan juga dibutuhkan untuk mendorong lahirnya inovasi baru dalam pengelolaan usaha peternakan. Sebab, sebagian besar peternak saat ini masih berasal dari generasi yang telah lama berkecimpung di bidang tersebut tanpa latar belakang pendidikan sarjana.
“Hadirnya peternak-peternak dengan bekal pendidikan ini akan membuat daya saing semakin kuat karena akan ada inovasi-inovasi baru dalam penerapan produksi ternaknya,” papar tokoh penting di Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) ini.
Ia pun menilai mahasiswa FAST tidak salah memilih bidang peternakan karena peluang pengembangan profesi maupun usaha masih sangat besar.
Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kemampuan, pemahaman terhadap tanggung jawab profesi, serta jejaring yang kuat.
Didiek bahkan mendorong FAST memperkuat hubungan dengan para alumninya. Menurutnya, alumni yang telah bekerja di berbagai sektor dapat menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk mengenal dunia profesional.
“Networking itu sangat penting. Mari kita undang semua alumni. Kita ada acara pada bulan November 2026 nanti. Saya akan kumpulkan alumni di sini, supaya akses bisa terbuka lebih luas,” ujarnya.
Menurut Didiek, silaturahmi antara fakultas, alumni, dan mahasiswa perlu terus dibangun untuk membuka berbagai simpul akses menuju dunia kerja maupun industri.
Alumnus Fakultas Peternakan UB jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak ini bahkan memastikan peluang tersebut terbuka di perusahaannya.
“Seperti di perusahaan saya, ada kesempatan untuk berkarier seluas-luasnya. Anak Brawijaya itu yang paling utama,” ungkapnya.
Dekan FAST UB Prof. Dr. Ir. M. Halim Natsir, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., menyambut positif gagasan penguatan jejaring antara kampus, alumni, dan industri.

Penampilan hiburan dalam PKKMB FAST UB Pasupala Aruardhana 2026 di Lapangan Parkir Gedung 1 FAST UB, Jumat (14/8/2026). (Nedi Putra AW)
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab kebutuhan dunia nyata.
“Kami menyadari fasilitas yang ada di fakultas itu memang sudah berkembang, tetapi di industri juga berkembang. Maka kunci dari semua itu, Fakultas Peternakan ini selalu mengutamakan networking, baik dengan industri maupun dengan perguruan tinggi luar negeri,” jelas Prof. Halim.
Ia mengatakan pengembangan sumber daya manusia menjadi perhatian utama FAST. Mahasiswa tidak hanya diarahkan menjadi tenaga profesional, tetapi juga diharapkan mampu menjadi pemikir dan inovator di bidang peternakan.
“Padahal kita ingin menciptakan pemikir-pemikir peternakan di masa depan. Seperti dengan riset-riset yang kita arahkan semuanya itu berdampak. Nah, berdampak itu bisa ke masyarakat, bisa ke industri, bisa ke pemerintah,” urai Doktor Ilmu Ternak PPS UB ini.
FAST, lanjutnya, berupaya memastikan hasil penelitian dosen tidak berhenti pada publikasi jurnal maupun paten, tetapi dapat dihilirkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata.
Pendekatan tersebut juga diterapkan dalam kegiatan mahasiswa. Salah satunya melalui program KKN yang diarahkan menghasilkan sedikitnya tiga inovasi yang memberikan dampak kepada masyarakat.
Prof. Halim mencontohkan kegiatan KKN di Bojonegoro yang menghasilkan ekspo dan mendapat perhatian dari Bupati Bojonegoro serta Bappeda. Sejumlah gagasan mahasiswa dinilai memiliki potensi untuk diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut melalui pendampingan dosen.
“Teknologi Tepat Guna ini harus berdampak nyata. Itu yang selalu kita lakukan,” tegas Guru Besar bidang Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pengolahan Pakan Unggas ini.
Dalam pengembangan riset dan pembelajaran, FAST juga terus membuka peluang pendanaan eksternal. Prof. Halim menyebut FAST termasuk salah satu fakultas di UB yang konsisten mendapatkan pendanaan dari luar kampus.
“Alhamdulillah fakultas kita termasuk fakultas yang selalu mendapatkan pendanaan dari eksternal, dan masuk dalam tiga terbesar,” ungkapnya.
Hubungan dengan industri juga diperkuat melalui pengembangan corporate laboratory. FAST kini memiliki sejumlah fasilitas pembelajaran dan riset hasil kolaborasi dengan industri, antara lain closed house dari PT CPI dan fasilitas broiler dari Japfa.
Selain fasilitas, keterlibatan praktisi dalam pembelajaran juga terus ditingkatkan. Perubahan kurikulum dilakukan secara berkala, sementara materi pembelajaran dapat disesuaikan setiap semester agar tetap relevan dengan perkembangan industri.
“Kemarin dalam satu tahun kita menghadirkan 198 praktisi mengajar,” tambah Top Co-Author UB x BRIN 2024 ini.
Kolaborasi tersebut kini berkembang menjadi penyusunan kurikulum bersama Japfa Group. Dalam skema tersebut, sebanyak 30 mahasiswa akan mengikuti pembelajaran selama satu bulan di kelas dan dilanjutkan lima bulan praktik di farm Japfa dengan mendapatkan kompensasi.
Setelah menyelesaikan program, 10 mahasiswa berpeluang langsung bergabung sebagai tenaga kerja Japfa, 10 lainnya akan disalurkan ke mitra Japfa, sementara 10 mahasiswa lainnya diberikan kebebasan menentukan pilihan karier.
Menurut Prof. Halim, model tersebut menjadi contoh penting bagaimana perguruan tinggi dan industri dapat saling terhubung dalam menyiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Tanpa langsung bersentuhan dengan dunia nyata, inovasi mahasiswa itu akan kurang berkembang,” tandasnya.
Melalui PKKMB Pasupala Aruardhana 2026, FAST UB tidak hanya memperkenalkan lingkungan akademik kepada mahasiswa baru, tetapi juga menanamkan pemahaman sejak awal mengenai pentingnya adaptasi, inovasi, jejaring, dan pengalaman langsung di dunia industri.
Sinergi antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah, dan dunia usaha tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan peternakan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan nasional.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































