BACAMALANG.COM – Fenomena Citayam Fashion Week mendapat tanggapan dari Agus Sunandar, Dosen Tata Busana Universitas Negeri Malang (UM). Agus mengatakan bahwa fenomena Citayam ini mengingatkannya pada kemunculan Harajuku yang tercipta di Jepang pada akhir tahun 1960an dan awal 1970an.
“Harajuku mucul dari aksi para remaja yang berasal beberapa kota pinggiran seperti Chiba misalnya, sehingga kehadirannya sangat unik dan orisinil dan berkembang,” ungkapnya kepada BacaMalang.com belum lama ini.
Agus yang juga seorang fashion desainer ini mengingatkan, Harajuku mucul dari anak muda yang saat itu usianya sama kurang lebih sama dengan anak muda dari Citayam, yang asalnya juga dari kawasan penyangga Jakarta.
“Karena mereka anak muda suburban yang bukan dari kalangan designer, maka ekspresi dan kreasinya sangat orisinil. Mereka sebutkan bahwa baju yang dipakai adalah produk lokal seharga Rp. 15.000 hingga Rp 50.000, saja, bahkan ada yang tak sungkan bilang kalau hanya meminjam pakaian temannya,” paparnya.
Namun Agus merasa ada yang kurang tepat ketika pada pelaksanaanya Citayam Fashion Week ini mulai mengganggu ketertiban umum. Menurut dia, prinsipnya apa yang terjadi ini positif dan dapat memajukan industri fesyen, hanya saja ada norma dan ketertiban yang tidak boleh dilanggar.
“Apalagi ketika menjadi viral di media sosial, banyak yang akhirnya hanya mencoba copy-paste di berbagai kota, seperti di Surabaya, Malang maupun kota-kota lainnya, padahal yang terjadi adalah mengganggu ketertiban, karena menggunakan fasilitas publik dan berlangsung pada saat lalu-lintas sedang padat dan ramai,” beber dia.
Pengurus pusat Indonesian Fashion Chamber (IFC) ini mengaku sudah pernah menggelar konsep fashion on the street di jalanan Kota Malang.
“Tapi tetap mengikuti aturan yang ada, baik dari sisi kesopanan maupun lalu lintas,” tegasnya.
Dijelaskan pemilik koleksi bertajuk Runako ini, street fashion berbeda dengan high fashion seperti yang biasa digelar IFC maupun organisasi fesyen lainnya.
“Pertama dari venue, dimana jelas kalau street atau jalanan berarti di ruang publik, yang akan mengundang lebih banyak audiens, bahkan lebih banyak kepentingan. Sementara high fashion sudah ada venue di suatu gedung dengan audiens terbatas,” bebernya.
Kedua, imbuhnya, karena digelar di jalanan, untuk street wear harus yang sesuai dengan budaya, atau tata krama lokal.
“Jangan terlalu vulgar bahkan tampil alay, karena kurang pantas. Akibatnya kerap terjadi gesekan sosial,” tukasnya.
Menurut Agus, hal ini mengacu pada penggolongan fesyen di dunia, dimana yang ada saat ini untuk New York, Amerika dikenal dengan Sport Wear dan London di Inggris dengan Sport Wear-nya atau gaya busana jalanan, sehingga cenderung kasual dan tidak aneh-aneh.
“Oleh karena itu saya tetap mengapresiasi orisinilitas dan kreativitas fashion street wear ini, selama dilaksanakan secara tertib,” tandas desainer yang edang mempersiapkan even tahunan Malang Fashion Week ini. (ned)





















































