BACAMALANG.COM – Pagelaran ASEAN Panji Festival tahun 2023 di Kota Malang berlangsung meriah. Sajian kolaborasi tarian budaya dari 9 negara di kawasan ASEAN yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam ditampilkan di panggung yang digelar di halaman Balai Kota Malang, Sabtu (21/10/23).
Para delegasi dari 9 negara ASEAN tersebut menyajikan Cerita Panji dalam Lakon “Panji Semirang”.
Cerita Panji Semirang itu diarahkan oleh Bambang Paningron sebagai pimpinan produksi dan Bambang Pujasworo sebagai art director serta penulis naskah. Kisahnya dibagi menjadi sepuluh adegan yang setiap lakonnya diperankan oleh masing-masing negara.
“Inti cerita berkisar pada lika-liku percintaan, pengembaraan, perjuangan, dan persatuan antara Raden Panji Asmarabangun atau Raden Panji Inu Kertapati, putra mahkota Kerajaan Jenggala dengan Dewi Sekartaji atau Dewi Candrakirana dari Kerajaan Panjalu atau Kadiri,” ungkap Bambang Pujasworo sebelum pentas.
Pembagian episode tiap negara adalah sebagai berikut: “Perjalanan Menuju Daha” (Laos), “Perebutan Golek Kencana antara Dewi Sekartaji dan Galuh Ajeng” (Kamboja), “Dewi Sekartaji Beralih Rupa Menjadi Panji Semirang” (Myanmar), “Klana Tunjung Bang Berperang Melawan Panji Semirang” (Malaysia), “Panji Inu Kertapati Bertemu Panji Semirang” (Vietnam), “Pernikahan Panji Inu Kertapati dan Galuh Ajeng” (Thailand), “Panji Semirang Menuju Kerajaan Gagelang” (Filipina), “Panji Inu Kertapati Bertemu Gambuh Warga Asmara” (Indonesia), “Gambuh Warga Asmara Beralih Rupa Menjadi Dewi Sekartaji” (Singapura), dan babak terakhir, yakni “Pernikahan Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji” dimainkan oleh seluruh negara peserta.
Sebelumnya epos ini telah dipentaskan di Yogya dan Kediri, sementara pertunjukan selanjutnya akan dihelat di Pasuruan (22/10), dan Solo (25/10) sebagai kota pamungkas.
Sebagai informasi, kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam rangka memperingati sastra Panji yang sudah ditetapkan sebagai Memory of the World (MoW) oleh UNESCO pada 31 Oktober 2017.
Pj Wali Kota Malang sangat mengapresiasi kegiatan akulturasi budaya ini dan bangga karena Kota Malang menjadi salah satu tuan rumah penyelenggaraan event dengan level ASEAN tersebut.
“Dengan adanya ASEAN Panji kali ini, Pemerintah Kota Malang bakal mengembangkan budaya Panji hingga menjadi ikon wisata budaya Kota Malang. Apalagi Malang memiliki budaya topeng Malangan yang harus bisa dijaga kelestariannya,” ungkap Wahyu.
Selanjutnya, imbuh Wahyu, tari Topeng Malangan akan selalu ditampilkan dalam setiap kegiatan pemerintahan, sehingga ke depan dapat segera didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia dan membuat tempat wisata khusus kesenian tari topeng Malangan.
“Wayang Topeng Malangan ini adalah wujud pertemuan tiga budaya Jawa Tengah Madura dan Tengger namun tantangan zaman digital memberikan warning akan adanya degradasi seni dan budaya warisan nenek moyang ini yang semakin terkikis oleh kesenian modern. Oleh karena itu pemerintah Kota Malang akan melakukan sejumlah upaya,” ucap Wahyu Hidayat.
Sementara itu, Direktur Pembinaan Tenaga Dan Lembaga Kebudayaan, Restu Gunawan mengatakan bahwa Jawa Timur merupakan rajanya cerita Panji, sehingga ia berharap masyarakat Malang dan Jawa Timur bisa mengambil manfaat dan juga memperkuat budaya di setiap daerahnya.
“Semoga masyarakat bisa mengambil manfaat, bahkan memperkuatnya seperti yang disampaikan oleh Pak Pj Wali Kota tadi. Semoga terus memperkuat diplomasi melalui kebudayaan karena kekayaan kita luar biasa,” tukasnya
Acara ini cukup menarik minat masyarakat yang memenuhi kawasan Alun-alun Tugu untuk menyaksikan Cerita Panji dalam Lakon “Panji Semirang” ini secara langsung.
Pertunjukan ini juga dihadiri sejumlah undangan, mulai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Suwarjana, sejumlah seniman, termasuk pegiat Panji Prof. Dr.Ing. Wardiman Djojonegoro, yang juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada era tahun 1993 hingga tahun 1998.
Dalam ASEAN Panji Festival kali ini juga dilaksanakan pemberian penghargaan kepada insan budaya Kota Malang diantaranya diberikan kepada Klenteng En Ang Kiong.
Kemudian kategori anak dan remaja Alviano Tan, yang merupakan peraih beragam penghargaan dari internasional maupun nasional dari dunia tarik suara.
Lalu pelestari pemanfaatan kebudayaan, Santi Peni, serta pengembangan pembaharuan, Sandi Dea Cahyo Narpati, dan terakhir lifetime achievement kepada alm Sutopo.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki




















































