BACAMALANG.COM — Kesadaran tentang pentingnya lingkungan belajar yang inklusif terus didorong di lingkungan perguruan tinggi. Hal itu terlihat dalam kegiatan Disability Awareness Session bertajuk “Embracing Diversity, Empowering Inclusion” yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) di Aula FIB B UB, pekan lalu.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama untuk menumbuhkan pemahaman mahasiswa reguler terhadap teman-teman penyandang disabilitas, sekaligus membangun lingkungan kampus yang lebih suportif dan inklusif.
Program tersebut merupakan kolaborasi antara mata kuliah Introduction to Inclusive Education Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FIB dan mata kuliah Pendidikan Inklusi Program Studi Administrasi Pendidikan FIA. Kolaborasi ini melibatkan para dosen pengampu, antara lain Dr. Ive Emaliana, M.Pd. dan Dr. Frida Unsiah, M.Pd. dari FIB, serta Aulia Luqman Aziz, S.S., S.Pd., M.Pd. dan Dr. Khurotin Anggraeni, M.Pd.I. dari FIA.
Ketua Departemen Pendidikan Bahasa FIB UB, Dr. Moh. Hasbullah Isnaini, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa inklusi bukan sekadar konsep, melainkan sikap untuk saling menghargai dan hidup berdampingan.
“Inklusi adalah tentang menghargai dan mencoba menjadikannya bagian dari kehidupan kita. Awareness harus kita tumbuhkan bersama,” tegasnya.
Sementara itu, selama kegiatan berlangsung, peserta diajak mendengarkan pengalaman langsung dari dua mahasiswa penyandang disabilitas yang hadir sebagai narasumber, dengan pendampingan Juru Bahasa Isyarat dari Pusat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya, Cyndiarnis Cahyaning Putri.

Peserta Disability Awareness Session bertajuk “Embracing Diversity, Empowering Inclusion” saat belajar bahasa isyarat. (ist)
Salah satu narasumber, Sania Khoridatur Rohmi, alumni S1 Akuntansi UB yang merupakan penyandang tuli sejak lahir, membagikan pengalaman selama menjalani perkuliahan. Ia menceritakan tantangan yang dihadapi saat pembelajaran daring di masa pandemi COVID-19, terutama ketika penjelasan dosen berlangsung terlalu cepat.
Meski demikian, ia mengaku terbantu dengan kehadiran Juru Bahasa Isyarat di lingkungan kampus.
“Tuli bukan kata kasar. Tidak perlu merasa kasihan kepada kami, karena yang berbeda hanyalah cara komunikasinya,” jelas Sania di hadapan peserta.
Dalam sesi tersebut, Sania juga memperkenalkan budaya tuli, perbedaan BISINDO dan SIBI, serta etika dasar berkomunikasi dengan penyandang tuli. Para peserta bahkan diajak mempraktikkan bahasa isyarat sederhana secara langsung.
Sementara itu, narasumber lainnya, Johana Gabriela, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2021 yang merupakan penyandang tunanetra, berbagi cerita mengenai kesehariannya sebagai individu dengan hambatan penglihatan.
“Saya biasanya mengenali orang dari gestur atau bahkan dari ciri khas wanginya,” ungkapnya sambil tersenyum.
Bagi peserta, sesi ini bukan hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga pengalaman emosional yang membuka perspektif baru tentang keberagaman dan cara berinteraksi yang lebih inklusif.
Aulia Luqman Aziz dari FIA menilai kolaborasi lintas kelas seperti ini penting agar mahasiswa tidak hanya memahami pendidikan inklusif secara teori, tetapi juga melalui pengalaman nyata.
“Kegiatan ini menjadi pengayaan materi bagi mahasiswa agar lebih mengenal siswa dengan disabilitas, tidak hanya secara teori, tetapi juga melalui cerita langsung para narasumber,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan empati, kesadaran sosial, dan keterampilan berinteraksi secara lebih inklusif dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kampus benar-benar menjadi ruang belajar yang ramah bagi semua.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































