Nguri-uri Budaya, PBSI Unisma Tampilkan Topeng Malangan dari Republik Gubuk Jabung - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 10 Jan 2024 19:43 WIB ·

Nguri-uri Budaya, PBSI Unisma Tampilkan Topeng Malangan dari Republik Gubuk Jabung


 Salah satu adegan Panji Laras yang dikenal dengan ayam jagonya, yang akhirnya bertemu dan bertarung dengan sosok Klana Jaka Imantakiyur (kanan) dalam Pertunjukan Wayang Topeng Malangan dan Diskusi Pertunjukan Wayang Topeng, di Hall Oesman Mansoer Lantai 3, Gedung Al-Hanafi (FKIP) Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (10/1/2024). (Nedi Putra AW) Perbesar

Salah satu adegan Panji Laras yang dikenal dengan ayam jagonya, yang akhirnya bertemu dan bertarung dengan sosok Klana Jaka Imantakiyur (kanan) dalam Pertunjukan Wayang Topeng Malangan dan Diskusi Pertunjukan Wayang Topeng, di Hall Oesman Mansoer Lantai 3, Gedung Al-Hanafi (FKIP) Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (10/1/2024). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Mahasiswa semester 3 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar pameran karya, Pertunjukan Wayang Topeng Malangan dan Diskusi Pertunjukan Wayang Topeng, Rabu (10/1/2024).

Kegiatan yang dihelat di Hall Oesman Mansoer Lantai 3, Gedung Al-Hanafi (FKIP) Universitas Islam Malang (Unisma) menampilkan pentas Topeng Malangan dengan lakon Panji Laras.

Secara garis besar, pertunjukan yang dibawakan anak-anak muda dari Republik Gubuk dari Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang ini mengisahkan perjalanan Panji Laras yang dikenal dengan ayam jagonya, yang akhirnya bertemu dan bertarung dengan sosok Klana Jaka Imantakiyur.

Meski dengan tata panggung serba hitam maupun lampu yang sederhana, pertunjukan di atas panggung berukuran 6 x 3 m dengan iringan karawitan secara live ini ternyata membuat para mahasiswa betah untuk menikmati pentas Topeng Malangan tersebut.

Mereka tidak beranjak dari tempat duduk yang digelar secara ‘lesehan’ itu mulai dari awal hingga akhir pertunjukan.

Usai pentas, dihelat diskusi Pertunjukan Wayang Topeng Malangan yang dipandu oleh Presiden Republik Gubuk Fachrur Alamsyah, dan Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd., yang merupakan Dosen PBSI Unisma.

Presiden Republik Gubuk Fachrur Alamsyah (kanan), dan Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd. yang merupakan Dosen PBSI Unisma saat Diskusi Pertunjukan Wayang Topeng, di Hall Oesman Mansoer Lantai 3, Gedung Al-Hanafi (FKIP) Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (10/1/2024). (Nedi Putra AW)

Fachrur Alamsyah merasa terharu menyaksikan antusiasme anak-anak muda menikmati sajian Topeng Malangan ini.

“Apalagi kami tampil di sebuah kampus, kampus NU lagi,” ungkap pria yang akrab disapa Irul ini.

Menurut Irul, pentas ini bukan sekedar panggung 6×3 m saja, tapi jadi bukti bahwa Unisma punya ruang budaya untuk menampilkan tradisi.

“Ini sangat luar biasa,” ujar pria berambut panjang ini.

Ia mengaku tidak mudah menghadirkan sebuah pentas tradisi yang digawangi anak-anak muda.

Ada perjuangan selama 10 tahun selama di Gubuk Baca, sebuah wadah pengembangan literasi yang merupakan bagian dari Republik Gubuk.

“Selain perpustakaan, kami mencoba melestarikan tradisi, salah satunya Topeng Malangan ini. Bahkan kami sempat dianggap merendahkan marwah dari kesenian ini saat awal-awal bersama para anggota Republik Gubuk berkeliling kampung bikin pertunjukan dengan peralatan dan penonton seadanya,” paparnya.

Dikatakan alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisma ini, untuk seni tradisi, yang terbersit dalam pikirannya adalah bukan hanya melestarikan, namun lebih kepada apa yang dikerjakan saat ini akan menjadi bekal dan sejarah bagi masa depan.

Oleh karena itu ia sangat intens mengajak anak-anak muda untuk berkecimpung dalam kesenian.

Para pendukung acara yang Mahasiswa Semester 3 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Islam Malang (Unisma). (Nedi Putra AW)

“Memang ada istilah ‘Jasmerah’ atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, tapi justru saya ingin menciptakan atau mencatatkan sejarah bagi generasi berikutnya,” tegasnya.

Salah satunya adalah tidak terlalu berpegangan pada ‘pakem’ tapi diangkat sesuai perkembangan zaman.

“Seperti Topeng Malangan ini yang akhirnya dapat dibawakan dan disajikan dengan cara yang menyenangkan, sehingga bisa untuk sarana edukasi hingga syiar agama,” imbuhnya.

Apalagi, tambahnya, para mahasiswa ini adalah calon guru atau pendidik, sehingga jika nanti mahasiswa bisa berkarya untuk anak akan membuat anak-anak itu mengenal sejarah budayanya sendiri sejak usia dini, khususnya kearifan lokal kampungnya sendiri.

Irul juga berpendapat, para mahasiswa punya pilihan dalam melestarikan seni tradisi. Bila sekarang jadi penikmat atau penonton, maka ke depan bisa jadi pelaku.

“Pelaku pun banyak pilihannya, mau jadi penarinya, dalang, karawitan bahkan EO untuk pentasnya,” tukasnya.

Irul berharap pertunjukan kali ini bisa menemukan jati diri sebagai orang Malang. Ada banyak nasihat yang tersamarkan dalam Topeng Malangan ini.

“Sama seperti kampus, maka seni tradisi bicara tentang keindahan, budi dan di mana rasa bisa berdaya. Harta karun satu-satunya dari bangsa ini adalah budaya dan ini yang coba kami pagari agar tumbuh sempurna,” urainya.

Namun ia mengaku, untuk pertunjukan ini memang belum sempurna, namun dapat dikatakan sempurna untuk sebuah misi budaya.

“Harapannya tentu bisa menginspirasi kampus lain untuk kolaborasi, bisa pertunjukan Tari Topeng, Bantengan bahkan Jaranan,” tandasnya.

Sementara Dr. Ari Ambarwati menuturkan, Tari Topeng Malangan ini berbasis Cerita Panji, sebuah kisah asli nenek moyang yang telah menyebar hingga Thailand.

“Topeng Malangan ini istimewa, karena meskipun Malang jauh dari pusat pemerintahan di Solo dan Yogya, tapi ibu raja-raja Jawa yaitu Ken Dedes berasal dari Malang,” ungkapnya.

Senada dengan Presiden Gubuk, Ari Ambarwati menjelaskan ada cara mencintai seni tradisi ini, yakni antara lain bisa dengan mengapresiasi pagelaran, mentransformasikan atau menjadi semacam cerita pendek.

“Marilah sajian itu dipindahkan jadi puisi, cerpen ilustrasi bergambar. Ini adalah kisah yang sexy untuk belajar bahasa asing untuk penutur asing,” ujarnya.

Menurut pengurus Lesbumi NU ini, materi dalam lakon ini penuh dengan filosofi dan sangat menarik.

Misalnya dalam sebuah pertarungan ternyata ada seninya, yakni lewat sebuah negosiasi dan dibawakan secara elegan.

Bahkan dalam Cerita Panji tidak ada yang berujung dengan kematian, tidak ada ‘sad ending’.

Hal-hal seperti ini, imbuhnya, semoga bisa diimplementasi sebagai materi ajar dalam berbagai platform, bahkan sebuah film pendek.

“Intinya dari sini adalah semua butuh proses, tidak ada yang instan. Belum lagi effort dan stamina luar bisa dari para penampil yang menari dengan durasi cukup lama,” ucap dosen yang sekaligus penulis dan peneliti bacaan anak-remaja ini.

Ketua Pelaksana kegiatan Viki Asan Wildan mengungkapkan, pertunjukan yang pertama kali dihadirkan di kampus ini merupakan salah satu bagian mata kuliah Keprotokolan untuk membuat sebuah acara.

“Sebenarnya banyak sekali budaya di Malang, dan salah satunya yang kita angkat adalah Topeng Malangan karena searah dengan mahasiswa di ranah bahasa dan sastra yang nantinya implementasinya apa di sebuah pendidikan,” urai mahasiswa asal Jabung, Kabupaten Malang ini.

Bagi Viki, acara yang baru ini sangat menarik, yang diharapkan mendorong dirinya dan mahasiswa lainnya untuk mengenal budaya atau Nguri-uri Budaya Nusantara melalui karya anak bangsa.

Pewarta : Nedi Putra AW

Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 317 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Fraksi NasDem: Angket dan Interpelasi Hak DPRD, Menyikapi Juga Bagian dari Hak

4 Mei 2026 - 17:55 WIB

Satreskrim Polres Batu-DPUPR Jatim Siapkan CCTV dan Pagar Besi di Jembatan Cangar

4 Mei 2026 - 16:49 WIB

Lansia Pencari Ikan di Ngajum Ditemukan Tewas di Sungai, Diduga Terpeleset saat Gunakan Alat Setrum

4 Mei 2026 - 13:10 WIB

Polemik Surat Pindai, Interpelasi Mengintai DPRD Kabupaten Malang

4 Mei 2026 - 12:39 WIB

Usulan Interpelasi FPDIP Malang Direaksi Gerindra, Adeng : Politik Dibangun dengan Dialektika Bukan Keangkuhan

4 Mei 2026 - 07:56 WIB

Motor Jemaah Hilang Saat Salat Isya, Curanmor Masjid di Gondanglegi Bikin Warga Resah

4 Mei 2026 - 05:15 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !