BACAMALANG.COM – Hingga saat ini, telah terjadi perubahan iklim yang menimbulkan fenomena pemutihan karang (coral bleaching) yang menjadi perhatian serius dunia termasuk Indonesia.
Hal ini terutama karena dampaknya yang merugikan ekosistem laut dan ketahanan pangan masa depan.
Founder Sahabat Alam Indonesia (SALAM), Andik Syaifudin mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena pemutihan karang.
Ia menuturkan, pemutihan karang terjadi akibat perubahan iklim, khususnya peningkatan suhu air laut.
Andik mengungkapkan beberapa poin penting yang perlu diperhatikan. Pemutihan karang terjadi ketika terumbu karang kehilangan warna akibat stres lingkungan, terutama karena peningkatan suhu air laut yang terlalu tinggi. Terumbu karang biasanya dapat hidup pada suhu 20-29°C.
Namun, gelombang panas seperti El Niño menyebabkan permukaan air laut meningkat 1 hingga 2°C, mengancam kelangsungan hidup ekosistem terumbu karang.
“Kejadian pemutihan karang, telah terjadi pada tahun 2016, 2018, 2023, dan 2024,” tukasnya kepada BacaMalang.com, Rabu (19/6/2024).
Wilayah yang terdampak di pesisir Indonesia, salah satu daerah meliputi selatan Jawa dan utara Jawa, terutama di Jawa Timur, seperti Malang Selatan, Trenggalek, Tulungagung, Banyuwangi, Situbondo, dan Probolinggo.
Dijelaskannya, peran penanaman pohon dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Perubahan iklim tidak hanya terjadi di laut, tetapi juga di daratan. Aktivitas degradasi lahan berkontribusi pada perubahan iklim.
Salah satu cara mengurangi dampak perubahan iklim adalah dengan menanam pohon sehingga mereduksi suhu permukaan daratan yg juga berpengaruh pada cuaca, angin, suhu, dan gelombang air laut
Selain itu, lanjut Andik, konversi dari energi fosil ke energi terbarukan juga penting dilakukan.
“Perubahan iklim tak lepas dari aktivitas degradasi lahan di daratan, salah satu mengurangi dampak perubahan iklim adalah menanam pohon, mengurangi dampak efek rumah kaca dengan konversi energi fosil menuju energi baru terbarukan. Kami menyerukan penanaman pohon secara masif dan menjaga ekosistem terumbu karang,” tutupnya.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki




















































