Kueh Putu Klojen Angin Laot, Ketika Generasi Milenial Menjadi Pencari Uang Tenaga Uap - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EKOBIZ · 30 Jun 2024 17:52 WIB ·

Kueh Putu Klojen Angin Laot, Ketika Generasi Milenial Menjadi Pencari Uang Tenaga Uap


 Ivan Rahman saat mengukus kue putu di kios Kueh Putu Klojen Angin Laot Pasar Klojen, Kota Malang, Minggu (30/6/2024). (Nedi Putra AW) Perbesar

Ivan Rahman saat mengukus kue putu di kios Kueh Putu Klojen Angin Laot Pasar Klojen, Kota Malang, Minggu (30/6/2024). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Kue putu adalah salah satu kudapan tradisional Indonesia berupa isian gula jawa yang dibalut dengan parutan kelapa dan tepung beras butiran kasar. Salah satu ciri khasnya adalah dikukus dengan diletakkan di dalam tabung bambu yang sedikit dipadatkan, hingga berbunyi mirip peluit sebagai tanda sudah matang.

Kue ini biasanya dijumpai di pasar-pasar tradisonal maupun dijajakan para pedagang keliling. Seperti di pasar Klojen, Kota Malang, yang ternyata ada salah satu kios yang menyediakan jajan pasar yang biasanya dijajakan mulai sore hingga malam hari ini dan bernama Kueh Putu Klojen Angin Laot.

Uniknya kue putu ini termasuk sedikit dari yang dikelola generasi milenial. Adalah Dicky Iswahyu Pratama, 28, dan Ivan Rahman, 32, yang tampak tak henti mengolah kue putu itu untuk disajikan kepada para pengunjung pasar yang berlokasi di Jalan Cokroaminoto Kota Malang tersebut.

“Kami sengaja ingin mengangkat jajanan tradisional ini karena awalnya mencari produk yang ada memory atau kenangan dengan orang tua. Dulu saya sering diajak ibu beli putu, seperti Puthu Lanang yang terkenal itu, maupun membeli dari penjual putu keliling yang lewat rumah,” ungkapnya kepada BacaMalang.com di pasar Klojen, Minggu (30/6/2024).

Dikatakan Dicky, pasar Klojen dipilih, karena memang terasa ada kecocokan antara putu sebagai jajan tradisional dan pasar Klojen sebagai pasar tradisional.

Kueh Putu Klojen Angin Laot siap dibawa pulang. (Nedi Putra AW)

Apalagi di pasar ini sementara tidak ada yang menjual putu, meski ada banyak kuliner lain seperti nasi pecel, mie ataupun kue-kue basah lainnya.

Walau tampaknya ringan, Dicky mengaku sangat bersungguh-sungguh dalam usaha mewujudkan niatnya ini.

Bersama Ivan ia melakukan research and development atau penelitian dan pengembangan selama 6 bulan untuk menemukan rasa yang pas untuk kuenya.

“Sementara kami tidak punya resep khusus warisan keluarga, sehingga yang kami lakukan adalah mencari informasi dari berbagai platform media sosial, baik itu ChatGPT, TikTok, YouTube serta dari teman-teman yang siap membantu mencari resep putu terbaik. Jadi meski tampaknya sepele tapi kami tidak main-main dalam berbisnis jajan pasar ini,” ungkap pria yang juga menjalankan usaha warung kopi dan mie ini.

Ternyata, imbuh dia, mengaplikasikan resep-resep dengan memanfaatkan teknologi tidaklah cukup.

Sejumlah kegagalan dari ‘trial dan error’ yang dilakukan mendorong mereka untuk turun ke jalan, ‘berguru’ kepada sejumlah penjual yang telah eksis sebelumnya di Kota Malang, antara lain Pak Hadi, seorang penjual putu keliling sekitar RRI, juga ke penjual putu di pertigaan Dinoyo, putu Jagalan hingga Puthu Lanang di kawasan Celaket yang merupakan legenda kue putu Kota Malang.

Dicky Iswahyu Pratama saat melayani pengunjung kios Kueh Putu Klojen Angin Laot di Pasar Klojen, Kota Malang, Minggu (30/6/2024). (Nedi Putra AW)

“Ternyata semua penjual tersebut memiliki ciri khas tekstur dan cara pembuatan masing-masing, karena hasilnya tergantung tekniknya juga, baik itu bahan baku, perendaman, hingga cara mengukus. Berbekal dari upaya tersebut, akhirnya kami menemukan ciri khas kami sendiri dan memberanikan untuk mulai membuka usaha ini pada 28 Juni 2024 lalu,” papar warga Klayatan, Sukun ini.

Dicky mengaku sebagai awal, pihaknya hanya menyediakan 15 porsi per hari atau sekitar 1,5 kg adonan.

“Ternyata responnya sangat lumayan, bahkan pada hari Minggu ini sudah ‘sold out’ hanya dalam waktu 2 jam saja,” tukasnya.

Saat ini, selain putu ia juga menjual bakpao dan berencana juga kuliner lainnya seperti bakcang.

Mereka menyasar pengunjung secara umum, namun ternyata cukup banyak kalangan muda yang tertarik dengan jajan pasar ini.

“Produk kuliner kami nantinya akan berupa produk kukusan, karena tagline kami prinsipnya seperti singkatan dari putu itu sendiri yakni ‘Pencari Uang Tenaga Uap’,” tandasnya.

Sebagai langkah awal, Dicky akan mempersiapkan kue putu ini lebih baik lagi untuk hari-hari selanjutnya berdasarkan evaluasi dari penjualan sebelumnya.

Kue Putu Klojen Angin Laot ini dijual dengan harga Rp. 8.000 untuk isi 5 dan Rp. 15.000 untuk yang isi 10 biji.

Sementara bakpao ayam dibanderol dengan harga Rp. 7.000, dan bakpao kacang hijau cukup dengan harga Rp. 5.000 saja.

Pewarta : Nedi Putra AW

Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 230 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Kirab Banteng 1 Suro Jadi Simbol Pelestarian Budaya, Nurochman-Heli Kompak Perkuat Identitas Kota Batu

22 Juni 2026 - 19:26 WIB

Mahasiswa Singosari Kehilangan Vario Baru, Digondol Maling Saat Bersih-Bersih Ruko untuk Buka Kafe

22 Juni 2026 - 19:22 WIB

Lansia di Sumberpucung Dirampok, Mobil Honda Jazz dan Uang Tunai Dibawa Kabur

22 Juni 2026 - 18:24 WIB

Koordinator BGN Pujon Ungkap Kunci Sukses Program MBG: Sinergi dan Komunikasi Jadi Fondasi Utama

22 Juni 2026 - 18:11 WIB

Anjungan Air Siap Minum Dirusak, Tugu Tirta Prihatin dan Ajak Warga Jaga Fasilitas Publik

22 Juni 2026 - 17:14 WIB

Nasabah FIF Kecewa Angsuran Digelapkan, Motor Ditarik Paksa

22 Juni 2026 - 12:39 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !