BACAMALANG.COM – Menjelang Pilkada Kabupaten Malang, perhatian publik tertuju pada pasangan Salaf (HM Sanusi dan Hj Lathifah Shohib) yang dikabarkan diusung oleh PDIP dan PKB. Meskipun paslon ini memiliki kekuatan besar, peluang bagi paslon non petahana untuk memenangkan pertarungan tetap terbuka.
Pengamat Politik dari Universitas Brawijaya (UB), Wawan Sobari, mengapresiasi langkah gigih Gunawan Wibisono (Abah Gun) yang berpartisipasi dalam kontestasi ini sebagai bagian dari proses demokrasi. Namun, keberhasilan paslon ini bergantung pada dukungan partai politik (parpol) dan kader serta respons dari masyarakat di Kabupaten Malang.
Meskipun pasangan Salaf memiliki kekuatan yang kuat, tekad Abah Gun juga patut diakui. Kini, peran parpol menjadi penentu apakah mereka akan mengusung kandidat non-petahana. “Selain fokus pada pemenangan, penting bagi tokoh dan kandidat untuk memprioritaskan gagasan politik, karena 3 juta warga Kabupaten Malang mengharapkan pemimpin yang membawa perubahan,” ungkap alumnus Universitas Pajajaran ini.
Terpisah, Tokoh Masyarakat Dampit, Miskari, menghitung secara kalkulatif bahwa Paslon Salaf sudah memiliki dukungan yang solid. Meskipun pasangan ini bersaing dengan rival di Pilkada 2020, pengurangan dukungan seiring berjalannya waktu dapat diatasi. Lathifah, dengan gaya politisi gerilya, memiliki basis massa yang kuat meskipun tampak landai di permukaan
“Penting juga untuk mengingat bahwa kemenangan HM Sanusi pada 2020 berkat dukungan basis massa PDIP dan PKB. Kini, dengan bersatunya Sanusi dan Lathifah, basis pendukung semakin yakin mendukung keduanya. Dukungan dari partai seperti PDIP, PKB, Nasdem, Hanura, dan PKS membuat lawan tanding potensial hanya terbatas pada koalisi Golkar dan Gerindra. Jika itu terjadi, tentu siapapun lawan yang akan muncul tidak akan mudah untuk memenangkan pertarungan,” paparnya.
Menurutnya, kesempatan bagi Abah Sanusi untuk memperkuat kebijakan pembangunan masih luas. Hari ini, hampir di seluruh desa yang memiliki hajatan Suroan, HM Sanusi aktif berinteraksi dengan konstituen. Meskipun politik tidak mengenal yang tidak mungkin, kekuatan duet Sanusi-Lathifah tetap menjadi faktor kunci
“Ini beda seandainya keduanya berhadapan lagi, terutama jika hanya ada 2 calon, pertarungan akan semakin seru. Pada Pilkada 2020, selisih suara antara HM Sanusi dan Lathifah hanya 3 persen. Bahkan tanpa calon Malang Jejeg, HM Sanusi bisa saja kalah waktu itu,” imbuhnya.
Pewarta: Hadi Triswanto,
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga




















































