BACAMALANG.COM – Dalam enam bulan terakhir, harga kopi di Kawasan Gunung Kawi dan Malang Raya mengalami lonjakan drastis, mirip balon udara yang dilepas ke angkasa. Fenomena ini diungkapkan oleh Pietra Widiadi, Founder Yayasan DIAL dan community learning Pendopo Kembangkopi.
“Sejak enam bulan terakhir, harga kopi di Kawasan Gunung Kawi dan Malang Raya melayang tinggi seperti balon udara. Untuk kopi asalan kering, harganya mencapai Rp 79 ribu per kg,” ujar Pietra, alumnus FISIP Universitas Airlangga.
Kenaikan harga kopi ini seiring dengan naiknya harga barang kebutuhan pokok lainnya, yang menjadi persoalan bagi masyarakat, terutama keluarga penikmat kopi.
Panen Raya dan Produksi Kopi
Panen raya telah dimulai di Dusun Ngemplak, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Meski belum banyak yang bisa dipanen karena menunggu buah merah ranum, dalam dua minggu terakhir, hampir 150 kg petik merah telah diperoleh dari lahan seluas hampir 1 hektar. Panen dilakukan secara reguler harian untuk pemilahan petik merah.
Penyebab Kenaikan Harga Kopi
Beberapa faktor penyebab kenaikan harga kopi antara lain:
1. Cuaca Buruk: Dalam dua tahun terakhir, panen kopi tidak cukup raya karena cuaca buruk atau perubahan cuaca yang tidak menentu.
2. Permintaan Tinggi: Permintaan kopi meningkat, sementara pasokan dari wilayah Malang dan sekitarnya tidak mencukupi.
3. Kekurangan Pasokan: Ketersediaan kopi dalam negeri mengalami kekurangan, meskipun Indonesia merupakan salah satu penghasil kopi terbesar ketiga di dunia dan konsumen kopi terbesar kelima di dunia.
Harga kopi di tingkat konsumen, seperti di kedai kopi dan café, tidak ada patokan yang jelas, sehingga memicu gejolak harga di pasaran. Di perkotaan, banyak kedai kopi yang tidak menggunakan bahan kopi murni dalam penyajian, melainkan sirup kopi dan cream berasa kopi.
Peralihan Komoditi
Perubahan komoditi di kawasan Gunung Kawi, seperti di Kecamatan Wagir, Dau, dan Wonosari, menunjukkan tren petani yang beralih dari kopi ke jeruk manis. Petani menganggap jeruk lebih menjanjikan dibandingkan kopi, yang menyebabkan penurunan suplai kopi.
Kenaikan harga kopi tidak hanya dipengaruhi oleh cuaca, tetapi juga oleh gaya hidup konsumen, persepsi petani tentang harga jual, dan alih fungsi lahan. Di Kabupaten Malang, alih komoditi ke jeruk dan sawit, yang didorong oleh Bupati Malang, Sanusi, turut mempengaruhi suplai dan permintaan kopi.
Pemilik akun IG warung_kembangkopi, Pendopo_Kembangkopi, dan Piet_Widiadi menyimpulkan bahwa kenaikan harga kopi dipengaruhi oleh berbagai faktor, membuat pedagang kopi kesulitan menyesuaikan harga jual minuman kopi.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































