BACAMALANG.COM – Petani Salak di Dampit menghadapi tantangan besar dengan melimpahnya hasil panen yang menyebabkan harga salak anjlok. Menurut Ketua Kelompok Tani Salak Sukodono, Sutiono, Salak sebenarnya bisa berbuah sepanjang tahun, terutama jika ketersediaan air mencukupi. Namun, musim panen utama terjadi pada Bulan Desember dan Januari, yang sering kali bertepatan dengan panen buah lainnya, sehingga harga salak menjadi sangat murah.
“Saat panen raya, apalagi berbarengan dengan buah lain, tentu harga jadi sangat murah,” ujar Sutiono. Hingga saat ini, belum ada langkah khusus yang diambil untuk mengatasi masalah ini karena dianggap sebagai faktor alami.
Petani juga menyarankan diversifikasi produk olahan salak sebagai alternatif usaha bagi masyarakat. “Jika petani dan masyarakat lokal memahami produk diversifikasi olahan salak, meskipun tidak berdampak signifikan pada petani, bisa menjadi alternatif usaha. Misalnya, membuat kripik, jenang, dodol, sari buah, es krim, atau Salak kupas beku,” tambahnya. Namun, ini membutuhkan edukasi dan dukungan dari pemerintah untuk mengembangkan keterampilan mengolah salak menjadi produk turunan yang bernilai tambah.
Selain itu, petani berharap salak dapat dimasukkan dalam program makan siang gratis di masa depan. “Salak juga merupakan buah yang baik karena mengandung serat tinggi dan betakaroten. Dengan harga yang relatif murah, Salak bisa terjangkau untuk menu makan siang gratis,” jelasnya. Namun, ada tantangan dalam mengubah persepsi masyarakat yang salah kaprah tentang Salak, seperti anggapan bahwa Salak dapat menyebabkan asam urat.
Petani Salak di Dampit berharap pemerintah dapat lebih peduli dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk mengatasi masalah harga rendah dan membantu meningkatkan kesejahteraan petani melalui berbagai program dan edukasi.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































