BACAMALANG.COM – Satu lagi tempat unik ada di Kota Malang. Adalah Cafe Bunker Gedong Ijen yang menawarkan konsep ngopi di dalam bunker atau bangunan bawah tanah. Para pengunjung kafe di Jalan Terusan Ijen nomor 2B ini dapat menikmati kuliner di dalam ruang bersejarah peninggalan Belanda tersebut. Kafe ini mendadak viral di media sosial sejak bulan puasa lalu.
Banyak pengunjung yang mengunggah suasana di dalamnya di sejumlah platform media sosial.
Sekilas memang cafe ini tampak seperti bangunan biasa, sementara ada jalan khusus menuju bunker, dimana pengunjung harus menuruni anak tangga dan masuk ke jalur yang cukup sempit, dengan tinggi dan lebar 160 x 160 sentimeter saja.
Pemilik kafe Gedong Ijen Mohamad Haris Ishaq menuturkan, sebenarnya Cafe Bunker yang belum genap sebulan ini masih dalam tahap trial soft opening. “Berawal dari persiapan pada bulan puasa lalu, dimana ada salah satu undangan yang mengunggah video ke media sosial tentang suasana kafe plus bunker yang sebelumnya belum 100 persen siap. Akibatnya setelah itu banyak influencer yang datang dan meliput, sehingga mau tak mau kami harus menyiapkan menu meski ala kadarnya,” ungkapnya kepada BacaMalang.com akhir pekan lalu.

Pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman di dalam bunker Cafe Gedong Ijen. (Nedi Putra AW)
Bunker ini, imbuh Haris, menurut sejarahnya dibangun sekitar 1930-an yang hampir ada di kota-kota seluruh Indonesia atas perintah pemerintah Belanda. Fungsinya sebagai perlindungan dan melarikan diri atau evakuasi para pejabat Belanda, khususnya terhadap serangan Jepang yang diangggap cukup kuat peralatan militernya saat itu.
“Bunker di sebuah kota itu terkoneksi dengan sejumlah titik. Seperti bunker ini yang punya jalur ke rumah para pejabat Belanda di kawasan Jalan Ijen hingga SMA Tugu, Balai Kota, Stasiun serta daerah Singosari,” jelasnya.
Dipaparkan Haris, bunker seluas 80 persegi tersebut terdiri dari 2 ruangan besar dan 2 ruangan kecil yang persis seperti rumah kecil atau apartemen, yakni kamar, ruang keluarga, dapur dan toilet. Atap bunker dengan lantai kafe ini dipisahkan satu meter oleh lapisan tanah dan beton. Sementara akses sampai ke Tugu diberi teralis dan sengaja ditutup oleh pemilik sebelumnya pada sekitar tahun 2019 karena lembab, sempit dan kadar oksigennya juga sangat tipis agar orang tidak masuk ke dalamnya.

Pemilik kafe Gedong Ijen Mohamad Haris Ishaq bersama salah satu menu andalan Nasi Bunker. (Nedi Putra AW)
Sebagai bangunan bersejarah, bunker ini statusnya adalah Cagar Budaya yang masuk dalam sertifikat. Keunikan dan eksistensi bunker inilah yang dimanfaatkan Haris sebagai daya tarik dari kafe Gedong Ijen tersebut. “Saya ingin bunker ini dapat dieskplorasi sebagai tempat wisata, khususnya wahana edukasi sejarah, sehingga bukan saja bermanfaat dari sisi pengetahuan sejarahnya, tapi juga bagi warga sekitar maupun UMKM untuk menggerakkan roda ekonomi, termasuk ada sesi foto plus penyewaan baju-baju kuno,” ujarnya.
Sebagai wahana edukasi, ia juga menggelar podcast di dalamnya. Sementara untuk pemandu wisata masih ia tangani sendiri bersama sejumlah crew-nya. Haris menegaskan, bahwa konsep ini ia kedepankan karena orang dari luar kota yang berkunjung ke Malang saat ini bukan hanya tentang kuliner saja, namun juga kepada kenang-kenangan audio visual berupa foto dan video. Meski demikian ia masih belum menerapkan konsep pre-wedding di dalam bunkernya. “Sementara cukup photo-shoot gratis saja, untuk pre-wedding dan sebagainya nanti harus konfirmasi dulu dengan kami,” tegas pria yang cukup lama berkarir di dunia perbankan ini.
Dijelaskan Haris, untuk menu nantinya akan lebih variatif dari yang saat ini masih didominasi western, dan akan mengarah ke makanan-makanan tradisional. “Tapi salah satu yang sudah ready adalah nasi bunker yang cukup terjangkau dan best seller di sini,” ucapnya.
Meski demikian Haris menerapkan sejumlah peraturan yang harus ditaati pengunjung, antara lain tidak boleh merokok di dalam bunker dengan alasan asap akan cepat memenuhi ruang sempit, dan tidak dianjurkan bagi orang dengan ‘Claustrophobia’ atau punya rasa takut atau cemas yang berlebihan terhadap ruangan sempit dan tertutup. “Tapi silakan kalau mau berfoto dengan beberapa spot yang ada, dan kami sengaja tidak memasang WiFi supaya tidak banyak yang berlama-lama di bawah,” tegasnya.
Selama soft opening, Haris mengaku sudah banyak komunitas sejarah dari Malang maupun luar kota Malang yang memanfaatkan bunker Gedong Ijen sebagai spot foto dan konten video. bahkan sebagian dari mereka rela menggunakan kostum jaman Belanda agar ‘match’ dengan venue yang ada, dimana Haris juga memasang sejumlah foto-foto kuno tentang Kota Malang yang diambil pada tahun 1920-1930-an. “Sumbernya banyak saya ambil dari Leiden,” ungkap pria yang juga penggemar fotografi dan keliling dunia ini.
Ke depan, ia juga akan mengembangkan konsep kafe di atas bunker dengan tiga ruang yang namanya diadopsi dari negara Eropa. Gerryn bersama ketiga temannya, adalah sebagian dari pengunjung yang mencoba merasakan sensasi di dalam bunker. Rasa penasaran mereka berawal dari ramainya unggahan kafe ini di media sosial, khususnya Instagram. Mereka asyik mencoba beberapa spot untuk berfoto, sambil menanti pesanan makanan dan minuman. “Kalau menurut saya, kafe ini akan sangat menarik dan unik bagi pengunjung yang memang suka dengan sejarah,” tandas wanita asal Turen, Kabupaten Malang ini.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga





















































