BACAMALANG.COM – Salah satu tradisi saat Idul Adha di Kota Malang adalah pawai atau arak-arakan hewan kurban. Seperti yang dilaksanakan di Jl Kyai Tamin, kawasan Kidul Pasar Besar, Klojen, Sabtu (7/6/2025). Sejak pukul 07.00 daerah di sekitar Masjid Noor dipadati warga yang mengarak puluhan kambing dan sapi kurban. Warga dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia larut dalam.pawai turun ke jalan, dengan diiringi lantunan takbir.
Ketua Panitia Arak-arakan Hewan Kurban Kidul Pasar Besar, Azwin Muzaki menyampaikan, hewan-hewan kurban dikumpulkan di depan masjid setempat, lalu diarak menuju titik transit di kawasan Kidul Pasar. “Kegiatan pawai ini sudah menjadi menjadi tradisi turun-temurun di sini sejak tahun 1985,” ujarnya.
Menurut warga RT 03, RW 07 Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen ini, warga sejak dulu menganggap hewan yang diarak akan lebih tenang dan layak saat disembelih. Pria berusia 48 tahun ini menambahkan, selain meneruskan tradisi para sesepuh, latar belakang kedua adalah syiar agama, yakni merayakan Hari Raya Idul Adha.
Azwin menjelaskan, prosesi arak-arakan ini bukan hanya menjadi pengingat momen pengorbanan dalam ajaran Islam, namun juga kepada upaya menghidupkan nilai-nilai sosial dalam komunitas. “Selain warga jadi guyub rukun, kami ingin menggugah masyarakat khususnya di lingkungan Kidul Pasar agar antusias berkurban setiap tahunnya,” ungkapnya

Warga Kidul Pasar menggunakan katrol besi setinggi 3 meter dalam proses pemotongan karkas atau daging sapi kurban, Sabtu (7/6/2025).(Nedi Putra AW)
Usai prosesi, barulah hewan disembelih secara bergiliran. Azwin memaparkan, bahwa semangat berkurban masyarakat terlihat meningkat, dimana jumlah hewan kurban yang dihimpun panitia mengalami kenaikan signifikan, yakni 89 ekor kambing dan 5 ekor sapi. “Atas masukan dari divisi perlengkapan, maka dibuatlah semacam katrol dari besi yang digunakan khusus untuk mempermudah memotong bagian-bagian daging sapi,” tukasnya.
Dikatakan Azwin, katrol setinggi sekitar 3 meter ini ternyata cukup efektif untuk menangani pemotongan karkas atau bagian daging sapi dari segi waktu, mengingat jumlah sapi yang disembelih cukup banyak.
Sementara itu, partisipasi masyarakat menjadi salah satu bagian menarik dari agenda tahunan ini. Meskipun secara resmi ada sekitar 70 orang panitia resmi, namun hampir seluruh warga terlibat aktif. Baik dalam pengumpulan hewan, penyembelihan, hingga pembagian daging. Mulai dari bapak-bapak, kaum muda hingga golongan ibu-ibu yang tak lelah menyiapkan konsumsi bago panitia maupun para tamu, sehingga suasana akrab dan gotong-royong ini menjadi pemandangan yang menyejukkan.
Mereka juga kompak mengenakan kaos yang di bagian belakangnya bertuliskan ‘Van Oorschot Weg’, nama jalan pada masa Belanda untuk kawasan yang juga dikenal sebagai daerah Comboran ini.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga




















































