Panji Mangu, Suguhan Romantisme Tradisi Bernuansa Kekinian Bagi Generasi Z - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

RAGAM · 14 Jul 2025 15:29 WIB ·

Panji Mangu, Suguhan Romantisme Tradisi Bernuansa Kekinian Bagi Generasi Z


 Salah satu adegan antara Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji dalam pentas Wayang Topeng Panji Mangu yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, di Taman Krida Budaya Jatim, Jalan Soekarno-Hatta Kota Malang, Minggu (13/7/2025). (Nedi Putra AW) Perbesar

Salah satu adegan antara Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji dalam pentas Wayang Topeng Panji Mangu yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, di Taman Krida Budaya Jatim, Jalan Soekarno-Hatta Kota Malang, Minggu (13/7/2025). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Sastra Panji lahir pada akhir abad ke-14 di era Majapahit, menghadirkan tokoh utama Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Kisah mereka sarat akan romansa, petualangan, pencarian, hingga perpisahan. Panji Asmarabangun juga dikenal sebagai Inu Kertapati, sedangkan Dewi Sekartaji disebut pula Galuh Candra Kirana.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur mencoba menghidupkan kembali kisah legendaris ini lewat pertunjukan berjudul Panji Mangu—sebuah repertoar tradisi berbalut nuansa kekinian. Judulnya terinspirasi dari lagu viral yang tengah populer. Pementasan berdurasi 30 menit ini menyajikan cerita Panji dalam kemasan yang lebih segar, tanpa meninggalkan tokoh-tokoh sentral seperti Klana Sewandana dan punakawan, termasuk Semar dan Bagong.

Meski narasi dari dalang tetap dibawakan dalam bahasa Jawa, pertunjukan ini tampil lebih atraktif lewat koreografi tari dan akrobatik yang dinamis khas anak muda Gen Z. Panggung dan tata lampunya menarik, meski masih memiliki ruang untuk pengembangan lebih lanjut. Musik pengiringnya pun unik, memadukan gamelan dengan instrumen modern seperti drum elektrik dan saksofon, menciptakan harmoni antara tradisi dan inovasi.

Menariknya, adegan-adegan antara Bagong dan Semar justru menjadi magnet utama yang memikat perhatian audiens. Selain lucu, keduanya sering melontarkan istilah kekinian yang mengundang tawa. Bagong diposisikan sebagai representasi anak muda zaman sekarang, sementara Semar tetap menjadi simbol kebijaksanaan yang kadang terkesan “kudet”.

Penanggung jawab pertunjukan, Dimas Bagas Atmanadi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Panji Mangu merupakan upaya Pemprov Jawa Timur untuk melestarikan budaya Topeng Malangan, khususnya kisah Panji. “Persiapan kami memakan waktu dua bulan, melibatkan sejumlah sanggar dan komunitas di Malang dengan tujuan mengangkat marwah Panji di Jawa Timur. Harapannya, Topeng Malangan tak hanya diwariskan lewat cerita, tapi dilestarikan secara aktif,” tegas Dimas.

Ia pun berharap pertunjukan seperti ini bisa terus dikembangkan. “Jangan sampai jenuh, karena tujuan kita adalah Topeng Panji untuk Dunia,” tambahnya.

Kepala Bappeda Provinsi Jawa Timur, Mohammad Yasin, turut mengapresiasi antusiasme arek-arek Malang, terutama generasi milenial yang hadir memeriahkan pertunjukan. “Malang luar biasa! Arema masih mau dan mampu melestarikan budaya Topeng Malangan, sesuai dengan program Ibu Gubernur,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Jawa Timur harus mendunia melalui SDM, produk, serta seni budayanya.
“Tapi tentu performance-nya harus didesain dengan baik agar bernilai estetika dan relevan dengan zaman, apalagi Panji kini telah diakui hingga tingkat ASEAN,” jelas Yasin.

Ia bahkan mengusulkan agar pertunjukan Panji diadakan rutin di Taman Krida Budaya Jatim.
“Melihat respons penonton, bagaimana kalau Panji ini dipentaskan sebulan sekali?” cetus alumnus Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya itu.

Kepala Bappeda Provinsi Jawa Timur Mohammad Yasin (jaket putih, tengah), bersama Kepala Disbudpar Jatim, Evy Afianasari (berhijab), Koordinator Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur Suroso (memakai udeng) bersama undangan lainnya berfoto dengan pendukung pentas Wayang Topeng Panji Mangu di Taman Krida Budaya Jatim, Jalan Soekarno-Hatta Kota Malang, Minggu (13/7/2025). (Nedi Putra AW)

Menjawab tantangan tersebut, Kepala Disbudpar Jatim, Evy Afianasari, menyatakan bahwa pagelaran Topeng Panji Mangu sejalan dengan upaya pelestarian, perlindungan, dan penguatan sektor ekonomi kreatif (ekraf) Jawa Timur. “Anak-anak Gen Z banyak yang terpengaruh budaya luar. Padahal, seni budaya kita tak kalah menarik,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya menggandeng berbagai elemen, mulai dari influencer, event organizer (EO), hingga akademisi dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) untuk melakukan bimbingan teknis dan kurasi, agar pertunjukan dapat diterima semua kalangan, khususnya generasi muda.

Menurut Evy, Topeng Panji layak di-branding dan ditingkatkan lagi oleh Pemprov. Ia mengungkapkan bahwa banyak event provinsi yang selalu menghadirkan Tari Topeng. “Tidak hanya Topeng Panji, kami juga akan memberi ruang bagi seni tradisi lainnya untuk tampil di Taman Krida Budaya Jatim. Namun tentu melalui proses kurasi yang ketat,” tegasnya.

Evy juga menjelaskan bahwa awalnya audiens pertunjukan di Cak Durasim diundang, namun kini tiket mulai dijual. “Ke depan, kami akan bekerjasama dengan PHRI agar bisa masuk ke hotel-hotel dan mengundang tamu yang ada di Malang,” tutupnya.

Sementara itu, Koordinator Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Suroso, menambahkan bahwa Panji Mangu memang dirancang sebagai karya dengan paket khusus untuk generasi milenial. “Ini inisiatif dari Ibu Kadis, yang ingin menyampaikan kegelisahan Panji dalam bahasa yang dimengerti anak muda,” katanya.

Suroso menjelaskan bahwa dalam pertunjukan ini, komposisinya adalah 70 persen pengembangan dan 30 persen tradisi. “Berbeda dengan pentas kami sebelumnya yang justru didominasi oleh tradisi. Kali ini kami balik, agar lebih relevan dengan selera zaman,” pungkasnya.

Pewarta: Nedi Putra AW
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 90 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Prodi Teknologi Pendidikan FIP UNESA Gelar Pelatihan Susun Instrumen Evaluasi Berbasis AI Bagi Guru SMA Barunawati Surabaya

10 Mei 2026 - 16:46 WIB

“Ngleremno Ati”, Saat Kelompok Bermain Mlebu Metu Ajak Malang Menepi dari Kegaduhan

9 Mei 2026 - 11:31 WIB

Tiga Dekade Sheila On 7: Single ‘Sederhana’ Jadi Hadiah Manis untuk Sheilagank

8 Mei 2026 - 10:15 WIB

Siswi SMAN 3 Malang Raih Gold Medal ISIF 2024, Ciptakan Salep Alami untuk Penyembuhan Luka Diabetes

7 Mei 2026 - 08:28 WIB

“Ngleremno Ati” Akan Digelar, Ruang Bunyi dan Jagongan Seni ala Kelompok Bermain Mlebu Metu

5 Mei 2026 - 16:53 WIB

Kelompok Penyanyi Jalanan dari Berbagai Daerah Bersatu di Bulungan, Rayakan Ulang Tahun ke-44

3 Mei 2026 - 01:06 WIB

Trending di RAGAM

©Hak Cipta Dilindungi !