BACAMALANG.COM – Meski fenomena kemarau basah menurunkan ancaman kekeringan di Kabupaten Malang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap bersiaga. Sebanyak 50 tandon air disiapkan untuk mengantisipasi dampak kekeringan di 11 desa rawan, sebagai bagian dari langkah preventif menghadapi puncak musim kering yang diprediksi terjadi Agustus hingga Oktober 2025.
Berdasarkan data terbaru BPBD Kabupaten Malang, jumlah desa yang berpotensi terdampak kekeringan menurun drastis dari 17 desa pada tahun 2024 menjadi 11 desa tahun ini. Penurunan ini dipengaruhi oleh dua faktor utama: kemarau basah yang meningkatkan curah hujan dan perluasan jaringan pelayanan air bersih.
“Beberapa desa sudah terjangkau layanan air bersih. Contohnya, Desa Harjokuncaran kini mendapat suplai air dari Perumda Tirta Kanjuruhan, dan Desa Sumbul di Singosari menerima bantuan air bersih dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur,” jelas Plt. Kepala BPBD Kabupaten Malang, R. Ichwanul Muslimin, Rabu (23/7).
Namun, kata Ichwanul, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama di wilayah selatan Kabupaten Malang. Oleh karena itu, BPBD telah mengajukan bantuan 50 tandon air berkapasitas 1.200 liter ke BPBD Provinsi Jawa Timur dan BNPB untuk mendukung distribusi air bersih ke desa-desa terdampak.
Adapun 11 desa yang masih masuk kategori rawan kekeringan yaitu: Kalipare, Putukrejo, Arjowilangun, Sumberoto, Mentaraman, Sumberbening, Tumpakrejo, Kedungbanteng, Sitiarjo, Sumberagung, dan Sumberejo.
“Kami terus melakukan pemantauan cuaca dan siap melakukan dropping air jika dibutuhkan,” tegas Ichwanul.
BPBD Kabupaten Malang juga berharap curah hujan tetap mendukung selama puncak musim kemarau, serta koordinasi lintas instansi dapat mempercepat penanganan bila terjadi krisis air bersih di daerah terdampak.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































