BACAMALANG.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar
Halal bi halal, di Dome UMM, Senin (30/3/2026).
Ratusan dosen dan karyawan, termasuk unit bisnis UMM, memadati kegiatan bertajuk “Idul Fitri Menguatkan Akidah dan Merajut Ukhuwah”, yang bukan sekadar tradisi tahunan, namun momentum ini dimaknai sebagai ruang refleksi pasca-Ramadan sekaligus penguat solidaritas akademik.
Kegiatan ini juga diramaikan dengan pembagian doorprize menarik, mulai dari paket umrah hingga belasan tabungan haji bagi dosen dan karyawan terpilih.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang juga Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menegaskan bahwa puasa merupakan instrumen untuk mengembalikan jati diri manusia. Menurutnya, manusia tidak hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang diperkuat melalui ibadah Ramadan.
“Puasa secara terminologi berarti menahan. Melalui proses itu, manusia diajak kembali pada hakikat dirinya,” ujarnya.
Prof. Fauzan menjelaskan, Ramadan menjadi momentum memperbaiki kualitas kemanusiaan melalui berbagai amal kebajikan.
“Setelah Ramadan, hadir bulan Syawal yang secara makna berarti peningkatan derajat bagi mereka yang mampu menjalani ibadah dengan baik,” tukasnya.
Meski demikian, Fauzan menilai tantangan terbesar justru terletak pada upaya menjaga kualitas ibadah setelah Ramadan berakhir.
“Yang paling sulit bukan saat Ramadan, tetapi bagaimana mempertahankan kualitas ibadah setelahnya. Ramadan tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus naik ke dimensi spiritual,” ungkapnya.
Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam sambutannya mengutip Surat An-Nahl ayat 126 yang menekankan pentingnya membalas dengan kebaikan dan kesabaran. Ia menilai, puasa seharusnya melahirkan kemampuan mengendalikan diri sekaligus memaafkan sesama.
“Dengan memaafkan, lahir kekuatan. Pasca-Ramadan, kekuatan itu menjadi modal untuk membangun hubungan sosial dan profesional yang sehat,” terangnya.
Menurut rektor, kemampuan mengendalikan diri tercermin dalam ibadah seperti i’tikaf, sementara kebiasaan memaafkan dapat meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan. Sikap tersebut juga membantu dalam mengambil keputusan yang lebih bijak dalam kehidupan kerja.
“Dari budaya memaafkan, kita belajar memahami orang lain dan menjadi lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Rektor juga menegaskan komitmen UMM untuk terus meningkatkan kualitas talenta serta melakukan transformasi menuju kampus yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Halal bi halal ini, lanjutnya, bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari penguatan ekosistem kemanusiaan yang mendorong sivitas akademika menjadi lebih peduli, produktif, dan berdaya saing.
Melalui kegiatan ini, UMM menegaskan bahwa semangat Idul Fitri tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi energi untuk memperkuat solidaritas, meningkatkan profesionalisme, serta menumbuhkan kepekaan sosial di lingkungan kampus.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































