BACAMALANG.COM – Semangat literasi di lingkungan sekolah terus menunjukkan perkembangan positif. Salah satunya ditunjukkan SMPN 2 Pakisaji, Kabupaten Malang, yang berhasil melahirkan lima judul buku fisik karya orisinal siswa sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek.
Momentum tersebut berlangsung bersamaan dengan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ). Tidak hanya diwarnai ujian formal, kegiatan di sekolah itu juga menjadi ajang perayaan kreativitas dan produktivitas literasi siswa.
Lima buku yang diluncurkan merupakan hasil penerapan metode Project Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tahun ajaran 2025/2026. Dua judul di antaranya, Kotak Misteri dan Nada yang Hilang, diserahkan secara simbolis oleh Kepala SMPN 2 Pakisaji, Muhammad Ja’far, S.Pd., kepada Pengawas Pembina, Eko Sulistyawan, di sela peninjauan ujian.
Guru pembina sekaligus editor proyek, Riyami, menjelaskan bahwa program tersebut berawal dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran teks deskripsi untuk siswa kelas 9. Pengembangan cerpen Heksagraf dipilih karena memiliki struktur yang kaya unsur deskriptif.
“Para siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga langsung praktik menyusun draf, menganalisis isi cerita, hingga mengikuti konsultasi intensif selama lima kali pertemuan,” jelasnya.
Proses pendampingan dilakukan secara hybrid, yakni melalui tatap muka di kelas dan konsultasi daring lewat WhatsApp. Riyami menyebut, ketika penjelasan melalui pesan teks belum dipahami, pembina memberikan arahan tambahan melalui pesan suara, telepon, hingga panggilan video untuk membedah naskah bersama siswa.
Seluruh karya kemudian diuji langsung oleh penerbit J Maestro sebagai pemegang konsep Heksagraf. Dari total 73 siswa, sebanyak 64 siswa dinyatakan lolos uji dan berhasil menerbitkan karya dalam bentuk buku.
Tak hanya itu, siswa juga menghasilkan buku bertema fabel melalui integrasi materi teks eksplanasi dan ujian praktik. Dalam proses kreatifnya, mereka turut memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menghitung jumlah kata agar sesuai standar, yakni antara 500 hingga 1.500 kata.
Untuk menjaga orisinalitas karya, setiap siswa diwajibkan menandatangani surat pernyataan keaslian tulisan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menekan plagiarisme sekaligus membangun karakter dan tanggung jawab akademik siswa.
“Bagi karya siswa yang belum masuk tahap pembukuan, sekolah tetap memberikan apresiasi dengan memajang hasil karya mereka di mading sekolah melalui desain digital yang menarik,” ujar Riyami.
Ke depan, SMPN 2 Pakisaji berencana membeli karya para siswa untuk menambah koleksi perpustakaan sekolah sebagai bentuk penghargaan nyata terhadap kreativitas mereka. Sementara terkait pengurusan hak cipta atau HAKI, pihak sekolah masih akan berkoordinasi lebih lanjut mengenai mekanisme dan penganggarannya.
Pencapaian ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Malang untuk terus menumbuhkan budaya literasi yang berkelanjutan dan menghasilkan karya nyata yang bernilai.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































