BACAMALANG.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan diri sebagai kampus inovatif dan mandiri yang konsisten menghadirkan dampak nyata dalam mewujudkan ekosistem berkelanjutan. Melalui tata kelola sirkular terintegrasi, Kampus Putih sukses mengolah sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijau di lingkungan kampus.
Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, MT., menegaskan bahwa sistem pengelolaan ini menjadi solusi efektif yang mampu menyelesaikan dua persoalan sekaligus, yakni pengurangan limbah organik dan pemenuhan kebutuhan pupuk secara mandiri.
“Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” ujar Sandi, Senin (11/5/2026).
Sebagai kampus inovasi mandiri, UMM membuktikan bahwa tata kelola limbah berbasis ekonomi sirkular mampu menuntaskan persoalan sampah kantin sekaligus memenuhi kebutuhan pupuk tanaman kampus dari hasil olahan internal.
Keberhasilan tersebut terlihat dari capaian pengelolaan sampah organik sepanjang 2025. Dari total 438 ton sampah organik yang dihasilkan di seluruh fasilitas kampus, sebanyak 402,9 ton atau setara 92 persen berhasil diolah secara optimal melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III.
“Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” jelasnya.
Siklus pengolahan dimulai dari pemilahan sisa makanan, sayur, dan buah yang berasal dari kantin, taman, hingga kebun edukasi. Sampah organik tersebut kemudian dicacah menjadi ukuran 2–3 sentimeter sebelum masuk tahap fermentasi.
Pada proses fermentasi, sampah dicampur bahan karbon seperti sekam padi dengan tingkat kelembapan 60–70 persen. Setelah difermentasi selama 7–14 hari di reaktor tertutup, material dipindahkan ke unit modular untuk proses vermikompos menggunakan cacing tanah jenis Eisenia fetida.
Cacing tersebut mengurai sampah organik menjadi pupuk kaya nutrisi yang kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan taman kampus, kebun edukasi, hingga lahan pertanian mitra.
Seluruh proses didukung fasilitas modern hasil pengembangan kampus, mulai dari mesin pencacah berkapasitas 200 kilogram per jam, saringan kompos 100 kilogram per jam, hingga granulator 100 kilogram per jam yang dikelola tenaga profesional.
Setelah melalui proses selama 40–60 hari, kompos organik berkualitas tinggi siap dipanen dan dimanfaatkan kembali di lingkungan kampus.
Tak hanya menghasilkan kompos, limbah spesifik dari kantin seperti kulit buah dan sayur juga diolah menjadi cairan eko-enzim. Melalui program edukatif di UMM Edupark, kampus ini mampu memproduksi lebih dari lima liter eko-enzim setiap hari.
Capaian pengolahan 92 persen sampah organik ini menjadi bukti nyata bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan selaras dengan alam. Keberhasilan tersebut sekaligus menegaskan posisi UMM sebagai salah satu pelopor aksi iklim dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan di Indonesia.
“Melalui inovasi dan kemandirian ini, UMM tidak sekadar merawat lingkungan kampusnya sendiri, tetapi juga membangun blueprint inspiratif bagi institusi pendidikan lain untuk bersama-sama menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































