BACAMALANG.COM – Sebanyak 150 peserta mengikuti kegiatan Latihan Operasi Matra Laut (LAT OPS MATLA) yang digelar pada 11–13 Mei 2026 di Pantai Wonogoro, Jalur Lintas Selatan (JLS), Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas potensi Search and Rescue (SAR) di wilayah pesisir Malang Selatan yang memiliki tingkat risiko kecelakaan laut cukup tinggi.
Pelatihan ini diinisiasi oleh Pantai Selatan Rescue (PSR) dengan dukungan TNI Angkatan Laut melalui Lanal Malang. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan relawan dalam menghadapi berbagai kondisi darurat di kawasan pantai selatan.
Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Ketua PSR, Adisih Pirno atau yang akrab disapa Mbah Pirno, mengatakan pelatihan ini menjadi momentum penting dalam membentuk task force SAR laut yang tangguh dan profesional.
“Pelatihan ini sangat dinantikan para relawan karena tidak hanya memberikan pembekalan teknis, tetapi juga penguatan mental saat menghadapi dinamika operasi di lapangan,” ujarnya.
Dari total peserta, sebanyak 39 orang merupakan personel organik TNI AL. Peserta lainnya berasal dari berbagai unsur potensi SAR seperti PSR, MSR, KNDJA 020, RAPI, hingga komunitas relawan dari Malang dan Blitar.
Materi yang diberikan meliputi teknik water rescue, manajemen kebencanaan, pertolongan pertama, navigasi darat dan laut, hingga survival. Pelatihan dipandu instruktur berpengalaman dari satuan elit TNI AL, serta mendapat dukungan dari Basarnas dan BPBD Kabupaten Malang.
Kabid Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Malang, Sadono, mengatakan pihaknya mendukung kegiatan tersebut melalui bantuan logistik, tenaga ahli, dan materi kebencanaan.
“Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kapasitas potensi SAR agar lebih siap menghadapi kondisi darurat di wilayah Kabupaten Malang,” jelasnya.
Sementara itu, Danpos AL Sendang Biru Lanal Malang, Kapten Marinir Ali Sumanggar, menegaskan bahwa latihan ini bertujuan menyamakan persepsi, meningkatkan kemampuan teknis, serta memperkuat soliditas antar personel SAR.
Puncak kegiatan ditandai dengan Full Mission Profile, yakni simulasi operasi SAR terpadu di kawasan pesisir.
Di sisi lain, perwakilan PSR, Rudi Hari Susilo, mengungkapkan masih adanya berbagai tantangan yang dihadapi relawan SAR, terutama terkait keterbatasan sarana dan prasarana pendukung.
“Kebutuhan ambulans, alat komunikasi, hingga dukungan operasional masih sangat minim. Selama ini kami banyak bergantung pada swadaya dan bantuan terbatas dari berbagai pihak,” ungkapnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, kasus kecelakaan laut di kawasan wisata pantai selatan Malang dalam setahun bisa mencapai lima hingga enam kejadian atau lebih. Operasi penyelamatan umumnya dilakukan relawan Malang Raya di bawah koordinasi Basarnas, dengan keterlibatan aktif PSR yang memiliki cakupan wilayah dari Lumajang hingga Blitar.
Selain keterbatasan fasilitas, isu kesejahteraan relawan juga menjadi perhatian. Hingga kini sebagian besar anggota PSR belum mendapatkan jaminan kesehatan maupun ketenagakerjaan yang memadai, padahal risiko operasi penyelamatan sangat tinggi.
Melalui kegiatan ini, PSR bersama seluruh pemangku kepentingan berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah maupun pusat, khususnya terkait dukungan anggaran, pengadaan peralatan, dan perlindungan bagi relawan SAR.
“Relawan adalah garda terdepan dalam operasi kemanusiaan. Sudah seharusnya mereka mendapatkan dukungan yang layak,” tegas Mbah Pirno.
Kegiatan LAT OPS MATLA diharapkan menjadi langkah awal menuju sistem penanggulangan darurat pesisir yang lebih terintegrasi, profesional, dan berkelanjutan di wilayah Malang Selatan.
Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































