BACAMALANG.COM – Memperingati hari jadinya yang ke-28, Morula IVF menggelar kegiatan “Goes To Malang” di Hotel Savana Kota Malang, Minggu (24/5/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Morula IVF Surabaya ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya layanan fertilitas terpadu guna membantu pasangan memperoleh keturunan.
Acara tersebut menjadi wadah edukasi sekaligus konsultasi mengenai berbagai persoalan kesuburan yang masih belum banyak dipahami masyarakat.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni dr. Maya Devi Arifiandi, Sp.OG, Subsp.FER, dr. Benediktus Arifin, MPH, Sp.OG(K), FICS, FIICOG, FESICOG, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG, Subsp.FER, serta dr. Achmad Rheza, Sp.OG, Subsp.FER, dengan moderator Dr. dr. I Wayan Arsana, Sp.OG, Subsp.FER.
Sebanyak 125 pasangan hadir mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan edukasi mengenai perkembangan teknologi program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF), pemahaman tentang berbagai penyebab infertilitas, hingga kisah perjuangan pasien yang berhasil memperoleh buah hati.
Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG, Subsp.FER mengatakan, jumlah pasangan usia subur di wilayah Malang Raya diperkirakan mencapai sekitar 450 ribu pasangan. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 hingga 12 persen diperkirakan mengalami persoalan infertilitas.
“Kalau angka infertilitas itu 10 sampai 12 persen, maka ada sekitar 22 ribu sampai 36 ribu pasangan usia subur yang memerlukan bantuan supaya hamil,” ujarnya.
Menurutnya, masih banyak pasangan yang belum menyadari pentingnya penanganan gangguan kesuburan sejak dini. Padahal, proses penanganannya dilakukan secara bertahap, mulai dari pengaturan waktu hubungan suami istri, terapi obat, laparoskopi, inseminasi, hingga program bayi tabung.
“Kami dari Morula hadir untuk memberikan solusi sekaligus pencerahan bagaimana penanganan masalah kesuburan itu dilakukan,” jelasnya.
Prof. Budi menilai Malang Raya memiliki potensi besar untuk pengembangan layanan fertilitas karena kebutuhan penanganan infertilitas dinilai cukup tinggi.
“Jumlah masalah infertilitas cukup banyak, dan di Malang belum ada. Mudah-mudahan ke depan Malang yang sudah cukup besar ini bisa memiliki pusat bayi tabung,” terangnya.
Sementara itu, dr. Benediktus Arifin, MPH., Sp.OG(K), FICS, FIICOG, FESICOG mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan edukasi tahun ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pesertanya hampir dua kali lipat. Bahkan melebihi kuota yang ada, sehingga kemungkinan nanti akan ada agenda lanjutan. Di kegiatan hari ini ada 125 pasangan yang ikut, dibanding tahun lalu hanya 50 pasangan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, salah satu tantangan saat ini adalah masih adanya anggapan bahwa program memiliki anak bukan menjadi prioritas bagi sebagian pasangan muda. Di sisi lain, angka Total Fertility Rate (TFR) berdasarkan data BPS di sejumlah kota besar, termasuk Malang, justru menunjukkan tren menurun.
“TFR di Malang sekitar 1,8 sampai 1,9. Artinya rata-rata pasangan memiliki anak kurang dari dua. Ini menunjukkan semakin banyak orang yang mengalami kesulitan untuk memiliki anak lebih dari satu,” bebernya.
Selain itu, perubahan pola hidup modern juga disebut menjadi faktor yang memengaruhi tingkat kesuburan. Penundaan usia menikah, tuntutan pendidikan, kondisi ekonomi, hingga gaya hidup disebut berdampak terhadap penurunan fertilitas.
“Lifestyle, nutrisi, pendidikan, ekonomi, sampai keputusan menunda memiliki anak juga berpengaruh. Padahal semakin bertambah usia wanita maupun pria, angka fertilitas juga akan semakin menurun,” terangnya.
Melalui kegiatan ini, Morula IVF Indonesia juga memperkenalkan berbagai teknologi fertilitas terkini yang dimiliki, termasuk layanan bayi tabung dengan teknologi yang disebut telah berkembang dan setara dengan fasilitas di luar negeri.
Pewarta : Rohim Alfarizi
Editor : Rahmat Mashudi Prayoga


























































