BACAMALANG.COM – Pendopo Kembangkopi di Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, menjadi ruang refleksi atas krisis lingkungan dan budaya melalui pemutaran bersama (nobar) film dokumenter Menolak Punah, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan yang dilanjutkan dengan diskusi ini menghadirkan Maria Purbo serta Pietra Widiadi, Founder Pendopo Kembangkopi, sebagai pemantik.
Film dokumenter tersebut mengajak penonton menelusuri sisi lain dari industri fesyen modern yang selama ini jarang terlihat. Di balik tren pakaian murah dan pergantian mode yang cepat, tersimpan persoalan besar berupa lonjakan limbah tekstil, pencemaran lingkungan, hingga ancaman terhadap warisan budaya sandang Nusantara.
“Film ini mengajak penonton sadar untuk menolak kepunahan lingkungan dan budaya dengan mulai mengubah cara kita mengonsumsi pakaian,” ujar Pietra Widiadi kepada Bacamalang, Senin (23/6/2026).
Dalam film tersebut, budaya fast fashion digambarkan sebagai salah satu pemicu utama meningkatnya sampah tekstil. Pakaian yang dibeli untuk mengikuti tren sering kali hanya digunakan dalam waktu singkat sebelum berakhir di tempat pembuangan. Akibatnya, limbah kain terus menumpuk dan memperparah kerusakan lingkungan.
Tak hanya menghasilkan sampah, banyak produk fesyen modern menggunakan serat sintetis yang dapat terurai menjadi mikroplastik. Partikel-partikel kecil ini mencemari sungai, tanah, hingga lautan, lalu masuk ke rantai makanan dan berpotensi mengancam kesehatan manusia dalam jangka panjang.
“Industri fast fashion mendorong budaya konsumsi pakaian serba cepat dan murah sehingga pakaian sering dibeli untuk penggunaan sesaat lalu dibuang ketika tren berubah,” kata Maria Purbo.
Selain menyoroti dampak ekologis, Menolak Punah juga mengangkat isu kedaulatan sandang Indonesia. Ironisnya, meski kapas menjadi salah satu simbol kemakmuran dalam lambang negara, Indonesia saat ini masih bergantung hampir sepenuhnya pada kapas impor. Di sisi lain, tradisi menanam kapas lokal dan budaya tenun yang diwariskan turun-temurun semakin kehilangan regenerasi.
Film ini kemudian membawa penonton ke Nusa Tenggara Timur, khususnya wilayah Manggarai dan Flores. Di sana, kehidupan para penenun tradisional menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat masih mempertahankan praktik sandang yang ramah lingkungan melalui penggunaan kapas lokal, pewarna alami, dan pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dokumentasi kehidupan masyarakat di Kampung Barang, Cibal, menunjukkan bahwa tradisi tenun bukan sekadar aktivitas budaya, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan alam sekaligus mempertahankan identitas lokal. Kawasan Flores juga menjadi saksi perjuangan masyarakat adat dalam menjaga budidaya kapas lokal sebagai fondasi kemandirian sandang.
Melalui kontras antara kehidupan masyarakat perkotaan yang akrab dengan budaya konsumtif dan masyarakat adat yang hidup selaras dengan alam, film ini menyampaikan pesan kuat bahwa solusi atas krisis lingkungan tidak selalu datang dari teknologi atau industri semata. Kearifan lokal yang telah bertahan selama ratusan tahun justru menawarkan alternatif yang lebih berkelanjutan.
Film Menolak Punah mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan pola konsumsi yang lebih bijak, seperti mengurangi pembelian pakaian yang tidak diperlukan, memperbaiki pakaian yang rusak, melakukan upcycle atau mengolah kembali pakaian lama menjadi produk baru, serta merawat pakaian agar dapat digunakan lebih lama.
Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai mampu mengurangi limbah tekstil sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan, ekonomi lokal, dan pelestarian budaya sandang Nusantara.
Pada akhirnya, film ini menegaskan bahwa masa depan sandang Indonesia tidak hanya ditentukan oleh industri dan pasar, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga sumber daya alam, budaya, serta pengetahuan lokal yang menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































