Nobar Film "Menolak Punah" di Wagir, Menggugat Fast Fashion dan Menghidupkan Kembali Kedaulatan Sandang Nusantara - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

RAGAM · 24 Jun 2026 07:21 WIB ·

Nobar Film “Menolak Punah” di Wagir, Menggugat Fast Fashion dan Menghidupkan Kembali Kedaulatan Sandang Nusantara


 Suasana nobar Perbesar

Suasana nobar "Menolak Punah". (Pietra for BacaMalang)

BACAMALANG.COM – Pendopo Kembangkopi di Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, menjadi ruang refleksi atas krisis lingkungan dan budaya melalui pemutaran bersama (nobar) film dokumenter Menolak Punah, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan yang dilanjutkan dengan diskusi ini menghadirkan Maria Purbo serta Pietra Widiadi, Founder Pendopo Kembangkopi, sebagai pemantik.

Film dokumenter tersebut mengajak penonton menelusuri sisi lain dari industri fesyen modern yang selama ini jarang terlihat. Di balik tren pakaian murah dan pergantian mode yang cepat, tersimpan persoalan besar berupa lonjakan limbah tekstil, pencemaran lingkungan, hingga ancaman terhadap warisan budaya sandang Nusantara.

“Film ini mengajak penonton sadar untuk menolak kepunahan lingkungan dan budaya dengan mulai mengubah cara kita mengonsumsi pakaian,” ujar Pietra Widiadi kepada Bacamalang, Senin (23/6/2026).

Dalam film tersebut, budaya fast fashion digambarkan sebagai salah satu pemicu utama meningkatnya sampah tekstil. Pakaian yang dibeli untuk mengikuti tren sering kali hanya digunakan dalam waktu singkat sebelum berakhir di tempat pembuangan. Akibatnya, limbah kain terus menumpuk dan memperparah kerusakan lingkungan.

Tak hanya menghasilkan sampah, banyak produk fesyen modern menggunakan serat sintetis yang dapat terurai menjadi mikroplastik. Partikel-partikel kecil ini mencemari sungai, tanah, hingga lautan, lalu masuk ke rantai makanan dan berpotensi mengancam kesehatan manusia dalam jangka panjang.

“Industri fast fashion mendorong budaya konsumsi pakaian serba cepat dan murah sehingga pakaian sering dibeli untuk penggunaan sesaat lalu dibuang ketika tren berubah,” kata Maria Purbo.

Selain menyoroti dampak ekologis, Menolak Punah juga mengangkat isu kedaulatan sandang Indonesia. Ironisnya, meski kapas menjadi salah satu simbol kemakmuran dalam lambang negara, Indonesia saat ini masih bergantung hampir sepenuhnya pada kapas impor. Di sisi lain, tradisi menanam kapas lokal dan budaya tenun yang diwariskan turun-temurun semakin kehilangan regenerasi.

Film ini kemudian membawa penonton ke Nusa Tenggara Timur, khususnya wilayah Manggarai dan Flores. Di sana, kehidupan para penenun tradisional menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat masih mempertahankan praktik sandang yang ramah lingkungan melalui penggunaan kapas lokal, pewarna alami, dan pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dokumentasi kehidupan masyarakat di Kampung Barang, Cibal, menunjukkan bahwa tradisi tenun bukan sekadar aktivitas budaya, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan alam sekaligus mempertahankan identitas lokal. Kawasan Flores juga menjadi saksi perjuangan masyarakat adat dalam menjaga budidaya kapas lokal sebagai fondasi kemandirian sandang.

Melalui kontras antara kehidupan masyarakat perkotaan yang akrab dengan budaya konsumtif dan masyarakat adat yang hidup selaras dengan alam, film ini menyampaikan pesan kuat bahwa solusi atas krisis lingkungan tidak selalu datang dari teknologi atau industri semata. Kearifan lokal yang telah bertahan selama ratusan tahun justru menawarkan alternatif yang lebih berkelanjutan.

Film Menolak Punah mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan pola konsumsi yang lebih bijak, seperti mengurangi pembelian pakaian yang tidak diperlukan, memperbaiki pakaian yang rusak, melakukan upcycle atau mengolah kembali pakaian lama menjadi produk baru, serta merawat pakaian agar dapat digunakan lebih lama.

Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai mampu mengurangi limbah tekstil sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan, ekonomi lokal, dan pelestarian budaya sandang Nusantara.

Pada akhirnya, film ini menegaskan bahwa masa depan sandang Indonesia tidak hanya ditentukan oleh industri dan pasar, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga sumber daya alam, budaya, serta pengetahuan lokal yang menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Menembus Keterbatasan Demi Gizi Anak Bangsa, Kisah Wisam Nusantara Mengawal MBG

24 Juni 2026 - 07:16 WIB

Isi Liburan dengan Al-Qur’an, TPQ Madinatul Ulum Gelar Program Ngaji Cepat Khatam

23 Juni 2026 - 20:50 WIB

Dinda Ghania Gandeng Produser Madonna hingga Olivia Rodrigo, “Bad Connection” Angkat Kisah Cinta yang Mulai Merenggang

23 Juni 2026 - 19:15 WIB

Arca Tatasawara Rilis Tiga Video Klip, Suguhkan Perjalanan Budaya dari Jawa hingga Bali

23 Juni 2026 - 10:54 WIB

Panggung Spektakuler dan Lautan Penonton, POLIPONI Malang Hadirkan Malam Tak Terlupakan

21 Juni 2026 - 14:27 WIB

Si Jaran Kacang Jadi Primadona Sedekah Bumi Bedali, Ludes Dijabuti Warga

21 Juni 2026 - 13:30 WIB

Trending di RAGAM

©Hak Cipta Dilindungi !