BACAMALANG.COM – Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan pentingnya revitalisasi nilai-nilai Pancasila melalui pelestarian kearifan lokal sebagai benteng identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Gema Pancasila bertema “Kearifan Lokal sebagai Living Values Pancasila dalam Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Inklusif dan Berkelanjutan” yang digelar di Auditorium GKB V UMM, Selasa (1/7/2026).
Seminar ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga menjadi momentum istimewa bagi Prodi PPKn UMM setelah berhasil meraih akreditasi Unggul. Dalam kesempatan tersebut turut diluncurkan jurnal ilmiah Civic Hukum serta dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan kelembagaan dan penelitian antara FPSH UMM dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Salah satu narasumber, Dr. Mariatul Kiptiah, M.Pd., menegaskan bahwa keberagaman Indonesia yang terdiri dari sekitar 1.340 suku bangsa dan ratusan bahasa daerah merupakan kekuatan besar yang harus dijaga sebagai modal sosial bangsa.
“Indonesia adalah negara dengan keragaman yang luar biasa. Keragaman ini merupakan modal utama, bukan ancaman. Kita harus bangga dengan Pancasila dan tidak boleh menjadi pihak yang justru melemahkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri,” ujarnya.
Menurut Mariatul, implementasi Pancasila harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui praktik-praktik kearifan lokal, seperti gotong royong, musyawarah adat, serta berbagai tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Ia menilai nilai-nilai tersebut mampu menjadi fondasi penting dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari krisis identitas, persoalan lingkungan, hingga melemahnya kohesi sosial.
“Kearifan lokal bukan warisan masa lalu yang ditinggalkan, melainkan fondasi masa depan yang harus terus dirawat. Ketika dunia mencari solusi atas krisis identitas, krisis ekologi, dan kohesi sosial, Indonesia sejatinya telah memiliki jawabannya melalui kekayaan kearifan komunitas adat,” jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendy, M.M.. Ia menilai keberadaan kearifan lokal tidak dapat dipisahkan dari semangat Bhinneka Tunggal Ika, sehingga perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk mewariskan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda.
“Saya tidak ingin Indonesia kehilangan keindonesiaannya. Jika Bhinneka Tunggal Ika hilang, maka hilang pula Indonesia. Karena itu, kearifan lokal harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” tegasnya.
Melalui seminar ini, PPKn UMM mendorong penguatan pendidikan berbasis nilai Pancasila dengan dukungan transformasi kurikulum, digitalisasi kebudayaan, serta kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat. Upaya tersebut dinilai penting agar identitas bangsa tetap hidup, relevan, dan menjadi karakter kuat bagi generasi penerus Indonesia.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































