BACAMALANG.COM – Narendra Wicaksono, pegowes asal Klaten yang kini menetap di Gianyar, Bali, memanfaatkan jaringan Warm Showers untuk menyuarakan pesan kemanusiaan sekaligus menjaga ingatan atas Tragedi Kanjuruhan. Melalui pertemuan dengan penjelajah sepeda dari berbagai negara, ia mengajak dunia untuk tidak melupakan 135 korban tragedi tersebut.
Dalam komunitas bicycle traveler, Warm Showers merupakan jaringan yang mempertemukan pesepeda dengan tuan rumah yang bersedia menyediakan tempat singgah, makanan, hingga mengenalkan budaya dan destinasi setempat. Dari basecamp kolektifnya di Gianyar, Narendra telah menerima sejumlah tamu pesepeda lintas negara.
“Saya ingin berbagi dan memberi dukungan kepada setiap penjelajah sepeda. Hal ini akan sangat berguna saat saya memulai perjalanan bersepeda lagi,” ujar Narendra kepada Bacamalang, Sabtu (27/6/2026).
Pesepeda pertama yang ia sambut adalah Cekki Bajazid Hotti, pesepeda muslim asal Kosovo. Selama satu tahun tiga bulan, Cekki menjelajahi 17 negara sebelum tiba di Bau-Bau dalam perjalanan untuk melamar kekasihnya.
Selanjutnya, Narendra menerima Veleri Kolenkin dari Rusia. Mantan anggota angkatan udara Federasi Rusia itu memilih meninggalkan dinas militer karena menolak terlibat dalam perang Rusia-Ukraina yang menurutnya tidak berperikemanusiaan. Perjalanannya membentang dari Rusia, Mongolia, hingga Papua Nugini.
Narendra juga menjadi tuan rumah bagi Bhagat dan Ajay, dua pesepeda asal Nepal yang sejak 2004 telah mengunjungi 117 negara untuk menyebarkan ajaran Dharma Buddha. Sementara itu, seorang pesepeda perempuan asal Belgia, Ellen Jensens, hanya sempat bertemu di perjalanan tanpa singgah. Hingga kini, total ada empat penjelajah sepeda dari berbagai negara yang pernah ia temui.
Menurut Narendra, Bali dipilih sebagai lokasi penyambutan karena dikenal sebagai destinasi wisata dunia yang memudahkan penyampaian pesan-pesan kemanusiaan kepada masyarakat internasional.
“Bali sangat dikenal ramah. Mereka sangat antusias bertanya berapa lama perjalanan, misi apa. Saya selalu menjembatani pertanyaan warga sekitar dengan para pesepeda ini,” katanya.
Setiap tamu biasanya disambut sejak perbatasan kota menggunakan sepeda, kemudian diajak menginap, makan bersama, hingga berwisata. Narendra juga kerap memberikan cendera mata berupa bendera dan kartu pos berisi pesan khusus. Beragam isu kemanusiaan, termasuk penindasan struktural dan kondisi dunia, menjadi topik diskusi selama kebersamaan mereka.
Di setiap pertemuan itu, Narendra selalu menyisipkan cerita tentang Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 2022. Ia mengajak para pesepeda untuk mengenang para korban dalam setiap perjalanan mereka.
“Saya berpesan kepada para penjelajah sepeda untuk mengenang dan membawa nama-nama para korban dalam perjalanannya. Di tempat-tempat yang indah dan sunyi mereka bisa mendoakan mereka,” ujarnya.
Ia menegaskan, perjuangan menuntut keadilan bagi korban Kanjuruhan tidak boleh berhenti. “Kanjuruhan tidak pernah usai selama orang-orang berkomitmen untuk menolak lupa dan menolak diam. Kematian mereka tidak boleh dilupakan, mereka harus abadi melintasi dimensi ruang dan waktu,” tegasnya.
Selain menjadi ruang bertukar cerita, pertemuan dengan para penjelajah sepeda juga memberinya banyak pelajaran, mulai dari manajemen perjalanan, pengelolaan keuangan, hingga pengurusan dokumen seperti visa. “Tidak ada hal yang mustahil selama kita ada kemauan,” katanya.
Narendra berharap semakin banyak orang berani mengikuti kata hati dan mewujudkan impian, tanpa terbelenggu rutinitas maupun berbagai keterbatasan.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































