BACAMALANG.COM-Jika data ada di mana-mana, siapa yang mampu mengubahnya menjadi keputusan? Berangkat dari pertanyaan inilah Guru Besar Departemen Statistika, Fakultas Sains dan Teknologi (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Ani Budi Astuti menyampaikan bahwa statistika bukan hanya menghitung, namun membantu sebagai instrumen dalam pengambilan keputusan yang lebih masuk akal berdasarkan ketidakpastian.
“Kualitas data dan pemanfaatan sains statistik menjadi fondasi penting dalam menghasilkan kebijakan, penelitian, serta inovasi yang mampu menjawab persoalan masyarakat,” tegasnya dalam NGOPI SAM di MIPA Center UB, Sabtu (31/10/2026).
Guru besar dalam bidang Ilmu Statistika Bayesian Kesehatan ini menambahkan, riset terus berkembang seiring perkembangan zaman dan teknologi, pun dengan metode statistik, dari klasik menuju pemodelan kompleks dan solusi yang dapat digunakan.
Menurutnya, riset itu dimulai dari masalah, bukan dari metode yang sedang populer, dengan tahapan mendengarkan masalah sehingga diketahui siapa yang terdampak, baru kemudian rumuskan pertanyaan.
“Namun apa yang belum kita ketahui? Nah kita harus cari dan pahami data, baik yang bisa maupun yang tidak bisa diceritakan. Dari situ kita bisa membangun model dan memilih metode sesuai masalah,” jelasnya.
Dikatakan Prof. Ani, model dan metode tersebut harus diuji dan dikomunikasikan, agar hasilnya dapat dipercaya, yang dilanjutkan dengan mendorong penggunaannya.
Prof. Ani Budi Astuti sebelumnya telah mengembangkan pendekatan pemodelan statistika tingkat tinggi untuk memetakan risiko penyakit dan masalah kesehatan masyarakat secara presisi. Pemetaan ini difokuskan pada dua isu kesehatan utama nasional, yaitu Diabetes Melitus di Kota Malang dan Stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Melalui pemodelan spasial komprehensif ini, riset akademisi dapat menjadi acuan konkret bagi pengambil kebijakan agar alokasi anggaran dan program kesehatan nasional terdistribusi lebih efektif serta berbasis data aktual (evidence-based policy),” jelasnya.
Pentingnya perumusan kebijakan nasional yang berbasis riset dan pemetaan komprehensif inilah yang ditekankan Prof. Ani dalam diskusinya. Ia menegaskan bahwa program-program besar pemerintah, salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG), yang seharusnya dievaluasi secara spesifik mengingat besarnya alokasi anggaran negara yang digunakan.
“Program seperti MBG ini seharusnya benar-benar dilihat secara spesifik karena mengambil dana negara yang sangat besar. Pemetaan risetnya pun harus mencakup seluruh wilayah Indonesia agar kebijakan yang diambil tepat sasaran dan memberikan dampak yang tepat pula,” tegas dosen yang mengambil program doktoral dengan topik Bayesian Mixture Model Averaging untuk mengidentifikasi perbedaan ekspresi gen microarray ini
Lebih lanjut, ia mendorong agar pemerintah dapat terus menggandeng perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam menghasilkan inovasi, seperti halnya model pengembangan yang diterapkan di negara-negara maju.
“Kami berharap agar hasil-hasil riset akademisi tidak berhenti pada laporan formal semata, tetapi disebarluaskan untuk memberikan advis konkret bagi pengambil kebijakan, seperti yang sudah ada dalam output kami, baik itu laporan, buku hingga jurnal ilmiah,” tegas anggota Ikatan Statistisi Indonesia (ISI) ini.

NGOPI SAM menghadirkan para wirausahawan muda bertalenta penerima Program Hibah Wirausaha Mahasiswa (PHWM) dari FSTeM UB, yang terdiri dari Clevia Dessert – Peraih Dana PHWM 2026, Braintera Academy – Peraih Dana PHWM 2026, Nutriwrap (Plant Based) – Peraih Dana PHWM 2025 dan AgroPlus.ID, startup inovasi teknologi pertanian (agritech) berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan oleh kolaborasi lintas fakultas mahasiswa UB. (Nedi Putra AW)
Selain diskusi bersama Prof. Ani Budi Astuti, NGOPI SAM edisi kali ini cukup spesial, karena menghadirkan talkshow dengan para wirausahawan muda bertalenta penerima Program Hibah Wirausaha Mahasiswa (PHWM) dari FSTeM UB, yang terdiri dari Clevia Dessert – Peraih Dana PHWM 2026, Braintera Academy – Peraih Dana PHWM 2026, Nutriwrap (Plant Based) – Peraih Dana PHWM 2025 dan AgroPlus.ID, startup inovasi teknologi pertanian (agritech) berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan oleh kolaborasi lintas fakultas mahasiswa UB.
Wakil Dekan III FSTeM UB, Prof. Chomsin Sulistya Widodo, Ph.D., mengungkapkan bahwa pelaksanaan Program Hibah Wirausaha Mahasiswa (PHWM) tahun ketiga ini terus mengalami peningkatan kualitas.
Pada pelaksanaan tahun ini, sebanyak 8 kelompok wirausaha mahasiswa berhasil lolos dan menerima hibah pendanaan. Prof. Chomsin menjelaskan bahwa capaian tersebut terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, meskipun belum memenuhi target awal sebanyak 20 kelompok.
“Tahun ini ada 8 kelompok yang lolos penerima hibah, termasuk usaha berbasis jasa dan produk kreatif. Ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan PHWM, dan jumlahnya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” ujar Prof. Chomsin.
Lebih lanjut, Wakil Dekan III FSTeM menekankan pentingnya legalitas serta sertifikasi usaha bagi para penerima hibah. Pihak fakultas mendorong agar alokasi dana pendanaan dapat dimanfaatkan untuk pendaftaran izin usaha—minimal level Industri Rumah Tangga (IRT)—hingga pengurusan sertifikasi Halal.
“Kami mengupayakan agar dana hibah ini juga digunakan untuk proses registrasi izin usaha seperti Industri Rumah Tangga dan sertifikasi Halal. Tujuannya agar usaha yang dirintis tidak berhenti di tengah jalan, melainkan memiliki legalitas dan siap berkembang secara profesional,” tambahnya.
Prof. Chomsin juga berharap para wirausahawan muda FSTeM dapat melanjutkan kiprahnya ke tingkat yang lebih tinggi, seperti mengikuti program hibah nasional dari Kemendikbudristek pada tahun 2027 mendatang dengan potensi pendanaan hingga Rp50 juta per kelompok.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































