Fenomena Tarian THR Viral, Antara Kreativitas dan Kontroversi Budaya - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

HEADLINE · 6 Apr 2025 16:21 WIB ·

Fenomena Tarian THR Viral, Antara Kreativitas dan Kontroversi Budaya


 Tren fenomena Tarian THR mirip dengan Tarian Hora Yahudi memicu kontroversi di medsos. (ist) Perbesar

Tren fenomena Tarian THR mirip dengan Tarian Hora Yahudi memicu kontroversi di medsos. (ist)

BACAMALANG.COM – Fenomena tarian THR yang viral di media sosial selama Lebaran 2025 memicu perdebatan hangat di kalangan masyarakat. Tarian yang dianggap memiliki gerakan mirip dengan tarian Yahudi ini menuai kontroversi di dunia maya. Budayawan Kota Batu, Jojon, memberikan pandangannya terkait fenomena ini.

Menurut Jojon, budaya Indonesia yang kaya akan nilai-nilai kesantunan seharusnya menjadi landasan untuk memfilter budaya populer sebelum diadopsi oleh masyarakat. “Budaya kita mengajarkan kesantunan dan penghormatan terhadap tradisi. Sebelum mengadopsi suatu budaya, penting untuk memahami asal-usulnya agar tidak bertentangan dengan identitas budaya kita,” ungkapnya.

Kajian ilmiah menunjukkan bahwa perilaku peniruan adalah mekanisme sosial yang sering terjadi tanpa disadari, khususnya di era media sosial. Dalam kasus tarian THR, kesederhanaan gerakannya membuatnya mudah ditiru oleh berbagai lapisan masyarakat. Namun, fenomena ini menimbulkan diskusi mengenai bagaimana budaya populer dapat berdampak pada nilai-nilai tradisional.

Dari perspektif spiritual, fenomena tarian ini mencerminkan kebutuhan manusia untuk merasa terhubung melalui seni dan ekspresi budaya. Kajian spiritual menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana pencarian makna, namun juga perlu dilakukan dengan kesadaran terhadap nilai-nilai luhur yang berlaku di masyarakat lokal.

Perdebatan yang terjadi di media sosial mengungkap kesenjangan pemahaman tentang asal-usul budaya. Sebagian warganet menganggap tarian ini hanya sebagai hiburan ringan, sementara yang lain menilai bahwa budaya Indonesia yang santun harus menjadi prioritas.

Sebagai solusi, Jojon menyarankan masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi budaya populer. “Edukasi sangat penting. Pemerintah, tokoh budaya, dan komunitas harus aktif melestarikan budaya lokal melalui kegiatan seni dan literasi budaya agar masyarakat memahami pentingnya menjaga tradisi,” tambahnya.

Jojon juga menekankan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam memperkuat budaya lokal. “Budaya kita sangat kaya, dan ini adalah modal besar untuk membangun jati diri bangsa. Edukasi dan apresiasi terhadap seni budaya lokal harus terus ditingkatkan,” ujarnya.

Dengan pendekatan yang edukatif, masyarakat diharapkan dapat menikmati tren budaya populer tanpa melupakan identitas budaya yang santun dan berakar. Tarian THR ini dapat menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga harmoni antara modernitas dan tradisi.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 177 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

125 Pasangan Ikuti Edukasi Teknologi Bayi Tabung di HUT ke-28 Morula IVF, Antusiasme Meningkat Tajam

25 Mei 2026 - 12:36 WIB

ITSK Soepraoen Malang Siapkan Lulusan Kompeten dan Siap Kerja Lewat Pendidikan Berbasis Profesi

23 Mei 2026 - 13:12 WIB

Rakernis Humas Polda Jatim 2026: Perangi Hoaks dan Perkuat Kepercayaan Publik di Era AI

21 Mei 2026 - 16:36 WIB

Akademisi IAI Sunan Kalijogo Malang Latih Batik Ciprat Siswa SMA NU Pakis

21 Mei 2026 - 15:15 WIB

Dr Sri Untari Apresiasi Pelepasan 3.000 Lulusan SMK Jatim Kerja ke Luar Negeri di Momentum Harkitnas

20 Mei 2026 - 21:34 WIB

PWI Pusat Rombak Kepengurusan, Marthen Selamet Susanto Resmi Jabat Sekjen

19 Mei 2026 - 19:05 WIB

Trending di HEADLINE

©Hak Cipta Dilindungi !