BACAMALANG.COM – Fenomena tarian THR yang viral di media sosial selama Lebaran 2025 memicu perdebatan hangat di kalangan masyarakat. Tarian yang dianggap memiliki gerakan mirip dengan tarian Yahudi ini menuai kontroversi di dunia maya. Budayawan Kota Batu, Jojon, memberikan pandangannya terkait fenomena ini.
Menurut Jojon, budaya Indonesia yang kaya akan nilai-nilai kesantunan seharusnya menjadi landasan untuk memfilter budaya populer sebelum diadopsi oleh masyarakat. “Budaya kita mengajarkan kesantunan dan penghormatan terhadap tradisi. Sebelum mengadopsi suatu budaya, penting untuk memahami asal-usulnya agar tidak bertentangan dengan identitas budaya kita,” ungkapnya.
Kajian ilmiah menunjukkan bahwa perilaku peniruan adalah mekanisme sosial yang sering terjadi tanpa disadari, khususnya di era media sosial. Dalam kasus tarian THR, kesederhanaan gerakannya membuatnya mudah ditiru oleh berbagai lapisan masyarakat. Namun, fenomena ini menimbulkan diskusi mengenai bagaimana budaya populer dapat berdampak pada nilai-nilai tradisional.
Dari perspektif spiritual, fenomena tarian ini mencerminkan kebutuhan manusia untuk merasa terhubung melalui seni dan ekspresi budaya. Kajian spiritual menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana pencarian makna, namun juga perlu dilakukan dengan kesadaran terhadap nilai-nilai luhur yang berlaku di masyarakat lokal.
Perdebatan yang terjadi di media sosial mengungkap kesenjangan pemahaman tentang asal-usul budaya. Sebagian warganet menganggap tarian ini hanya sebagai hiburan ringan, sementara yang lain menilai bahwa budaya Indonesia yang santun harus menjadi prioritas.
Sebagai solusi, Jojon menyarankan masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi budaya populer. “Edukasi sangat penting. Pemerintah, tokoh budaya, dan komunitas harus aktif melestarikan budaya lokal melalui kegiatan seni dan literasi budaya agar masyarakat memahami pentingnya menjaga tradisi,” tambahnya.
Jojon juga menekankan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam memperkuat budaya lokal. “Budaya kita sangat kaya, dan ini adalah modal besar untuk membangun jati diri bangsa. Edukasi dan apresiasi terhadap seni budaya lokal harus terus ditingkatkan,” ujarnya.
Dengan pendekatan yang edukatif, masyarakat diharapkan dapat menikmati tren budaya populer tanpa melupakan identitas budaya yang santun dan berakar. Tarian THR ini dapat menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga harmoni antara modernitas dan tradisi.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga



























































