Haji Adalah Raja, Manunggale Kawula Gusti

Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang, Dr Riyanto. (ist)

Oleh : Riyanto

Puasa adalah memanen, bulan karya manusia.
Syawal, meningkat ketundukannya.
Sela, hati seluas lembah dalam kepasrahan.
Besar, diiringi kemulyaan, “kajen kairingan.
Besar adalah Dzulhijah.
Manusia pilihan, haji sang Maha Raja …..

Arafah, ma’arif, menggapai ilmu seluas samudera “minang khalbu. Kecerdasan sempurna dari olah rasa.
Di padang Arafah, ma’rifat, manusia mengenal Tuhannya.
Wukuf, memahami kembali sangkan parane dumadi – darimana manusia ada, untuk apa di dunia, kemana akhir kembali.

Keberangkatan di papah bismillah/ bersama Allah,
“labaik Allahumma labaik, labaika la syarika laka labaik …..
Kepulangannya, bismillah, atas namaNya, karena terpercaya …..
Membangun yang kasar menjadi halus, kaku menjadi lembut. Bukan “nuwuhke daredah, memecah belah atas nama Allah Tuhan alam semesta.

Jadilah raja sifat deres:
Memberi makan yang kelaparan.
Memberi baju yang “rontang ranting.
Memberi pertolongan yang dalam bahaya.
Menolong yang hidup dalam kesengsaraan.

Sahabat bertanya, “siapakah yang mabrur di antara yang ada di padang arafah itu ?
Nabi menjawab, “tidak ada !
Jawaban singkat itu, menunjukkan betapa derajat haji itu sangat mulia. Wisudawan pilihan, lulusan paripurna.
“Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu.
Al hajji ‘arafah, haji adalah arafah.
Di sana kuncir-kuncir digeser ke kanan, ditetapkan sebagai raja diraja.
Gerak bahasa: Aku (Allah) mengikuti keinginan hamba bersihnya hati. Faham sangkan parane dumadi. Derajat manunggale kawula Gusti.

*Dr Riyanto adalah Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang
*Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis