HMPS Satrasia Unikama Gelar Pentas Daring Bersastra Tanpa Jeda

Penampilan mahasiswa dari prodi pendidikan bahasa dan sastra indonesia unikama (wahyu)

BACAMALANG.COM –  Selama era pandemi yang memberikan dampak sangat luas, pegiat dan kreator seni harus berputar kepala. Kemunculan teknologi pada masa kini memberikan ruang bagi pegiat seni dalam mengekspresikan karya-karyanya, khususnya dalam masa pagebluk seperti ini.

Banyak orang, organisasi dan komunitas melangsungkan acaranya lewat media digital. Tak dapat dipungkiri sekarang semua acara disiarkan melalui media digital.

Seperti yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia (HMPS Satrasia) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) melaksanakan acara pentas daring yang bertajuk Bersastra Tanpa Jeda.

Ketua Pelaksana, Mochammad Nur Hamim, menerangkan bahwa pelajar dan mahasiswa saat ini harus dapat mencintai dan melestarikan budaya daerahnya masing-masing.

“Indonesia memiliki warisan budaya yang sangat dalam yang berbeda dengan negara lain. Oleh karena itu sebagai mahasiswa perlu bekerja keras untuk meningkatkan budaya tersebut, agar dapat dilihat masyarakat luas,” tandasnya.

Ia menjelaskan pentas ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia.

“Pentas daring ini diadakan supaya mahasiswa tetap mencintai, menjaga serta melestarikan kebudayaan dan kesusastraan Indonesia, meskipun untuk sekarang ini terhalang oleh Virus Corona,” jelas Nur Hamim.

Selain itu, penyelenggaraan acara ini bertujuan menebus rasa rindu teman-teman pecinta seni sastra terutama mahasiswa Unikama.

Ia menuturkan acara tersebut berkonsep seperti festival sastra. Rangkaian acara meliputi pembacaan puisi, pembacaan cerpen, musikalisasi puisi, diskusi sastra, pementasan teater atau drama, serta pertunjukan lainnya yang tidak melebihi ruang lingkup sastra dan budaya.

Tak hanya itu, acara ini juga menggandeng himpunan perguruan tinggi lain, seperti Universitas Trunojoyo Madura, Stikes Kepanjen, Universitas Negeri Malang dan Universitas Raden Rahmat Malang.

Pentas Bebas

Sementara itu, Pendamping Ketua, Aswin Livian menuturkan pementasan tersebut bersifat bebas dengan mengusung tema sastra dan budaya.

“Untuk pementasan ini sebenarnya sastra secara bebas, jadi bukan hanya teatrikal. Mau baca puisi silahkan, mau menyanyikan lagu daerah juga tidak apa-apa, karena konsepnya sastra dan budaya. Yang penting tetep dalam ruang lingkup sastra dan budaya asalkan tidak keluar dari itu Kita persilahkan untuk tampil,” terang Aswin.

Mahasiswa Adalah Kreator

Acara yang dibuka secara langsung oleh Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Suryantoro, S.Pd., M.Pd., tersebut juga menerapkan protokol kesehatan.

Suryantoro menjelaskan bahwa mahasiswa adalah pencipta atau kreator, dan harus berkreasi kapanpun dan dimanapun. Sebagai mahasiswa harus melek dengan budaya daerah masing-masing dan yang tidak terpisahkan dari perkembangan teknologi agar dapat aktif dan produktif.

“Oleh karena itu, sebagai mahasiswa yang berangkat dari program studi bahasa dan sastra Indonesia harus membawa visi keilmuan, yakni menciptakan karya-karya yang positif bagi masyarakat luas,” urainya.

Ia menjelaskan kreativitas tidak boleh terhenti karena Covid-19.

“Dalam situasi pandemi yang sekarang apapun yang kita lakukan tidak lepas dari penggunaan teknologi dan informasi, artinya Saya menekankan bahwa kreativitas tidak boleh berhenti karena situasi. Karena Saya percaya kepada Anda semua, Anda ini kreator, dimanapun Anda berada, kalian akan tetap menjadi orang-orang yang produktif dan kreatif,” pungkas Suryantoro.(wah/zuk)