BACAMALANG.COM—“Bersatu dalam Soto” Meminjam istilah Harry Nazarudin, penulis kuliner dari komunitas Jalansutra, berbicara tentang soto berarti membicarakan Indonesia dengan segala keberagaman dan kemajemukannya. Gagasan inilah yang menjadi benang merah buku “Semangkuk Lumintu Ing Brantas: Seruput Kisah Semangkuk Soto Kambing Malangan” karya Ary Budiyanto, S.S., M.A., Nedi Putra AW, bersama tim penulis.
Buku tersebut diluncurkan bersamaan dengan diskusi dan pemutaran video dokumenter di Gedung Seminar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB), Jumat (6/2/2026). Buku setebal 225 halaman ini merupakan hasil kerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, serta Center for Culture and Frontiers Studies (CCFS) UB, dengan dukungan Fakultas Peternakan UB.
Acara peluncuran dihadiri para maestro warung soto kambing, akademisi, tenaga pendidik SMK khususnya bidang kuliner, pegiat literasi, perwakilan Pemerintah Kabupaten Malang, pemerhati kuliner dan sejarah, mahasiswa Fapet UB, serta insan media. Diseminasi buku dilakukan kepada berbagai kalangan agar isinya dapat dikaji dan ditafsirkan dari beragam sudut pandang.
Diskusi berlangsung hangat setelah pemutaran video dokumenter dan paparan singkat dari penulis. Sejarawan FX Domini BB Hera mengapresiasi buku dan film dokumenter tersebut yang dinilainya mampu mengungkap detail warung-warung soto kambing legendaris di Malang Raya.
“Mulai dari jejaring kekeluargaan antarpedagang dan keturunannya, asal etnis, perubahan rasa akibat kecap yang digunakan, hingga penelusuran perpindahan lokasi beberapa warung dari tempat asalnya. Bahkan, ada layanan semacam drive thru bagi pelanggan,” ujarnya.
Dosen Universitas Ciputra Surabaya itu juga menyoroti adanya persoalan regenerasi usaha kuliner tradisional. Ia mengapresiasi kerja tim penulis yang rela menunggu berbulan-bulan demi menggali cerita para pelaku usaha soto secara mendalam di dapur mereka.
“Di sini terlihat jelas persoalan regenerasi, apakah ada penerus dan sejauh mana pihak penerus siap melestarikan usaha makanan tersebut,” tuturnya.

Luluk Emy dari SMKN 12 kota Malang dalam Diskusi dan Nonton Bareng “Semangkuk Lumintu Ing Brantas-Seruput Kisah Semangkuk Soto Kambing Malangan”, di Gedung Seminar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Jumat (6/2/2026). (Nedi Putra AW)
Menurutnya, soto Malangan yang akrab dalam keseharian memiliki kedalaman makna dan rasa yang penting dalam membentuk selera lidah masyarakat. Kekayaan warisan budaya tak benda ini dinilainya layak diteliti dan diapresiasi lebih serius.
“Riset semacam ini jarang diseriusi, baik oleh pendidikan tata boga maupun pemerintah daerah, padahal sangat penting,” tegasnya.
Sementara itu, Luluk Emy dari SMKN 12 kota Malang, mengaku memperoleh banyak wawasan baru, baik mengenai sejarah soto maupun proses keberlangsungan warung-warung soto kambing. Ia menilai pelestarian para maestro soto menjadi hal krusial, terlebih setiap keluarga dan latar budaya memiliki cita rasa soto yang berbeda.
Sebagai pendidik kuliner, ia menilai tantangan ke depan tidak hanya soal kreativitas rasa, tetapi juga upaya pelestarian. “Siswa diharapkan mampu mereplikasi resep sebagai bagian dari pelestarian, namun warung-warung soto itu sendiri tetap harus ada dengan kekhasan masing-masing,” tandasnya.

Dosen Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan UB, Dr. Ir. Agus Susilo, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng. (Nedi Putra AW)
Dukungan juga datang dari Dosen Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan UB, Dr. Ir. Agus Susilo, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng. Ia menyebut kegiatan bedah buku dan sinematografi dokumenter ini sangat relevan dengan isu ketahanan pangan dan budaya pangan asli Indonesia, sekaligus dapat dikaitkan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Bedah buku sebagai kegiatan literasi dan edukasi, serta video dokumenter sebagai media pembelajaran budaya dan sejarah kuliner, berkaitan langsung dengan SDG Pendidikan Berkualitas, khususnya upaya melindungi dan melestarikan warisan budaya,” jelas Wakil Dekan Bidang Umum, Keuangan, dan Sumber Daya Fapet UB tersebut.
Ia menambahkan, kegiatan ini bersifat kompleks karena menyentuh pelestarian kuliner lokal yang mendukung UMKM, juru masak tradisional, peternak, hingga pelaku industri kreatif seperti penulis, videografer, dan sineas. Pembahasan mengenai bahan lokal, proses tradisional, serta keberlanjutan rantai pangan juga berkaitan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Sementara itu, salah satu penulis, Ary Budiyanto, menuturkan bahwa soto kambing merupakan jenis soto khas Kabupaten Malang yang memiliki keunikan tersendiri dan berkembang pesat, salah satunya di kawasan Ngelo.
“Kami berharap buku yang juga memuat resep soto kambing Malangan ini dapat direplikasi oleh pembaca sembari berkuliner langsung di warung-warung soto tersebut. Kami juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung para pedagang lokal agar usaha mereka tetap lestari,” pungkas dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UB ini.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































