BACAMALANG.COM – Perkembangan teknologi yang semakin pesat, di mana saat ini terjadi masa transisi dari bahan bakar minyak menuju ke tenaga listrik. Konsekuensinya adalah penggunaan kendaraan listrik menjadi satu alternatif untuk produk yang ramah lingkungan.
Seperti yang dilakukan para guru dan siswa SMKN 10, Tlogowaru Kota Malang, yang berhasil merakit dua jenis kendaraan yaitu mobil dan motor listrik.
Dikatakan Shodiq MPd, guru pengajar otomotif di konsentrasi Teknik Sepeda Motor (TMS), inovasi kendaraan listrik kolaborasi hasil karya guru Teknik Otomotif dan Teknik Pengelasan ini berupa mobil Jeep K10 serta motor Chopper Vocsten.
“Kami sengaja memilih model jip ini tujuan awalnya sebagai pengembangan wisata kota Malang yang sedang tren sekitar dua tahun lalu,” ungkapnya kepada BacaMalang.com di sekolah setempat, Rabu (13/12/2023).
Shodiq menambahkan, pembuatan mobil berkapasitas untuk dua orang ini melibatkan guru dan siswa, sementara pendanaannya masih swadaya, tidak menggunakan dana operasional sekolah.
“Bahan pembuatannya seperti rangka misalnya, memakai barang-barang di sekolah yang dirakit lagi, namun komponen utamanya yakni baterai dan controller masih after market, jadi kami masih dalam tahap perakitan belum produksi,” tegasnya.

Proses charging mobil Jeep K10 di bengkel SMKN 10 Kota Malang, Rabu (13/12/2023). (Nedi Putra AW)
Ia mengaku selama ini pihaknya dalam taraf belajar mobil listrik. Berbagai riset juga dilakukan selama dua tahun terakhir agar kendaraan yang dirakit dapat beroperasi sebagaima mestinya.
Pengisian dapat dilakukan di rumah dengan daya listrik minimal 900 Kva. Lama pengisian atau charging untuk motor selama 2 jam, dengan jarak tempuh 50 hingga 60 km, sementara mobil charging-nya selama 3-4 jam untuk jarak tempuh sekitar 30 km.
“Salah satu kekurangannya memang pada jarak tempuh masih memakai baterai lead acid atau seperti baterai motor, ke depannya akan di-upgrade dengan baterai lithium seperti baterai HP dan laptop agar jarak tempuhnya makin panjang,” jelasnya.
Kepala Program Keahlian Otomotif Aditya Sukma Wijaya SPd Gr menambahkan, perakitan baterai untuk motor listrik akan lebih murah dibanding dengan yang diperoleh dari after market.
Selain kekuatannya lebih lama sekitar 25-30 persen, harganya juga dapat ditekan, dari 7-8 jutaan menjadi sekitar 5 jutaan rupiah saja.
“Perakitan baterai ini menggunakan baterai bekas laptop,” ujarnya.
Aditya menjelaskan motor listrik ini adalah karya pertama SMKN 10. Tiga motor listrik ketika dicoba dari SMKN 6 Surabaya ke Gedung Grahadi dengan jarak 8 km dan Grahadi ke Mal Maspion Surabaya dengan jarak 7 km tidak ada kendala meski kapasitas baterai 40 km di kondisi jalan umum yang padat.
“Kami sempat khawatir bahwa motor Chopper Vocsten ini motornya akan panas, karena mengggunakan media rantai untuk penggerak rodanya namun ternyata syukurlah, semua berjalan lancar,” ujarnya.
Aditya merasa pihaknya perlu menyosialisasikan motor listrik ini kepada masyarakat yang dimulai dari para siswa di sekolah sendiri.
Menurut Aditya, banyak para siswa yang tidak paham terkait keberadaan kendaraan listrik yang bergerak tanpa emisi dan suara ini.
“Di sini ada secara keseluruhan ada 6 kendaraan listrik, sehingga para siswa, khususnya di otomotif kami sarankan untuk menggunakannya jika ada keperluan sekolah di luar, misalnya untuk belanja dan sebagainya, sehingga dapat dikenal masyarakat di jalan sesuai dengan misi kami untuk menyalurkan ilmu yang sudah diterapkan kepada umum,” paparnya.
Diterangkan Aditya, problematika kendaraan listrik memang cukup kompleks, seperti bagaimana keamanannya saat hujan hingga bagaimana memperoleh lisensinya.
“Sehingga target kami tentunya ingin membuat kendaraan listrik, khususnya motor yang layak jalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah,” urainya.
Salah satu siswa, Abdul Ghofur mengaku keterlibatannya di bengkel ini menjadikan dirinya lebih paham tentang motor listrik.
Banyak ilmu baru yang ia dapat dari berbagai riset maupun percobaan, seperti terjadi banyak trial dan error misalnya.
“Memang ada kesulitannya, seperti jika motor berbahan bakar bensin dapat diketahui putaran mesinnya, sementara untuk mesin motor listrik diperlukan pemograman khusus. Sementara arus-arus listrik harus dihitung dengan seksama melalui alat-alat tertentu yang tentunya berbeda dengan mesin konvensional yang beberapa prosesnya secara mekanis dapat dilihat secara langsung,” tandasnya.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki




















































