Ledok Ombo Poncokusumo, Destinasi Favorit Sejak Era Kolonial

Foto: Ledok Ombo Camping Ground di Poncokusumo Kabupaten Malang yang sudah eksis sejak era kolonial. (Dhimas)

BACAMALANG.COM – Ledok Ombo Camping Ground di Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang ternyata menyimpan sejarah panjang yang belum banyak diketahui.

Bumi perkemahan yang berada pada ketinggian lebih dari 800 meter diatas permukaan laut (Mdpl) tersebut ternyata sudah menjadi jujukan favorit untuk menghabiskan waktu liburan sejak era kolonialisme.

Suasana yang masih asri, hijau dan segar dengan hutan pohon pinus, membuat Ledok Ombo memang pas dijadikan sebagai destinasi untuk melepas penat.

Koordinator Wisata Ledok Ombo, Jefri Nanang, sedikit menceritakan sejarah Ledok Ombo Camping Ground yang sudah eksis sejak zaman Belanda. “Sudah ratusan tahun usianya. Dulu sering dipakai tentara Belanda nge-camp,” katanya.

Nanang juga menuturkan jika dulu, di Ledok Ombo terdapat bangunan sisa-sisa era kolonial yang disebut loji. Namun, saat ini loji itu sudah tidak ada lagi. Bangunan-bangunan bersejarah itu musnah tergerus zaman.

“Sempat tertimbun berpuluh-puluh tahun. Tapi kemudian ketika ada penggalian untuk ladang, sudah tidak ada lagi sisanya,” ucap Nanang.

Meskipun Ledok Ombo memiliki jejak sejarah yang panjang, kini tempat iti sudah bersolek mengikuti perkembangan zaman. Bagi generasi milenial saat ini, tempat itu tak ubahnya sebagai salah satu pilihan destinasi spot foto kece.

Saat libur akhir pekan tiba, Ledok Ombo akan ramai dengan wisatawan, dari Malang ataupun luar kota. Ada yang mendirikan tenda dan camping bersama, untuk sekedar menghabiskan waktu bersama rekan. Ada pula yang datang bersama keluarga atau pasangan.

Bagi yang pertama kali ke Ledok Ombo, akses jalannya cukup mudah. Jika dari pusat Kota Malang, Ledok Ombo berjarak sekitar 27 kilometer atau dapat ditempuh dengan waktu sekitar satu jam.

Selama perjalanan menuju ke bumi perkemahan itu, wisatawan bakal disuguhi pemandangan alam yang masih asri dengan cuaca sejuk ala pedesaan.

Jika berkunjung pada weekday atau hari biasa, wisatawan tidak perlu membayar tiket masuk. Namun jika berkunjung ke tempat yang dikelola pemuda setempat bekerjasama dengan Perhutani itu pada akhir pekan, wisatawan akan ditarik biaya sebesar Rp 10 ribu per orang bagi yang ingin menginap atau camping.

Sementara bagi wisatawan yang tidak menginap akan dikenakan biaya sebesar Rp 5 ribu. Tidak menguras kantong bukan?

Bagi wisatawan yang tidak membawa bekal dari rumah, jangan khawatir karena di tempat ini ada penjajah makanan dari warga sekitar. Untuk fasilitas seperti kamar mandi dan mushola juga tersedia disini. Jadi, tertarik untuk liburan ke Ledok Ombo?. (mid/red)