Oleh : Wawan Eko Yulianto *)
BACAMALANG.COM-Tahun ini, Imlek datang berdampingan dengan datangnya bulan Ramadan. Di grup WA yang saya ikuti, banyak yang saling mengucapkan selamat memasuki Ramadhan dan meminta maaf. Namun tidak sedikit pula yang mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek dan berbagi status WA dengan gambar tersebut. Tentu ini suatu momen yang langka karena meskipun sama-sama menggunakan hitungan lunar, penanggalan Tiongkok juga ada campuran penanggalan matahari sehingga tahun baru selalu dimulai sekitar bulan Januari dan Februari. Berikut lanjutan ulasan saya tentang Masjid Muhammad Cheng Hoo, salah satu landmark perpaduan Budaya Tionghoa dan Islam yang saya kunjungi di akhir tahun 2025 tersebut.
Masjid penanda zaman
Saat meninggalkan masjid, kami melewat selasar gedung Yayasan Masjid Muhammad Cheng Hoo, kami melewati prasasti bermotif batu hitam. Ada banyak sekali prasasti semacam ini yang isinya ada sambutan, ucapan selamat atas pendirian, dan lain-lain. Ada yang berbentuk baris-baris kalimat puitis, tapi ada juga yang terasa formal. Bahasanya pun beragam mulai dari Indonesia, Arab, Inggris, hingga Mandarin.
Baru kali ini saya melihat begitu banyak prasasti untuk satu bangunan saja. Prasasti ini menandai berbagai hal, mulai peresmian, peringatan 15 tahun yayasan ini, hingga sebuah ucapan selamat atss penyelenggaraan seminar. Di bagian depan pintu masuk, terdapat etalase kaca dengan berbagai hal yang dijual, mulai dari buku hingga kopyah warna merah. Inilah kopyah unik yang saya sempat lihat dipakai seorang perwakilan Yayasan Masjid Muhammad Cheng Hoo yang saya temui beberapa waktu sebelumnya di sebuah acara formal di Surabaya.

Prasasti bermotif batu hitam yang ada di Masjid Ceng Ho. (Dok. Pribadi)
Seorang ibu berhijab berjalan dekat etalase itu dari sebuah ruang di ujung. “Bu, kalau mau beli ini ke siapa ya, Bu?” Saya tertarik songkok beludu merah dengan puncak memanjang di bagian tengah mirip kopyah gaya Kazakhstan itu. “Kalau Minggu tutup, mas.” Gagal rencana saya beli songkok Cheng Hoo. Belakangan saya menemukan bahwa di lapak online toko ijo dan toko orange, songkok itu tersedia dalam berbagai ukuran.
Prasasti Khas Tionghoa
Dalam perjalanan di sepanjang selasar itu saya masih melihat prasasti-prasasti yang berisi ucapan selamat dan harapan dari berbagai pihak atas berdirinya Masjid Muhammad Cheng Hoo itu. Kalau kita menilik lagi ke belakang, berbagai sumber akademis menunjukkan bahwa era 2000-an adalah masa yang istimewa buat etnis Tionghoa di Indonesia. Pada tahun 98, Presiden B.J. Habibie menghentikan penggunaan istilah “pribumi” dan “nonpribumi” dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan. Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid menerbitkan Keputusan Presiden No. 6 tahun 2000 yang menghentikan pelarangan terhadap keyakinan dan adat istiadat Tionghoa, Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarno Putri, pada tahun 2002 menetapkan imlek sebagai hari libur nasional.

Kaca dengan relief Kapal Cheng Ho (Admiral Zheng Hee). (Dok. Pribadi)
Pada tahun 2001, PITI mengawali peletakan batu pertama pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo, yang kemudian diresmikan pada tahun 2002. Novi Basuki, pakar budaya Tiongkok dan hubungan Indonesia-Tiongkok, pernah membahas sosok Bapak Bambang Suyanto, pendiri PT Kedawung Setia Industrial yang juga salah satu inisiator dan penggalang dana penting dalam pendirian Masjid Muhammad Cheng Hoo. Inilah masjid pertama di Indonesia yang menggunakan arsitektur Tiongkok dan mengambil nama Cheng Ho (Admiral Zheng Hee). Pada tahun 2006 berdiri masjid Cheng Ho di Palembang, tahun 2007 di Kalimantan Timur, dan tahun 2008 diresmikan masjid Cheng Ho di Pandaan, Pasuruan. Masih ada beberapa lagi masjid dengan nama serupa di seluruh Indonesia.
Ketika meninggalkan Masjid Muhammad Cheng Hoo, saya manggut-manggut sendiri. Memang Masjid yang ada di Ketabang, Surabaya, ini memang bukan yang paling besar di antara masjid-masjid Cheng Ho yang ada di Indonesia. Namun, sejarah mencatatnya sebagai sebuah bangunan dengan gaya arsitektur yang responsif terhadap zamannya. Karena itulah dia menjadi sebuah penanda zaman. Tidak heran bila sebanyak itu yang merayakan peresmiannya.
Di masjid inilah ekspresi kultural bertemu dengan praktik dan keyakinan. Ketionghoaan bertemu dengan ke-Islam-an. Maka, ketika hari ini tahun baru Imlek di grup WA bertemu dengan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa, saya langsung ingat sebuah bangunan yang terbilang muda sebagai sebuah bangunan bersejarah ini.
*)Blogger & Dosen Sastra Inggris Universitas Ma Chung
Editor: Nedi Putra AW




















































