BACAMALANG.COM-Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan lulusan yang siap memasuki dunia industri, untuk mengatasi ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dan kebutuhan industri (skill mismatch). Hal ini disampaikan Menteri Ketenagakerjaan, Prof. Yassierli, Ph.D., saat orasi ilmiah dalam Sidang Pleno Terbuka Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Brawijaya (UB), dalam rangkaian Dies Natalis ke-63 di gedung Samantha Krida UB, Senin (5/1/2026). Dikatakan Prof. Yassierli, faktor yang mempengaruhi adalah perubahan lanskap ketenagakerjaan nasional dan global yang semakin dinamis.
“Tentunya tantangan ini dipahami Rektor dan jajarannya, sehingga perguruan tinggi harus terus berbenah agar mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri, atau ‘link and match’,” ujarnya.
Prof. Yassierli menegaskan, sampai saat ini pendidikan angkatan kerja masih didominasi SD/SMP sebesar 52,72%, masih jauh di atas tingkat Perguruan Tinggi/Diploma di angka 12,99%, termasuk SMA/SMK di 34,29%.
Prof. Yassierli juga memberi pandangan melalui salah satu program unggulan Kementerian Ketenagakerjaan, yakni program magang bagi 100 ribu lulusan perguruan tinggi yang diinisiasi Presiden RI.
“Program ini memberikan pengalaman kerja selama enam bulan dan direncanakan berlanjut hingga tahun 2026 dan seterusnya,” imbuh dia.
Menurutnya, program ini antusiasmenya luar biasa dan akan dilanjutkan tahun 2026 dan seterusnya. Sedangkan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang membawa disrupsi signifikan di dunia kerja tetap akan terjadi, meski tidak semua pekerjaan akan tergantikan oleh AI.
“Jadikan teknologi ini untuk membuka peluang lahirnya jenis pekerjaan baru, khususnya di bidang talenta digital berbasis AI. Ini yang perlu direspons oleh perguruan tinggi,” ungkapnya.
Oleh karena itu Prof. Yassierli berharap kampus bisa merespon kebutuhan terkait tenaga kerja dengan skill AI ini.
“Termasuk kesiapan bagi tenaga kerja disabilitas dalam rangka menciptakan ekosistem
ketenagakerjaan yang inklusif dan berkelanjutan,” tandasnya.
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menambahkan, reputasi UB sebagai perguruan tinggi unggul terus diperkuat melalui berbagai capaian strategis sepanjang tahun 2025.
“Capaian tahun 2025 tidak dimaknai sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pengungkit akselerasi transformasi institusi,” tegasnya.
Namun Prof. Widodo juga menjelaskan, dibutuhkan sinergi seluruh elemen universitas menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan visi UB sebagai universitas kelas dunia yang unggul, berkarakter, dan berkelanjutan, agar UB dapat terus melangkah dengan semangat adaptif, kolaboratif, dan berorientasi dampak melalui penguatan tata kelola berbasis kinerja, digitalisasi proses, pengembangan kapasitas sivitas akademika yang profesional dan berintegritas.
“UB berhasil memperoleh akreditasi Unggul dan internasionalisasi program studi, peringkat pada QS World University Ranking dan THE Impact Ranking, serta transformasi fisik melalui pengembangan kampus satelit di Kepanjen dan Kediri, merupakan bukti konkret dari kinerja bersama,” paparnya.
Menurutnya, pencapaian ini bukan hanya tentang angka dan bangunan, melainkan tentang perluasan akses pendidikan berkualitas dan penguatan peran UB sebagai katalisator pembangunan wilayah.
“Tantangan ke depan, seperti optimalisasi kampus satelit, peningkatan riset terapan dan hilirisasi inovasi, serta percepatan digitalisasi di semua lini layanan, memerlukan kesiapan, ketangkasan, dan komitmen yang lebih tinggi,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Dies Natalis ke-63, Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si., melaporkan bahwa Dies Natalis tahun ini dirancang dengan rangkaian kegiatan yang menghadirkan dampak nyata selaras dengan tema.
“Ada 16 rangkaian kegiatan Dies Natalis yang telah dilaksanakan, mencakup bidang akademik, kemahasiswaan, internasionalisasi, sosial, seni budaya, lingkungan, hingga olahraga, serta yang berbeda, kita mengangkat kegiatan sosial budaya seperti Nguri-nguri Pawon, Kenduri,” urai Dekan Fakultas Ilmu Administrasi ini.
Sidang Pleno Terbuka MWA juga diisi dengan Penganugerahan UB Lifetime Achievement kepada sivitas akademika yang memiliki kontribusi dan prestasi luar biasa, khususnya di tingkat internasional, yang diberikan kepada sejumlah tokoh dengan capaian unggul di bidang kemanusiaan, riset, pengembangan ilmu pengetahuan, dan hilirisasi inovasi.
Prof. Hamidah menyebutkan, pada Kategori Pejuang Kemanusiaan, penghargaan diberikan kepada dr. Aurick Yudha Nagara, Sp.EM, KPEC, FICEP, Dr. dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat, M.Kes., Sp.OT, serta Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI, Subsp.M.N.(K), FIPP dari Fakultas Kedokteran atas kontribusi nyata mereka dalam layanan kesehatan dan misi kemanusiaan.
“Sementara di Kategori Peneliti Bereputasi Internasional diberikan kepada Prof. Dr. Sujarwoto, S.IP., M.Si., M.P.A. (FIA) dan Dr. Holipah, Ph.D. (FK) atas capaian riset berdaya saing global dengan perolehan dana penelitian tertinggi,” ujarnya.
Pada Kategori Pengembangan Pengetahuan melalui Publikasi diberkan kepada Prof. Dr. Ir. Femiana Gapsari, M.F., S.T., M.T. (FT) atas kontribusi penulisan artikel ilmiah terbanyak. Sedangkan Kategori Inovasi dan Hilirisasi Riset diberikan kepada Prof. Ir. Arifin Noor Sugiharto, M.Sc., Ph.D. (FP) atas kepemilikan paten yang telah dimanfaatkan dan memberikan royalti bagi Universitas Brawijaya.
Kegiatan juga diisi dengan launching produk jamu dan parfum DIKST-UB.
Pewarta/editor: Nedi Putra AW


























































