BACAMALANG.COM – Sebuah Mini Showcase bertajuk “Kentjing Andjing” digelar di Baraka & Belantika, Jalan Kaliurang Kota Malang. Pameran ini dibuka Sabtu (25/1/2025), mengusung tema “Indonesia Core”, yang menampilkan karya-karya unik yang menggugah canda, satir dan fenomena sosial dengan atmosfer penuh keintiman, sebagai respon kritis terhadap realitas sosial kontemporer, menyoroti keberpihakan seni terhadap masyarakat, khususnya di kalangan kaum marjinal.
Pameran yang berlangsung hingga 31 Januari 2025 ini dibuka dengan art perform dari Cak Bagus Eksperimental, Beerkaraoke ’90s Eric & Tony, serta DJ Set “Judeh”. Sementara sejumlah seniman yang berpartisipasi dengan masing-masing perspektifnya, antara lain, M. Agus Salim, Novantri, Purnomo Sigit, Wibi Wardhani, Didit Prasetyo Nugroho, Dapeng Gembiras, Alicia Michele, dan Annisa Fadila dengan lewat pengantar pameran yang disampaikan oleh Aditya Nirwana.
“Akhir-akhir ini, mengamati fenomena ‘pengadilan rakyat’ di media sosial sedikit banyak mencerminkan bagaimana ruang publik digital menjadi arena diskursus kolektif. isitlah ‘core’ berkembang sebagai apresiasi terhadap dedikasi kelas pekerja, yang menggambarkan perjuangan mereka untuk eksis dan bermartabat di tengah realitas sosio-ekonomi yang keras,” ujar Aditya, yang juga Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Ma Chung ini.
Sementara Ketua pameran, Novantri Sumahadi mengatakan, pameran ini adalah perayaan dari fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat melalui media sosialnya. “Kentjing Andjing sendiri merupakan komunitas seni yang berakar dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Minat di Universitas Negeri Malang (UM). Kami sengaja memilih venue yang tidak terlalu besar untuk pemeran kali ini, karena sesuai namanya yakni Mini Showcase, ini sebagai ‘pemanasan’ atau pameran awalan untuk persiapan pameran selanjutnya di pertengahan tahun nanti,” ungkapnya kepada BacaMalang.com.

Art perform dari Cak Bagus Eksperimental membuka Mini Showcase bertajuk “Kentjing Andjing” di Baraka & Belantika, Jalan Kaliurang Kota Malang, Sabtu (25/1/2025). (Nedi Putra AW)
Novantri sendiri menyuguhkan dua karya digital print dan paint maker, masing-masing berjudul “Spek Bleyer” dan “Mandi Lumpur”.
“Suara motor RX-King menjadikan pengunggangnya sebagai raja jalanan, yang dalam bahasa Jawa sering di gas atau di-bleyer. Sementara Mandi Lumpur menggambarkan fenomena mandi lumpur yang menjadi sosok diminati netizen, termasuk meme Skibidi Toilet,” jelas guru bahasa Indonesia di SMK Pranja Paramira ini.
Karya-karya lainnya juga tak kalah menarik. Seperti salah satu karya Agus Salim dengan fenomena Like, Gift and Humanity, sebuah karya akrilik di kanvas tentang bagaimana era digital menjadi panggung utama bagi warga untuk tampil di depan kamera dan berharap pada gift vitual sebagai apresiasinya. Sementara Dapeng Gembiras menyajikan karya bertajuk FOMO#1, sebuah fenomena ‘Fear of Missing Out’, atau perasaan takut ketinggalan tren, informasi, atau kesempatan untuk terhubung dengan orang lain.
Pameran ini juga digawangi para seniman muda, seperti Alicia Michele, mahasiswa DKV Universitas Ma Chung dengan gaya lukisan realis-surealis bertajuk “Lost n Found”, dan juga Annisa Fadila, mahasiswi Seni Rupa Murni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya yang menyuguhkan seni bantengan lewat goresan di kanvas berjudul “Tenang”.
Acara diisi dengan diskusi seni bertajuk “Color Dialogue: Eksplorasi Teknis dan Narasi dalam Dinamika Visual Seni Rupa” dengan pembicara 3 seniman, Andre Wijaya, Tria Pamungkas dan Waly Daffa dari Berdikari Art Space, pada Selasa (28/1/2025), serta Lokakarya Seni Cyanotype Screen Printed oleh Ilyas Badnews di hari Kamis (30/1/2025).
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga




















































