Pandemi, Maraknya Kelahiran Satwa dan Semakin Suramnya Jatim Park Grup

Salah seorang karyawan melakukan perawatan di Jatim Park 2 Kota Batu, Kamis (5/8/2021). (ned)

BACAMALANG.COM – Masa pandemi ternyata membuat Batu Secret Zoo menambah koleksinya. Kebun binatang dari Jatim Park Grup ini mencatat sejumlah kelahiran beberapa satwa jenis satwa.
“Ada enam jenis satwa yang lahir, mulai dari jenis primata, otter hingga mammalia, dan semuanya melalui perkawinan alami dan kelahiran normal,” papar dokter hewan Batu Secret Zoo, Roosy Margaretha saat ditemui, Kamis (5/8/2021).

Dikatakan dokter Roosy, salah satu primata yang berkembang biak alami ini adalah Colobus Monkey, sejenis monyet pemakan daun-daunan berbulu hitam namun dengan ekor bersurai putih.
“Yang membanggakan adalah kelahiran di Batu Secret Zoo merupakan yang pertama kali di Indonesia,” tukasnya.

Namun kebahagiaan dengan pertambahan koleksi satwa ini berbanding terbalik dengan kondisi Jatim Park Grup secara keseluruhan di masa pandemi.
Manager Marketing dan Public Relation Jatim Park Group, Titik S Ariyanto mengatakan, Jatim Park Grup membawahi 15 tempat wisata di Kota Batu. “Ada sedikitnya 1.700 karyawan serta 2.500 rekanan yang ada di sini,” tuturnya saat ditemui di kantornya, Kamis (5/8/2021).

Titik mengungkapkan dengan jumlah personel yang sedemikian besar, dan menghindari kerumunan dari para pengunjung, pihaknya melakukan penutupan semua tempat wisata sesuai dengan aturan pemerintah hingga 12 Agustus 2021 sebagai upaya menekan laju penularan covid-19. “Memang kami sempat buka beberapa saat beberapa waktu lalu, namun segera tutup lagi,” imbuhnya.

Padahal Batu dikenal sebagai Kota yang sangat mengandalkan sektor pariwisata. Menurut Titik, ada kemungkinan penutupan masih akan mundur lagi, karena kota Batu masih zona merah. Selama PPKM ini pihaknya hanya memperkerjakan 25 persen dari jumlah karyawan yang ada, dengan pengurangan jam kerja hingga 5 jam per hari, serta dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

“Selama masa itu kami melakukan perawatan di sejumlah wahana dan pemberian pakan satwa tetap terus jalan tentunya,” ujar dia. Namun ia mengaku, apabila kondisi ini bertahan sampai akhir tahun, maka ada konsekuensi yang harus dilakukan, seperti sedikit demi sedikit mengurangi biaya operasional.

“Salah satunya mungkin dengan phk karyawan, dimana hal ini tidak pernah kami lakukan sebelumnya selam pandemi yang sudah berlangsung lebih setahun ini,” keluhnya.

Selain itu pihaknya juga berencana dengan menjual aset yang ada. “Kami sudah mengajukan relaksasi pajak hingga donasi kepada pemerintah lewat asosiasi yang ada, agar kondisi ini dapat dilihat sebagai permasalahan nasional bukan hanya lokal saja,” pungkasnya. (ned)