BACAMALANG.COM – Pementasan Wayang Topeng Panji Mangu yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur pada Minggu (13/7/2025) malam, membawa nuansa berbeda di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKBJ), Jalan Soekarno-Hatta, Kota Malang. Kali ini, pertunjukan seni tradisional yang biasanya hanya diminati oleh pecinta budaya, justru dipenuhi oleh generasi muda.
“Mendengar kata ‘Mangu’ yang sebelumnya populer sebagai lagu viral, membuat saya penasaran untuk menyaksikan pertunjukannya langsung,” ungkap Rahma Niken Sahara usai pementasan.
Hadir bersama Messy Inces, Niken—sapaan akrabnya—merupakan penari dari salah satu sanggar tari di Jabung, Kabupaten Malang. Ia mengaku tertarik mendalami konsep serta kisah Panji yang kali ini dikemas berbeda.
“‘Mangu’ itu lagu Fourtwnty tentang kisah cinta yang terhalang perbedaan keyakinan. Jadi konsep pentas ini menurut saya bagus, karena menggabungkan hal yang sedang viral dengan seni tradisional,” imbuh perempuan yang kerap memerankan karakter Dewi Sekartaji itu.

Para penonton antre sebelum open gate menyaksikan pentas Wayang Topeng Panji Mangu yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, di Taman Krida Budaya Jatim, Jalan Soekarno-Hatta Kota Malang, Minggu (13/7/2025). (Nedi Putra AW)
Niken juga mengungkapkan bahwa selama ini sanggarnya masih membawakan Tari Topeng sesuai pakem. Namun, penggarapan Panji Mangu dengan sentuhan kekinian—mulai dari banner, tata panggung, dialog, hingga musik pengiring—membuka wawasannya terhadap kemungkinan eksplorasi lebih jauh.
“Saya jadi ingin suatu saat menerapkan konsep serupa di sanggar, agar bisa menjangkau penonton yang lebih luas, khususnya anak muda, tanpa harus meninggalkan pakem. Apalagi pementasan ini juga melibatkan seniman asal Jabung, termasuk dalang dan penabuh kendang,” jelas perempuan kelahiran 2004 itu.
Sementara itu, Louisa Grace Kelly Setiabudi, mahasiswa Universitas Ma Chung, juga turut hadir dan merasa sangat terhibur oleh tarian epik serta sentuhan humor kekinian dalam pertunjukan.
“Menurut saya, cerita yang diangkat sangat unik. Terinspirasi dari lagu ‘Mangu’, tapi kisah cinta di sini bukan terhalang keyakinan, melainkan waktu. Panji bersedia menunggu hingga akhirnya dipertemukan kembali dengan Dewi Sekartaji,” tutur Louisa, yang bersama rekan-rekannya turut mengantre panjang sebelum pintu dibuka malam itu.
Perempuan asal Malang kelahiran 2004 ini menilai konsep pertunjukan Panji Mangu sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini.
“Budaya yang baik adalah budaya yang bisa mempertahankan makna, tapi juga mampu menjangkau audiens yang lebih luas. Panji Mangu berhasil mewujudkan itu. Harapannya, ke depan bisa diangkat ke dalam film dokumenter pendek, atau bahkan ke layar lebar, agar makin banyak yang tertarik melestarikan budaya Topeng Malangan,” ujar mahasiswa Prodi Desain Komunikasi Visual tersebut.

Rahma Niken Sahara (kiri) dan Messy Inces, penonton yang juga seniman dari sanggar tari Topeng Jabung, Kabupaten Malang usai pementasan Wayang Topeng Panji Mangu. (Nedi Putra AW)
Pementasan Panji Mangu juga menjadi catatan penting bagi Wawan Eko Yulianto, dosen Universitas Ma Chung yang hadir bersama sejumlah mahasiswanya. Ia menyebut pertunjukan tersebut sebagai “Pertemuan Generasi: Kembali ke Akar dan Akar yang Mau Mendekat.”
“Secara akademis, kami sampaikan kepada mahasiswa bahwa menonton pertunjukan budaya ini bisa dicatat sebagai poin kepedulian sosial. Namun, yang terpenting adalah kehadiran mereka sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian seni tradisi,” ujarnya.
Menurut Wawan, malam itu TKBJ menjadi ruang pertemuan lintas generasi, di mana anak-anak muda dari generasi milenial dan Gen Z tetap sibuk dengan gawai—namun untuk mengabadikan momen ke dalam unggahan di media sosial.
“Penampilan para seniman malam itu sangat ekspresif, interaktif, dan sesekali heboh. Tapi justru di situlah letak keindahan budaya—ia mesti dinamis dan berdialog dengan siapa pun yang ingin merayakannya, dengan caranya masing-masing,” tutur dosen Sastra Inggris yang mengampu mata kuliah English for Global and Creative Communication ini.
Ia juga mengaku belajar satu hal dari pertunjukan tersebut: bahwa budaya dan generasi muda bisa akur, asal keduanya saling mau mendekat.
“Tradisi bisa tetap hidup selama kita membuka ruang dan hati untuk merayakannya bersama,” tandas Wawan, yang juga aktif dalam berbagai kegiatan literasi di luar kampus.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































