Penanganan Kasus FS Lamban dan Picu Isu Liar di Publik, Pakar UB Beri Sorotan Kritis - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 19 Agu 2022 20:58 WIB ·

Penanganan Kasus FS Lamban dan Picu Isu Liar di Publik, Pakar UB Beri Sorotan Kritis


 Penanganan Kasus FS Lamban dan Picu Isu Liar di Publik, Pakar UB Beri Sorotan Kritis Perbesar

BACAMALANG.COM – Penanganan kasus pembunuhan Brigadir J oleh FS lamban, memicu munculnya isu liar di publik, dan terkait hal ini Pakar Manajemen Isu dan Krisis Universitas Brawijaya (UB), Maulina Pia Wulandari, Ph.D memberikan sorotan kritis.

Ia menyarankan para polisi kembali menjalankan prinsip kebenaran dan transparansi. “Manajemen Isu dan krisis bukan hanya fokus pada penyampaian informasi kepada publik dan strategi respon atas krisis yang terjadi tetapi juga harus berbasis pada etika public relations yaitu transparansi dan kebenaran. Ini seharusnya seiring sejalan dengan tagline Polri Presisi dan Transparan,” tegas Maulina Pia Wulandari, Ph.D, belum lama ini.

Seperti diketahui, kasus pembunuhan terhadap Brigadir J yang direncanakan oleh Irjen FS terus bergulir. Kasus ini membuat isu isu liar bergulir mulai skandal perselingkuhan hingga isu Polri sebagai sarang mafia.

Pia menganggap sejak awal Polri telah melanggar kode etik Public Relations yang paling mendasar yaitu PR tidak boleh berbohong. “Saat pertama kali kasus ini diumumkan ke publik, baik sengaja atau tidak sengaja banyak kebohongan yang disampaikan kepada publik,” terang Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi ini.

Pakar Manajemen Isu dan Krisis Universitas Brawijaya (UB), Maulina Pia Wulandari, Ph.D. (ist)

Pia mempertanyakan komposisi tim manajemen krisis di tubuh Polri terutama dalam menghadapi kasus ini. Dia mengungkapkan tim manajemen krisis adalah sekumpulan orang dari berbagai departmen yang tujuannya untuk memutuskan arah kebijakan dan strategi organisasi dalam mengatasi krisis secara akurat dan tepat.

“Tim manajemen krisis bisa diketuai oleh kepala departemen yang terkait dengan sumber dan penyebab krisis hingga langsung diketuai oleh CEO. Dalam kasus ini, seharusnya semua departemen di dalam tubuh Polri terlibat dalam tim manajemen krisis termasuk pula jajaran pimpinan di tubuh Polri dan diketuai langsung oleh Kapolri,” sambung Pia.

Alumni Doktor di The University of Newcastle ini menyayangkan penanganan krisis pertama yang dilakukan dengan kebohongan karena Polri sangat gegabah dan tidak melakukan check and recheck secara teliti validitas informasi yang disampaikan oleh FS.

“Polri terlalu percaya begitu saja pada FS dan telah bertindak subyektif karena adanya pengaruh kuasa seorang Kadivpropam yang nota bene adalah polisinya Polisi. Dari apa yang terjadi, tim manajemen krisis Polri kecolongan dan kini justru menggunakan alasan bahwa Kapolri dan seluruh staf menjadi korban kebohongan skenario FS,” kata Pia.

Berkaca dengan yang sudah terjadi, Pia berharap Polri mampu mengelola krisis ini dengan sangat serius karena kepercayaan publik yang menjadi taruhannya.

“Polri harus mengelola krisis ini dengan sangat serius karena kepercayaan publik yang menjadi taruhannya. Kalau Polri tidak transparant, lambat, dan tidak profesional dalam menangani krisis ini, maka masyarakat akan semakin sulit mempercayai Polri dan semakin benci pada Polri. Kalau sudah seperti ini, masyarakat tidak akan patuh pada hukum, keadilan jalanan akan merebak, dan akhir ini negara ini menjadi sebuah negara yang gagal,” imbuhnya.

Dia juga menyarankan Polri tidak hanya fokus pada informasi yang disampaikan, tapi juga tindakan nyata untuk mengatasi krisis karena akan menunjukkan bagaimana krisis ditangani, diselesaikan, dan diantisipasi dampaknya terutama dampak pada reputasi Polri.

Dewan Penasehat PERHUMAS se – Malang Raya ini mengingatkan jika krisis bisa menimbulkan kehancuran organisasi namun krisis juga memberikan kesempatan (opportunity) kepada organisasi.

“Reputasi Polri yang mulai membaik memang hancur karena kasus ini. Tapi Polri punya sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan yaitu pembenahan menyeluruh di tubuh Polri secara besar-besaran,” tutur Pia.

Pia mengungkapkan merebut kepercayaan publik sangat sulit dan membutuh waktu yang sangat lama, biaya yang sangat besar, usaha yang konsisten serta kemauan politik yang tinggi dari seluruh elemen di tubuh Polri.

“Polri ini institusi yang kadang dibenci tapi juga dicintai oleh masyarakat. Dicintai saat mereka mampu menegakkan hukum tanpa tebang pilih, melindungi masyarakat dan melayani masyarakat dengan baik. Dan negeri ini masih butuh Polri,” pungkasnya.(had)

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Relawan Malang Berangkat Mandiri, Salurkan Bantuan Terdampak Bencana NTT

30 September 2026 - 13:59 WIB

Kronologi Penangkapan Anggota DPRD Kabupaten Malang yang Diduga Terlibat Penyalahgunaan Narkoba di Surabaya

30 September 2026 - 13:28 WIB

Gerindra Pastikan Tak Ada Toleransi Kader yang Terbukti Melawan Hukum

30 September 2026 - 13:02 WIB

Kekeringan Meluas, BPBD Kabupaten Malang Salurkan 3,1 Juta Liter Air Bersih ke 13 Desa

30 September 2026 - 12:57 WIB

Bedah Buku di FH UB Bahas Politik Hukum Pembentukan Perundang-undangan yang Dikehendaki Publik

30 September 2026 - 12:18 WIB

Mantan Kepsek SMPN 18 Malang Minta Maaf, Kuasa Hukum Berharap Restorative Justice

30 September 2026 - 09:47 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !